Minggu, 22 Februari 2009

Academy Award yang (masih) Klise

Sudah lama saya ingin mencoba jadi movie reviewer,Mungkin review mengenai ajang penghargaan Academy Award bisa menjadi start yang bagus,.Berikutnya,saya mungkin akan menuliskan beberapa review film disini.
Academy Award yang ke-81 tadi malam telah digelar di Kodak Theatre.Hampir tak ada kejutan.Slumdog Millionaire memenangi 8 Oscar dari 10 nominasi.


Sangat sesuai perkiraan saya,Mengingat klise-klise Academy Award yang selalu berulang dari tahun ke tahun.Mengenai itu,saya akan berusaha menjelaskannya pada tulisan saya kali ini.

Slumdog Millionaire mengalahkan film-film seperti The Reader,The Curious Case Of Benjamin Button,Changeling,dan lain-lain.Mengapa kemenangan itu saya bilang klise? Bukankah Slumdog memang film yang brilian? Saya tidak menyangkal kejeniusan Slumdog garapan Danny Boyle ini.Tetapi kalau dibilang sebagai film yang terbaik,saya tidak sependapat.

Slumdog mengisahkan mengenai anak gelandangan di India yang berhasil mengikuti acara semacam Who Wants To Be A Millonaire? Di sana.Secara mengejutkan,Ia berhasil menjawab segala pertanyaan sampai ke pertanyaan terakhir,Tetapi sebelum menjawab pertanyaan terakhir,Ia dibekuk oleh polisi yang dating atas permintaan penyelenggara (karena disangka main curang,masa gelandangan jadi jenius gitu?)).Ia lalu diinterogasi oleh kepolisian setempat,saat itulah ia menjelaskan bahwa segala jawaban dari pertanyaan kuis itu ia ketahui selama ia menggelandang bertahun-tahun.Dari segala pengalamannya,dan pertemuannya dengan berbagai orang.

Lantas,kenapa saya mempermasalahkan film dengan cerita unik ini? Klise apa yang saya maksud diatas? Yang saja mau tekankan pada tulisan ini adalah kecenderungan (sering sekali) Academy Award untuk memenangkan film-film yang memiliki feel-good tone (optimis dan penuh harapan).yang bombastis.ceritanya WOW!.Film-film dengan skala besar.Dan kecenderungannya untuk tidak memilih film-film dengan isu controversial,Gelap,real,artsy,dan sederhana.

“(Academy Award) its just a sympathy vote…..” (taken from Trainspotting,film Danny Boyle tahun 1996,sekarang malah Danny Boyle yang menang Oscar tadi malam,ironis)

Seperti yang dikatakan quote diatas.Kecenderungan Academy Award hanya menjadi Sympathy Vote semakin menjadi-jadi dari tahun ke tahun.contoh :

1. Forrest Gump (tentang orang idiot yang jadi sukses,kaya raya) mengalahkan Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino yang stylish,Revolusioner,yang bahkan telah
memenangkan Palme D’or dari Cannes film festival.

2. Shakespeare In Love (ketauan dari judulnya ini tentang apa) mengalahkan Saving Private Ryan yang real,brutal,dan memiliki sad-ending yang ambigu.

3. Film-film Stanley Kubrick yang rumit,Art-oriented,penuh simbolisasi (contoh: 2001:a Space Odyssey,The Shining) terbukti mayoritas masuk daftar 100 film terbaik dari American Film Institute,tetapi tak pernah memenangkan Oscar sekalipun.

4. Dances With Wolves-nya Kevin Costner (mengenai kisah Kapten era perang sipil yang kolosal) mengalahkan Goodfellas-nya Mertin Scorsese yang ironis,sadis,memiliki dark humor yang unik

5. Crash (tentang rasialisme) mengalahkan Brokeback Mountain yang mengangkat isu ‘sensitive’(pasti tau kan? Hehe)

Masih banyak contoh lainnya,seperti kegagalan Taxi Driver-nya Scorsese pada Academy Award tahun 1977 (menandai era bermulanya klise2 itu),Apocalypse Now-nya Francis Ford Coppola yang sama sekali ga dilirik,Dan lain-lain.Tetapi saya hanya memberikan sedikit contoh diatas hanya sebagai gambaran.Betapa suatu ajang yang mayoritas orang pikir sebagai ajang nomor wahid,ternyata dikuasai klise-klise seperti ini.

