Terkadang,saya banyak mendengar masukan tentang aktivitas tulis-menulis saya selama beberapa minggu terakhir ini.yah banyak yang bilang "gila..masih bocah nulisnya ngeri begitu!!!"..."yah masih bocah sok tau"...."wah parah tulisan lo,eling,wahhhh mau kiamat nih!!mulai banyak orang-orang kayak lo soalnya!!!"..dan masih banyak lagi 'nasihat' sejenis.
Memang saya sering sekali membahas topik-topik 'tak terjamah' dalam tulisan-tulisan saya.Beberapa waktu lalu,saya sempat ikut debat mengenai eksistensi akhirat di salah satu notes teman.Saya menanyakan perihal Tuhan secara nalar,akhirat secara nalar.Pertanyaan-pertanyaan yang mendatangkan 'cemoohan' seperti "astagfirullah,liat quran ja,lu sesat banget,tanda-tanda kiamat nih" dan sejenisnya.
Topik tulisan saya kali ini bukan ingin membahas kembali topik debat akhirat seperti diatas (i dont wanna get involved in the brutal debate again..heheh).Melainkan sedikitnya menjelaskan motivasi saya untuk menanyakan hal-hal yang 'tak boleh dipertanyakan' seperti diatas.
Mungkin anda pernah lihat di pusat perbelanjaan,Anak-anak balita yang di tiap pemberhentian ibunya mau ambil barang pasti selalu tanya-tanya "ma..kok ikan lele berkumis? apakah ia mengikuti sunnah rasul?" atau "ma,kepiting itu seorang junkies ya? mulutnya berbusa! " dan lain-lain.poin saya adalah mereka memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa.Bertanya tentang segala hal kepada setiap orang,walaupun pada beberapa kesempatan mereka dibohongi apabila pertanyaannya kelewat "ga balita".tetapi itulah keunggulan mereka sesungguhnya,Bisa dibilang setengah pengetahuan kita sekarang terhadap dunia,didapatkan ketika kita masih balita yang selalu bertanya.
Tetapi,ketika kita dewasa,pertanyaan entah kenapa semakin jarang kita keluarkan.Entah karena kita semakin terbiasa dengan pengajaran satu arah di sekolah (duduk rapih,ga boleh motong guru,dll).Atau karena keingintahuan kita yang semakin pudar kemudian hilang sama sekali? Terutama pertanyaan tabu macam "apakah guna kita hidup di dunia" dan seterusnya.Kita seakan menerima segala kebenaran begitu saja.Dari sumber-sumber yang kata kebanyakan orang 'sahih' dan 'tak patut dipertanyakan'.budaya sistem "jangan tanya,tapi lakukan!" pun lalu kita telan mentah-mentah.Kita menjalani itu semua dengan patuh tanpa mengetahui makna-makna keharusan kita melakukan itu.
Padahal,kebenaran yang sudah dicap "absolut" dan "haram dipertanyakan" seperti itu justru malah menunjukkan lemahnya fondasi kebenaran itu sendiri,Tetapi,akibat guru yang mengajar satu arah,Orang tua yang tidak suka berdiskusi dengan anknya secara egaliter,serta lingkungan yang juga "patuh 100 %".Mengakibatkan kita pun menelan mentah klaim yang ada,Sampai akhirnya diujung hari tua kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak mengetahui hidup yang dijalani berpuluh-puluh tahun itu bermakna apa.
Saya pun berusaha menerapkan kembali keingintahuan saya semasa balita di kehidupan saya sekarang dan seterusnya."ah masih ingusan aja..ga tau apa-apa." kata orang.Biarlah,daripada saya harus menyadari ketika renta nanti,Menyesali bahwa saya telah menyia-nyiakan hidup yang masih buram maknanya.Bukankah ini adalah pertanyaan semua orang? tak peduli umurnya.
Saya lalu berusaha menanyakan segalanya,Mengajak semua klaim yang ada untuk diadu dengan argumen saya,Semata-mata demi memperoleh kebenaran agung yang (saya yakin) dikehendaki semua orang."i think therefore i am" kata Descartes,"saya berpikir ,maka saya ada" dengan bertanya,maka kita sudah menunjukkan definisi eksistensi kita sebagai manusia yang menginjak dunia yang penuh dengan tanda tanya dan misteri ini.Dengan bertanya-tanya,saya sebenarnya hanya berusaha memaknai hidup saya yang singkat ini.By being a curious boy,till the day i die.
"Hidup yang tak pernah dipertanyakan,adlah kehidupan yang tak layak diteruskan.."
-Socrates
Stay curious,
salut,
MIRZA FAHMI
Rabu, 18 Februari 2009
Curious Boy
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar