Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2009

Time For A Change,Time To Move On,Pure Saturday Concert Review

Sebenarnya konser ini sudah lama digelar.Tetapi tidak ada salahnya toh saya membuat review yang kelewat telat ini.Saya hanya ingin sharing sedikit mengenai pengalaman saya menonton konser yang saya anggap luar biasa ini.Maaf kalau ada detail-detail yang terlewat.Maklum udah agak lupa.


Minggu malam,hujan tidak henti-hentinya mengguyur kota Bandung sejak menjelang magrib.Ini tidak menyurutkan niat saya untuk menonton konser tunggal salah satu band paling influensial di kancah Indie scene Indonesia,Pure Saturday.Eksistensi selama hampir 15 tahun menciptakan momentum yang cukup untuk menggelar konser tunggal ini.Dengan tajuk sama dengan album kompilasi Greatest Hits mereka yang dirilis tahun lalu,“Time For A Change,Time To Move On”.Informasi mengenai konser sejak jauh-jauh hari pun memudahkan banyak fans mengantisipasi konser ini.Saya lihat di Facebook,Bahkan ada fans dari Jawa Timur yang bela-belain untuk menonton konser yang cukup bersejarah ini.Sementara saya? saya cukup bersyukur konser ini digelar ketika saya kuliah di Bandung.haha

Konser ini digelar di GSG Itenas.Cukup jauh dari Kost saya yang terletak di bilangan Ciumbuleuit.Dengan naik motor kira-kira makan waktu 15 menit.Jadi,bisa dimaklumi keadaan saya yang agak basah kuyup ketika sampai di Venue.Ketika saya sampai,Venue belum dibuka.Duduk menunggu tanya loket dan penjaga,konser katanya akan dimulai jam 8 malam.Saya pun merokok sebentar,membeli tiket,dan membeli satu kaos Pure Saturday yang cukup jarang saya temui.Tak lama,kira-kira pada jam 19:50 venue dibuka.Para penonton yang sudah bergerombol sejak pukul 19:00,masuk ke dalam venue secara tertib.Begitu menjejakkan kaki ke dalam,segera terlihat set panggung yang cukup minimalis.Cukup sederhana untuk ukuran sebuah konser tunggal.Tinggi panggung kira-kira hanya sekitar setengah meter,dan tak ada barikade sama sekali antara panggung dengan 'kubu' penonton.Mungkin Pure Saturday ingin menciptakan suasana intim dengan para fans dan penonton pada konser malam ini.Kita lihat saja.

Para penonton pun,melihat panggung yang rendah,segera memutuskan untuk lesehan saja di lantai.Dengan lesehan pun saya merasa bisa mengamati sekeliling dengan leluasa.Tampak GSG tidak terisi penuh sehingga udara terasa lega.Nampaknya ini akan menjadi salah satu kunjungan konser saya yang paling nyaman,pikir saya.Diatas panggung terlihat para kru sedang mengeset alat-alat dan sound-system.Para penonton tampak amat antusias.Menurut info,konser kali ini tidak memakai band pembuka.karenanya,tak sampai 20 menit menunggu,Terdengar suara perwakilan E.O dari pengeras suara,menyambut Pure Saturday naik keatas panggung.And the crowd went wild at the same time!.Seiring dengan naiknya para personil,penonton meneriaki nama mereka satu persatu.Sementara para personil lain sibuk menyetel alat-alat mereka,Iyo sang vokalis menyapa sejenak para penonton,berterimakasih atas kedatangannya serta rela berhujan-hujan demi konser yang cukup sederhana ini.

Selepas sambutan singkat,seketika lampu venue dan panggung dimatikan.Penonton yang belum sempat mengucap sepatah kata pun,dibuat tertegun dengan suara Hi-Hat,Udhie sang drummer memainkan notasi drum yang sangat familiar.Banyak penonton yang menebak-nebak.,"oh gue tau nih...pasti.." tebakan yang tepat,sound fuzzy delaying gitar Adhie yang dreamy dengan sigap bersinergi dengan melodi-melodi Arief yang sederhana tetapi cepat menyangkut di telinga.Keduanya segera menimbuhi permainan drum tadi.Crowd langsung menyanyikan verse pertama dari lagu yang mereka sudah hafal benar ini.”I don’t know why we do it like this,oh,so strange….” Koor massal serentak membahana di dalam venue.”Pathetic Waltz” adalah pembuka konser yang sangat cantik.

Terlihat sejak lagu pertama para personil PS sibuk dengan instrument mereka masng-masing dan tidak banyak bergerak.Mungkin mereka memang mengutamakan kualitas permainan pada konser kali ini.ini ditunjang oleh kualitas sound yang sangat prima dan akustik venue yang pas.Terbukti dengan mulusnya permainan mereka pada lagu-lagu berikutnya,seperti “Sajak Melawan Waktu”, “Mereka”,dan “Kaca”.satu hal lagi yang patut diberikan kredit lagi disini adalah permainan lighting apik dan Film-film pendek yang diproyeksikan pada layar putih besar dibelakang para personil.Masing-masing film mewakili tiap lagu yang dimainkan.

