Selasa, 17 Februari 2009

Emansipasi

"Woman was created from the ribs of a man
Not from his head to be above him
Nor from his feet to be walk upon him
But from his side to be equal
Near to his arm to be protected
and close to his heart to be loved
"

Oke pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan mendiskusikan masalah yang kadang hangat kadang basi kayak makanan di warteg dekat kampus saya,haha.. Yaitu masalah emansipasi, ya anda benar, masalah yang sepertinya tidak akan pernah habis dibahas dan dapat menyebabkan debat panas yang berkepanjangan, terutama apabila yang memperdebatkan berbeda kelamin..Tapi tenang, dalam tulisan ini saya hanya akan membahas masalah emansipasi secara santai, dengan diselingi oleh joke-joke segar khas masyarakat jelata..Jadi saya harap anda tidak tersinggung nantinya oleh 'statement' nyeleneh yang saya lontarkan, itukan hanya gurauan,hehe..Namun saya harap, dari gurauan saya ini dapat dijadikan bahan renungan dan pertimbangan dalam memandang masalah ini.

Bicara tentang emansipasi tentu akan lekat dengan yang namanya emansipasi wanita. Seolah dua hal tersebut adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu, saya akan menilik dari arti kata emansipasi itu sendiri terlebih dahulu, baru kemudian akan saya bahas masalah emansipasi wanita

Pada hakikatnya, emansipasi adalah pembebasan, jadi bukan 'persamaan' seperti yang sering orang artikan selama ini. Walaupun, arti ini bisa juga digunakan pada konteks tertentu. Emansipasi adalah pembebasan dari diskriminasi, seperti emansipasi ras yang terjadi pada Keturunan Afrika di Amerika, yang berarti pembebasan mereka dari diskriminasi dimana mereka dihalangi hak-haknya oleh keadaan.

Sekarang kita kembali ke emansipasi wanita. Yang menjadi pertanyaan utama adalah, bentuk diskriminasi yang bagaimana sih yang sebenernya harus dibebaskan dari wanita? Apakah hak-hak perempuan harus disamakan secara membabibuta?

Ternyata sudut pandang kaum feminisme radikal, yang dipakai oleh kebanyakan orang sekarang, bahwa wanita dan pria harus disamakan hak-haknya belum tentu adil.
Pertama, kenapa hak harus disamakan kalau memang secara dasar kebutuhan pria dan wanita berbeda?
Kedua, perbedaan hak dan kewajiban tidak selamanya tidak adil.
Dan ketiga, saya merujuk dari Al-Qur'an , maaf bagi yang non-Muslim, bahwa pria dan wanita itu berbeda hak dan kewajiban, seperti termaktub di surat An-nisa ayat 32 "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"..

Selain itu, dua orang psikolog modern yang terkenal di Amerika, Alan & Barbara Pease, yang menulis buku best seller dunia "why men can only do one thing at a time and women can't stop talking" berkata dalam bukunya bahwa pria dan wanita berbeda. Dan menyamakan hak-haknya malah akan menghancurkan tatanan masyarakat.

Oke, bagi yang wanita jangan panas dulu dan keburu memberi komentar pada artikel ini,hehe..Tahan dulu, karena saya akan menjelaskan secara lebih terperinci mengenai paparan diatas.

Jadi, perbedaan hak dan kewajiban itu harus ada dan tidak bisa ditiadakan. Mengapa? Karena seperti yang saya bilang tadi, kesamaan belum tentu adil, dan ketidaksamaan belum tentu tidak adil. Karena keadilan bukan berarti kesamaan, tetapi menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya..

Mau contoh? Oke. Hak cuti hamil hanya dimiliki wanita, wajib militer hanya dimiliki kaum pria, wanita (dan anak-anak) selalu didahulukan dalam suatu usaha penyelamatan, yang wajib mencari nafkah adalah pria (disini saya bilang WAJIB, jadi bila ada wanita yang mencari nafkah malah lebih baik, karena dia melakukanya tanpa didasari kewajiban. Dan uang yang ia peroleh pun boleh dipergunakan sendiri tanpa campurtangan suami).. Tidak adilkah itu? tentu saya rasa hal-hal diatas adalah suatu kewajaran yang adil. Dimana secara fisik dan batin pria dan wanita berbeda, jadi perbedaan-perbedan yang positif haruslah ada. Justru dengan perbedaan itulah kita saling melengkapi dan saling mengisi satu sama lain. Seperti contoh, Pria membuat keputusan dengan lebih memberatkan logika, wanita menasihati dan menyempurnakan keputusan itu dengan pertimbangan hati nurani. Pria membangun dan melindungi, wanita menghias dan merawat. Dan lain sebagainya

