Jumat, 20 Februari 2009

Gemar Berbahasa

"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia"




Yak jumpa lagi dengan saya, setelah seminggu ini saya disibukan oleh kegiatan perkuliahan dan tugas yang menumpuk sehingga tidak sempat untuk menulis sebuah 'artikel' pada blog ini. Akhirnya saya memiliki waktu senggang di akhir pekan ini untuk membuat sebuah "catatan" akhir pekan (hehe..) yang sebenarnya dari dulu ingin saya buat, namun urung karena terlalu banyak topik yang ingin saya angkat dalam tulisan-tulisan saya..

Oke, pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang masalah yang sangat mendasar dalam kehidupan kita dalam berbangsa dan bertanah air, yaitu tentang gemar berbahasa Indonesia. Ya! Anda benar! Topik yang mungkin sering sekali diangkat oleh guru-guru kita semasa kita masih duduk di bangku sekolah dulu, tetapi sering pula kita abaikan (mungkin karena terlalu sering dibahas secara teoritis kali ya?). Namun dalam bahasan ini, seperti biasa, saya tidak akan membahas permasalahan secara mendalam, penuh referensi, atau didasari oleh teori yang kuat. Namun hanya dilandasi sebuah pemikiran simpel, dipandang menurut fakta sehari-hari, disertai dengan gagasan sederhana untuk mencintai dan bangga dengan salah satu identitas pemersatu bangsa kita, yaitu bahasa Indonesia

Dewasa ini, saya melihat semakin maraknya orang meninggalkan bahasa Indonesia sebagai lingua franca atau bahasa penghubung dalam kehidupan sehari-hari. Entah karena malu atau tidak terbiasa, kita malah lebih sering memilih menggunakan bahasa asing dalam penggunaan sehari-hari. Seolah bangga akan hilangnya identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

Memang, tampaknya dari dulu bangsa kita sangat gemar sekali menggunakan bangsa asing sebagai alat komunikasi. Tentunya bukan bahasa asing secara utuh yang saya maksud disini, tetapi hanya sebatas menggunakan istilah-istilah dan kosakata asing yang sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Di awal hingga pertengahan abad 20, dimana araoma kolonial sangat kental tercium pada budaya kita. Para ningrat atau yang merasa ningrat, orang-orang dari strata atas dan para isteri pegawai pemerintahan gemar sekali menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Belanda yang dicampuradukan dengan bahasa Indonesia untuk menunjukan bahwa mereka berasal dari golongan atas. Mereka yang pada saat itu menguasai bahasa Belanda dianggap orang yang modern, terpelajar, atau ningrat.

Sekarang, ketika pengaruh kolonialisme telah memudar, anggapan bahwa bahasa Belanda menunjukan identitas "ningrat" sesorang sudah tidak berlaku lagi. Bahkan anggapan itu cenderung bergeser. Sekarang orang malah menganggap penggunaan istilah-istilah bahasa Belanda yang dicampuradukan dengan bahasa Indonesia itu kuno, ketinggalan jaman, dan hanya dipakai oleh oma-oma (hehe..)

Yang sedang marak sekarang adalah menggunakan istilah dan memberi nama menggunakan istilah dan kosa kata dalam bahasa inggris.

Sebagai contoh, saya ingin bertanya "pernahkah anda pergi berbelanja ke Alun-alun Cilandak?" atau "pernahkah sebuah pameran digelar di Balai Sidang Jakarta?". Tentu tidak pernah, karena kita sekarang pergi "shopping" ke "alun-alun Cilandak" yang diberi nama mentereng "Cilandak Town Square", dan "Balai Sidang Jakarta" punya nama beken "Jakarta Convention Center", dimana sering diadakan "expo" dan "eksebisi".

Tentu orang-orang akan berdalih "itukan bahasa marketing, biar menarik". Dan menganggap penggunaan nama-nama dengan bahasa Indonesia untuk ikonisasi akan terkesan kampungan, lucu, ndeso, dan lain sebagainya. Jadilah kita menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Citos, Setos, Detos, dan "tos-tos" lainya. WTC, ITC, BTC, dan "TC-TC" lainya.

Sekarang saya ingin bertanya, dimana letak "ndeso"nya kosa kata bahasa Indonesia? Apakah karena kita sebenarnya malu mengakui bahwa kita orang Indonesia, sehingga kita ingin sekali mencoba untuk menghilangkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia dengan meninggalkan bahasa indonesia?

Tentu bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, dan saya di tulisan ini tidak menyalahkan penggunaanya bila dipakai dalam pergaulan internasional. Tapi ini? Yang punya acara orang Indonesia, yang dateng juga orang Indonesia, gedungnya di Indonesia, tokonya punya orang indonesia, yang belanja orang indonesia, ngomong sama orang indonesia, tapi kenapa pakai istilah dan kosakata asing?

Sebagai kontras, masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang modern. Negaranya memnguasai kemajuan teknologi. Perekonomianya stabil. Tetapi bangsa Jepang merupakan bangsa yang sangat bangga dengan bahasanya. Hampir tidak ditemukan produk dan perusahaan dari jepang, baik itu restoran, pusat perbelanjaan, merek mobil, dan lainlain, yang menggunakan bahasa Inggris. Malah hampir sulit menemukan tulisan latin di negara tersebut. Modul-modul, buku-buku dan istilah-istilah ilmu pengetahuan hampir semuanya menggunakan bahasa Jepang. Dan lihat, apakah bangsa jepang merupakan bangsa yang tertinggal dan kampungan?

Perlu dicatat, bahasa kita, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang modern. Dimana ini dapat dilihat dari dapat digunakanya bahasa Indonesia dalam lingkup pendidikan. Lalu mengapa kita malu menggunakan bahasa sendiri? Menulis "Sokarno-Hatta Airport" gede-gede diatas tulisan "Bandara Soekarno-Hatta". Ini bandara internasional milik Indonesia bung! Seharusnya yang ditulis besar-besar adalah bahasa Indonesia, lalu baru artinya dalam bahasa Inggris ditulis dibawahnya agar wisatawan asing mengerti. Dimana identitas kita? Masa bahasa orang didahulukan di negeri sendiri daripada bahasa sendiri. Jangan-jangan nanti Monas lebih dikenal sebagai Namon lagi (National Monument, hehe)

Sudah saatnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Karena bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat sakral sebagai kebanggaan dan identitas bangsa, selain sebagai bahasa pemersatu bangsa tentunya. Mungkin akan terasa rancu pada awalnya, bahkan terdengar menggelikan (seperti ketika memadankan kata "mouse" komputer dengan kata "tetikus"). Tetapi seiring waktu, toh kita akan terbiasa (seperti menggunakan kata rudal sebagai pengganti kata "missile" dan mengindonesiakan singkatan ATM.. sumpah! Teman-teman saya masih banyak yang kaget ketika tahu bahwa rudal itu singkatan dari peluRU kenDALi, bukan bahasa Inggris..dan ATM dapat dipanjangkan menjadi Anjungan Tunai Mandiri, bukan Automatic Teller Machine..hehe)

Salam hangat
Gani, seseorang yang berharap suatu saat bisa berbelanja di "Toserba Blok M" atau di "Kota Senayan"

4 komentar:

  1. wuih mantap tulisannya ia ia bener ngapain ya pake bahasa asing mending bahasa sendiri
    Maju Bahasaku!!!

    BalasHapus
  2. Tulisan yang benar-benar mengundang

    BalasHapus
  3. dasar fulgoso! xp

    boleh2..
    jd ceritanya skrg uda gak mau pake bahasa negara lo lg?
    bahasa mexico

    :D

    BalasHapus