Pikiran langsung berusaha mencari jejak 15 tahun kebelakang.Pure Saturday menyeruak bersama Puppen dan Pas Band memulai suatu movement yang bertahan hingga kini.Yaitu Indonesian Indie Culture.Dengan music yang sudah established di luar negeri tetapi masih langka di Indonesia mereka segera menarik perhatian banyak khalayak.Terutama ketika album pertama mereka rilis sebagai bonus majalah Hai pada medio 1994.Album yang memang nampak sangat terinfluens The Cure,Ride,Stone Roses ini segera menempatkan lagu-lagu mereka pada airplay radio di banyak kota.Banyak band-band serupa segera bermunculan.Dan gerakan ini belum berhenti hingga sekarang.Memang suatu konser tunggal sangat pantas sebagai tribute untuk mereka.

Konser ini pun menelurkan banyak momen menarik.salah satunya adalah tampilnya Rekti The S.I.G.I.T sebagai vokalis tamu pada lagu “Nyala”.Kolaborasi yang menarik karena Rekti tampak menyanyikan “nyala” dengan vocal seperti pada lagu-lagu The S.I.G.I.T.Haha.Nyala dengan vocal ala Robert Plant memang Menjadikan lagu ini jadi ‘ugal-ugalan’.Selain itu,selepas kolaborasi,tampak para personil PS bercanda dengan memainkan intro “Whole Lotta Love”nya Led Zeppelin.ajakan jamming dadakan ini segera disambut Rekti.Jadilah satu nomor dari Led Zeppelin tiba-tiba masuk dalam repertoire konser.Penonton pun jadi terbawa gila-gilaan.Sing-along liar,sesuatu yang langka pada konser PS,terjadi di lagu ini.Bahkan salah satu pemuda dibelakan saya,meminta saya mengangkat badan dia,mau body-surf.haha.Sehabis lagu ini,Rekti yang turun panggung disambut tepuk tangan membahana crowd yang kelelahan tetapi terus tertawa mengingat kejadian tadi.

Bukan itu saja kolaborasi yang ada.Agung Burgerkill juga diajak pada satu jeda antar lagu.Dengan menenteng gitar akustik dan sekaleng bir,Ia naik ke panggung dan memainkan secara instrumental medley dari lagu-lagu Pure Saturday.Sungguh mengasyikan melihat Agung yang biasa memainkan nada-nada 'horor' Burgerkill sekarang memainkan nomor-nomor akustik instrumental dengan tingkat presisi yang tinggi.Permainannya ditutup dengan intro dari “Silence”.Intro ini Agung biarkan menggantung seraya ia meninggalkan panggung,tetapi tak lama intro 'terbengkalai'ini segera disambung dengan intro 'Silence' yang sesungguhnya oleh Adhie.Penonton yang sejak awal konser sudah lesehan pun mulai serentak berdiri menyambut lagu ini.Lagu dari album pertama ini adalah salah satu favorit saya.Sound gitar yang noisy dan wah-wah pedal penuh feedback dipadukan,sehingga menimbulkan “keberisikan” yang liar tetapi indah secara bersamaan.Teknik ini mengingatkan pada Ride era “Nowhere”.Dan apabila anda menyempatkan melihat foto-foto konser itu.mungkin anda bisa melihat saya merangsek ke depan panggung kala lagu “Silence” dan bernyanyi asal-asalan sambil mengepalkan tangan ke udara.Hope you’ll never find it,though.aha.

Pertengahan konser,Iyo menyempatkan berterimakasih kepada seluruh keluarga Pure Saturday.Ia pun tak lupa menyapa para ‘penonton’ di pinggir panggung seperti Ucok Homicide dengan khas “Hey Motherfucker! Motherfucker! Respect yo…”dengan logat seperti rapper gangsta bersiap menuju peperangan East Coast-West Coast.Sebuah bentuk candaan terhadap Ucok yang memang telah mencapai status militan di ranah hip-hop bawah tanah.Belum habis tawa penonton,Ia segera menyambung candaan dengan berterimakasih kepada penonton karena telah menonton band Indie seperti mereka,“Bukan band-band yang ada di TV,yang memiliki nama aneh,dan diusahakan seaneh mungkin”..HAHA.Sehabis sambutan,Iyo dan PS pun pamit untuk jeda.