Mari kita lihat lagi Academy Award tadi malam,Slumdog yang memiliki feel-good tone (semua penonton tahu bahwa pada akhirnya,si protagonist akan baik-baik saja) mengalahkan Changeling yang memiliki kontroversi cerita (cari tau sendiri apa ceritanya,males jelasin lagi),Benjamn Button yang ceritanya agak absurd (kalo gue bilang sih brilian).Doubt tentang pencabulan jemaat gereja oleh pastor bejat,Milk tentang politikus gay yang menuntut persamaan hak kaum gay (lalu akhirnya mati dibunuh),The Reader tentang perselingkuhan anak 15 tahun-an dengan penjaga gerbang kamp konsentrasi era Nazi.Dan terakhir Changeling mengenai ibu yang mendapati anaknya yang kembali sejak diculik,ternyata bukan anaknya.dan lalu membawanya kepada serangkaian konspirasi pemerintah.

Sudah lihat perbedaan cerita dan tone dari nominasi-nominasi itu? Secara teknis,memang slumdog layak keluar sebagai pemenang.Tetapi bukankah ini akan mendiskreditkan film-film yang budgetnya tidak sebesar slumdog dan bergantung pada kekuatan cerita dan tema ? Bagaimana dengan film indie keren Darren Arronofsky,The Wrestler (masuk nominasi best film aja engga)? yang budgetnya sangat kecil tetapi dengan personal dan menyentuh menceritakan tentang pegulat tua kesepian yang berkeinginan untuk meninggal di ring,lalu menjalin hubungan dengan stripper sepuh? Atau The Reader yang mengenai cinta terlarang?.Tema yang jarang sekali diangkat. tema sederhana tentang kemanusiaan seperti itu memang telah lama luput dari pandangan Academy Award ,yang mulai sering beralih ke tema-tema berbau ‘dongeng’ yang jauh dari konteks realita tetapi sempurna secara teknis.

Kecenderungan Academy Award yang lebih memihak terhadap film-film ‘tear-jerking’ memang telah disorot banyak pihak sejak lama,banyak yang bertanya Apakah ini karena para juri Academy Award yang (maaf) sudah sepuh? Sehingga terkadang nilai-nilai/norma baku mereka yang kolot membuat mereka menolak mendalami intisari film-film bertema controversial (the reader,dll),hingga akhirnya mempengaruhi objektifitas penilaian?

Saya sendiri sempat menangkap preseden baik ketika film-film ‘gelap’ seperti The Departed dan No Country For Old Men menang pada Academy Award yang sudah-sudah,Tetapi melihat result tahun ini.Kekhawatiran saya muncul lagi.Kekhawatiran bahwa lama kelamaan Academy Award kehilangan kewibawaan dan keobjektifannya (puncak keemasannya era 1950an-1970an).Berubah menjadi sekedar penghargaan komersialitas hollywood belaka.sebagai sarana penarik selera pasar belaka.Dengan senantiasa memenangkan film-film yang ‘mudah dicerna’.Oscar pun turun pangkat jadi alat iklan.karisma penghargaan hilang total.Tak lagi dianggap sebagai panutan.Padahal panutan (kiblat) apa lagi bagi film lokal kita kalau bukan dari Academy Award?

Tapi,sudahlah.Toh banyak juga poin-poin menarik dari Oscar kali ini.Lagipula ngapain sih memperhatikan pengamatan amatir seperti saya yang tinggal terima jadi film? hehe,Mickey Rourke gagal dapat best actor (gue ga terima banget).Kate Winslet menang best actress (setuju).Kekocakan Hugh Jackman yang jadi MC.Heath Ledger menang best supporting actor (totally predictable)disambut penonton dengan standing ovation yang mengharukan.Dan Slumdog mendapatkan 8 Oscar atas nama pasar.Lalu sembari mengetik tulisan ini,saya berharap sudut pandang juri Academy Award ditahun-tahun kedepan bisa berganti.

Salut,


MIRZA FAHMI yang pernah beranggapan kalau kemenangan besar Lord Of The Ring: Return Of The King adalah Aib (dengan ‘a’ kapital) memalukan buat setiap juri film.Sekalian aja menangin Lion King!






0 komentar:

Posting Komentar