Jumat, 13 Februari 2009

Opini Pribadi Saya Tentang GIGS Jakarta

Tulisan ini lagi-lagi saya buat karena iseng(iseng tapi nulis terus)haha..sekarang mungkin banyak pro kontra tentang Gigs(acara band berskala kecil biasanya di cafe atau restoran kecil) yang amat mewabah di jakarta, banyakk yang mulai muak dan tidak setuju karena frekuensinya yang sudah terlalu sering sehingga menjurus kearah membosankan , atau pengorganisasian acara yang buruk,ataupun sebab yang lainnya.Namun ada pula teman2 yang setuju karena di acara gigs ini lah scene indie di jakarta dapat berjalan terus.

Secara pribadi, saya juga mengalami main-main di gigs di seputaran jakarta akhir-akhir ini.Mungkin kalau dibilang bulan januari kemarin hampir setiap minggu saya bermain di gigs2 yang tersebar(hanya di beberapa tempat) di Jakarta, dan tanggapan saya ialah, acara-acara tersebut adalah sama saja pada dasarnya! ya, sama saja, walaupun namanya berbeda-beda, ambillah contoh ulang tahun salah satu band baru terbentuk di jakarta format acaranya sama seperti acara komunitas yang dibikin seminggu sebelumnya, nothing different, dari mulai band yang main, waktu acara, format acara, semuanya.Padahal saya berharap sesuatu yang lebih, minimal ada cara potong kue kek atau apa gitu, eh sama aja taunya.haha


Mungkin banyak temen-temen di scene indie jakarta sekarang melakukan serangkaian aksi protes dengan gigs yang sudah sangat menjamur dan mulai berjalan tanpa arah yang jelas, malah ada yang sampai bilang "Kalau ga berskill mendingan ngga usah main deh"..wtf?? siapa yang berani jamin orang ga berskill ga bisa menghibur? Kita mungkin bisa membandingkan band seperti minor threat, apa sih istimewanya skill mereka bila dibandingkan dengan level42, atau Emerson lake and palmer atau Incognito? ya tapi Minor Threat masih punya basis masa dan fans tersendiri yang loyal,karena para fans itu suka dengan musik Minor Threat, simple saja.Sebenarrnya masalah serius yang dihadapi sekarang BUKANLAH persoalan, band apa yang main, atau seberapa berskill kah yang main, atau seberapa hebatnya sebuah band mengatur amplifier, atau seberapa sok ngartisnya si band yang tampil.Namun masalah yang sebenarnya saya tangkap ialah..seberapa terampil dan cerdasnya EO dan Panitia yang membikin suatu acara itu bekerja.

Sebelumnya saya minta maaf kalau tulisan saya ini agak ekstrim, namun saya sesungguhnya inngin yang terbaik untuk scene kota kta tercinta ini. Ya sekali lagi saya tekankan, seberapa pandainya EO mengatur acara yang meraka buat agar berjalan dengan baik. Banyak acara yang saya lihat sekarang yang kurang lebih saya bisa menarik benag merahnya,yaitu kinerja panitia acak2an, tidak professional, membiarkan rundown ngaret hingga dua jam lebih, menyewa sound system kacangan, memuat terlalu banyak band kolektif sehingga muatan acara menurun, dan taktik mereka yang"memeras" duit dari para band2 kolektif. Ya itulah sebenarnya masalah yang saya tangkap.

Saya lihat teman2 juga banyak yang membandingkan gigs tahun ini dibandungkan dengan gigs jakarta medio 2000-2007, mereka menyebut ditahun itu gigs terlihat lebih asik dan lebih seru untuk dikunjungi..ya dan mereka bilang juga bhwa band yang main lebih berskil katanya.Saya pikir ngga juga sih, banyak jug band2 jaman itu yang skillnya pas2an(saya juga sempat mengikuti beberapa gigs indie di jakrta medio 2005-2008), namun perlu dicatat, seberapa terampilnya EO jaman dulu dalam mengorganisir acara, mereka membuat suatu acara dengan perencanaan matang. ambillah contoh Goodfest, atau Headbangers in Hell, launching album Friends Of Mine, yang saya cermati, acara-acara tesebut memiliki bobot lebih karena temanya jelas, Panitia bekerja sangat professional, mereka menjuunjung tinggi rundown, sehingga mereka tidak akan menarik band terlalu banyak, mereka malkukan pemilihan dulu terhadap band yang akan main, karena mereka memikirkan aspek kenyamanan penonton,dan juga band-band yang main, waktu2 tak terduga seperti gagal check sound atau apalah, ya mereka sangat memikirkannya, sehingga tidak mau ambil resiko. Itulah sebenarnya yang membuat gigs di jaman itu selalu asik untuk dinikmati.

Sebenarnya menurut saya sah-sah aja sih menarik band banyak2 dalam suatu acara, ya sebutlah Soundrenaline atau Woodstock, berapa ratus band yang tampil distu? Ya tapi itu semua tentu sudah dipersiapkan dengan matang, kalaupun dalam suatu gigs akan ditampilkan banyak band(lebih dari duapuluh) ya justru harusnya kinerja panitia malah dituntut lebih berat dan harus bisa lebih professonal (Ya, kata "PRofessional" adalah kata yang sering diucapkan panitia gigs apabila ada masalah dengan band yang akan tampil seperti telat datang, seharusnya panitia prepare dari awal dong tentang segala macam kemungkinan seperti telat dll, harusnya dibuat sanksi atau perjanjian apalah untuk si band nya).

Solusi saya untuk masalah ini sebernanya sudah sangat jelas sekali dibahas di paragraf atas, tinggal teman2 menarik kesimpulan sendiri.Sudah saatnya kita sebagai orang2 yang selalu mengikuti dan menikmati perkembangan indie scene di jakarta berbenah diri, terus menjadi lebih baik dan tetap support satu sama lain, semoga saya harap kualitas acara gigs kedepannya akan selalu menjadi lebih baik dan baik lagi.

dengan penuh hormat,
Aga

0 komentar:

Posting Komentar