Satu hal yang agak mengganjal pada konser ini adalah jeda.Jadi konser ini dibagi pada 3 ‘babak’.Jeda antar babak ini memang agak membuat bosan.alangkah baiknya agar jeda itu diisi dengan documenter PS misalnya,but after all.Jeda itu terbayar oleh setiap kejutan yang menanti setiap usai jeda.Antara lain diundangnya Muhammad Suar Nasution,vokalis lama mereka (tetapi sekarang mulai bergabung lagi?) keatas panggung sejak lagu “Sirkus” hingga akhir konser.

Suar sendiri menurut banyak kritikus sudah mencapai pendewasaan sejak album pertama bersama PS.Terlihat pada Album “Time For A Change,Time For Move On”,Suar telah menemukan ciri khas vokalnya.Dimana pada album pertama dan kedua,Ia lebih sering berpatron pada gaya vocal Robert Smith.Pada “Sirkus” ia bernyanyi dengan wajah sumringah dan senantiasa mengajak sing-along penonton.Kelasnya terlihat pada lagu-lagu album kedua yang cukup kompleks aransemennya macam “Labirin”,”Belati”,dan “Gala”.

Lagu-lagu tanpa terasa terus bergulir.Tanpa terasa,2 jam hampir habis.setelah ”Coklat” kelar dibawakan.Intro yang sudah dihafal seluruh crowd terdengar dimainkan Adhie.Sebuah intro lagu yang revolusioner.Lagu yang sempat menjadi 'raja' pada chart-chart radio anak muda medio 1994-1996an.Dan apabila kita pernah melihat Mtv pada masa itu (medio 1996).Maka kita akan terkejut melihat satu video klip yang beda.Disaat band-band lain berlomba-lomba mempercantik penampilan mereka di video dan berusaha disorot sesering mungkin oleh kamera,ada satu band pendatang baru memainkan music yang agak janggal,dengan vocal samar menyanyikan lirik yang abstrak.Video clipnya pun cuma menampilkan satu ruangan berpenerangan redup,dan sosok-sosok siluet yang bergerak tidak teratur mengikuti alur lagu.”Kosong” dibawakan PS.Iyo dan Suar hampir tak pernah bernyanyi.Penonton mengambil semua jatah nyanyian mereka tanpa sisa.

2 jam tak terasa sudah berlalu.”Enough” pun dibawakan PS sebagai lagu terakhir.Penonton yang tentu masih belum puas segera berteriak-teriak “lagi!lagi!lagi!....” taktik yang cukup berhasil,PS bersedia memainkan satu lagu lagi.Sebuah cover song.”Boys Don’t Cry” The Cure.Lagu yang sudah dapat dikategorikan sebagai lagu 'wajib nasional'.Para penonton dengan liar merangsek ke naik ke panggung berebutan mic Suar dan Iyo.PS pun tidak tampak risih melihat penonton yang semakin berjubel di panggung,Malah,mereka memprovokasi satu koor massal yang seru pada tiap bait "Boys Dont Cry".Sebuah penutup yang memorable.Dimana semua crowd memenuhi panggung sembari berjoget-joget,benyanyi seadanya,berpeluh bahagia,mengakhiri konser yang akan terus berada di benak saya untuk waktu yang lama.



Salut,
MIRZA FAHMI memberi konser ini 4 bintang.satu bintang lg ga dikasih karena PS ga bawain “Langit Terbuka Luas,Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu”



[+/-] Baca selengkapnya...

Minggu, 22 Februari 2009

Academy Award yang (masih) Klise

Sudah lama saya ingin mencoba jadi movie reviewer,Mungkin review mengenai ajang penghargaan Academy Award bisa menjadi start yang bagus,.Berikutnya,saya mungkin akan menuliskan beberapa review film disini.
Academy Award yang ke-81 tadi malam telah digelar di Kodak Theatre.Hampir tak ada kejutan.Slumdog Millionaire memenangi 8 Oscar dari 10 nominasi.


Sangat sesuai perkiraan saya,Mengingat klise-klise Academy Award yang selalu berulang dari tahun ke tahun.Mengenai itu,saya akan berusaha menjelaskannya pada tulisan saya kali ini.

Slumdog Millionaire mengalahkan film-film seperti The Reader,The Curious Case Of Benjamin Button,Changeling,dan lain-lain.Mengapa kemenangan itu saya bilang klise? Bukankah Slumdog memang film yang brilian? Saya tidak menyangkal kejeniusan Slumdog garapan Danny Boyle ini.Tetapi kalau dibilang sebagai film yang terbaik,saya tidak sependapat.

Slumdog mengisahkan mengenai anak gelandangan di India yang berhasil mengikuti acara semacam Who Wants To Be A Millonaire? Di sana.Secara mengejutkan,Ia berhasil menjawab segala pertanyaan sampai ke pertanyaan terakhir,Tetapi sebelum menjawab pertanyaan terakhir,Ia dibekuk oleh polisi yang dating atas permintaan penyelenggara (karena disangka main curang,masa gelandangan jadi jenius gitu?)).Ia lalu diinterogasi oleh kepolisian setempat,saat itulah ia menjelaskan bahwa segala jawaban dari pertanyaan kuis itu ia ketahui selama ia menggelandang bertahun-tahun.Dari segala pengalamannya,dan pertemuannya dengan berbagai orang.