Lalu apa yang harus dibebaskan atau diemansipasikan dong kalau begitu? yang perlu dibebaskan adalah persamaan dalam 'pemenuhan' hak-hak, bukan hak-haknya yang disamakan. Selama ini hak-hak wanita disepelekan, dinomorduakan. Banyak para patriarkis (penganut pandangan maskulinisme) menyalahartikan kelemahan wanita dengan menjadikan wanita sebagai kaum yang bisa dieksploitasi kelemahanya. Sehingga mereka, kaum patriarkis, hanya melihat kewajiban-kewajiban wanita saja yang harus dipenuhi oleh wanita, tidak dengan haknya yang sebenarnya juga harus dipenuhi kepada wanita (istilahnya mau ngambil enaknya aja dari perbedaan yang ada)

Dengan memandang wanita sebagai manusia kelas dua itulah mereka melakukan ketidakadilan. Seperti melarang wanita berkarir, disuruh ngurusin rumah, tetapi dilain pihak tidak dapat memberi nafkah yang memadai, jadi sasaran kekesalan diri dengan melakukan KDRT(mending jadi PRT sekalian dah, ngurus rumah digaji, hehe). Disini saya tidak bilang bahwa pandangan kalau wanita lebih baik tidak berkarir itu salah, selama wanita masih diberi ruang gerak untuk melakukan apa yang ia suka sepanjang tidak meninggalkan peranya sebagai isteri atau ibu. Dan juga selama nafkah masih terpenuhi (yang ternyata baru saya ketahui dari guru agama saya, bahwa nafkah itu bukan uang buat makan dan keperluan sehari-hari, tetapi uang saku khusus diluar uang makan dan keperluan sehari-hari yang harus diberikan oleh kepala keluarga kepada istri untuk digunakan sesuai kehendak istri. Jadi benar-benar uang 'saku') sah-sah saja apabila seorang pria menyarankan kepada wanita untuk tidak berkarir.

Pasti kita semua tahu quote "dibalik laki-laki yang hebat, ada wanita yang hebat", bukan "dibalik wanita yang hebat ada pria yang hebat"..nah disinilah peran wanita yang sebenarnya, peran yang sangat vital sesungguhnya. Karena setiap pria yang hebat, selalu ada ibu yang mendidiknya dengan kasih sayang, dan juga istri yang mengarahkan.

Selain itu, seperti yang kita lihat, banyak perubahan-perubahan di dunia ini tak lepas dari peran wanita yang sangat besar. Kita tahu Siti Khadijah, Bunda Maria (atau Siti Maryam), Joan Arc, Cut Nyak Dien, Ibu Fatmawati Soekarno, Ibu Tien Soeharto, Ratu Elizabeth, Corazon Aquino,Bunda Theresia , Marie Curie, dan masih banyak lagi wanita hebat lainya. Yang menunjukan bahwa sejarah mencatat wanita tidak kalah dengan pria..

Jadi sudah saatnya kita menelaah secara lebih mendalam, tentang hak-hak dan kewajiban masing-masing, serta keadilan dalam pemenuhanya. Karena wanita bukan hanya sekedar pelengkap bagi pria, dan begitu pula sebaliknya. Tetapi pria dan wanita adalah dua induvidu sejajar yang saling melengkapi. Berbeda dalam banyak hal, namun tetap sederajat. Dimana tidak ada yang lebih baik, ataupun lebih buruk. Seperti 'yin' dan 'yang' yang saling melengkapi untuk mengisi enerji kehidupan ini. Agar berjalan secara harmonis dan berkesinambungan

Best regards

1 komentar:

  1. Lucky 15 Casino | MapyRO
    Lucky 15 Casino. 경상남도 출장마사지 3131 아산 출장안마 S Las Vegas 고양 출장샵 Blvd. Las Vegas, NV 89109. The Strip. Directions · (702) 목포 출장안마 770-8000. 서울특별 출장안마 Call Now · More Info. Hours, Accepts Credit Cards, Accepts  Rating: 2.7 · ‎1,271 votes · ‎Price range: $

    BalasHapus