Lantas,kenapa saya mempermasalahkan film dengan cerita unik ini? Klise apa yang saya maksud diatas? Yang saja mau tekankan pada tulisan ini adalah kecenderungan (sering sekali) Academy Award untuk memenangkan film-film yang memiliki feel-good tone (optimis dan penuh harapan).yang bombastis.ceritanya WOW!.Film-film dengan skala besar.Dan kecenderungannya untuk tidak memilih film-film dengan isu controversial,Gelap,real,artsy,dan sederhana.

“(Academy Award) its just a sympathy vote…..” (taken from Trainspotting,film Danny Boyle tahun 1996,sekarang malah Danny Boyle yang menang Oscar tadi malam,ironis)

Seperti yang dikatakan quote diatas.Kecenderungan Academy Award hanya menjadi Sympathy Vote semakin menjadi-jadi dari tahun ke tahun.contoh :

1. Forrest Gump (tentang orang idiot yang jadi sukses,kaya raya) mengalahkan Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino yang stylish,Revolusioner,yang bahkan telah
memenangkan Palme D’or dari Cannes film festival.

2. Shakespeare In Love (ketauan dari judulnya ini tentang apa) mengalahkan Saving Private Ryan yang real,brutal,dan memiliki sad-ending yang ambigu.

3. Film-film Stanley Kubrick yang rumit,Art-oriented,penuh simbolisasi (contoh: 2001:a Space Odyssey,The Shining) terbukti mayoritas masuk daftar 100 film terbaik dari American Film Institute,tetapi tak pernah memenangkan Oscar sekalipun.

4. Dances With Wolves-nya Kevin Costner (mengenai kisah Kapten era perang sipil yang kolosal) mengalahkan Goodfellas-nya Mertin Scorsese yang ironis,sadis,memiliki dark humor yang unik

5. Crash (tentang rasialisme) mengalahkan Brokeback Mountain yang mengangkat isu ‘sensitive’(pasti tau kan? Hehe)

Masih banyak contoh lainnya,seperti kegagalan Taxi Driver-nya Scorsese pada Academy Award tahun 1977 (menandai era bermulanya klise2 itu),Apocalypse Now-nya Francis Ford Coppola yang sama sekali ga dilirik,Dan lain-lain.Tetapi saya hanya memberikan sedikit contoh diatas hanya sebagai gambaran.Betapa suatu ajang yang mayoritas orang pikir sebagai ajang nomor wahid,ternyata dikuasai klise-klise seperti ini.

Mari kita lihat lagi Academy Award tadi malam,Slumdog yang memiliki feel-good tone (semua penonton tahu bahwa pada akhirnya,si protagonist akan baik-baik saja) mengalahkan Changeling yang memiliki kontroversi cerita (cari tau sendiri apa ceritanya,males jelasin lagi),Benjamn Button yang ceritanya agak absurd (kalo gue bilang sih brilian).Doubt tentang pencabulan jemaat gereja oleh pastor bejat,Milk tentang politikus gay yang menuntut persamaan hak kaum gay (lalu akhirnya mati dibunuh),The Reader tentang perselingkuhan anak 15 tahun-an dengan penjaga gerbang kamp konsentrasi era Nazi.Dan terakhir Changeling mengenai ibu yang mendapati anaknya yang kembali sejak diculik,ternyata bukan anaknya.dan lalu membawanya kepada serangkaian konspirasi pemerintah.

Sudah lihat perbedaan cerita dan tone dari nominasi-nominasi itu? Secara teknis,memang slumdog layak keluar sebagai pemenang.Tetapi bukankah ini akan mendiskreditkan film-film yang budgetnya tidak sebesar slumdog dan bergantung pada kekuatan cerita dan tema ? Bagaimana dengan film indie keren Darren Arronofsky,The Wrestler (masuk nominasi best film aja engga)? yang budgetnya sangat kecil tetapi dengan personal dan menyentuh menceritakan tentang pegulat tua kesepian yang berkeinginan untuk meninggal di ring,lalu menjalin hubungan dengan stripper sepuh? Atau The Reader yang mengenai cinta terlarang?.Tema yang jarang sekali diangkat. tema sederhana tentang kemanusiaan seperti itu memang telah lama luput dari pandangan Academy Award ,yang mulai sering beralih ke tema-tema berbau ‘dongeng’ yang jauh dari konteks realita tetapi sempurna secara teknis.

Kecenderungan Academy Award yang lebih memihak terhadap film-film ‘tear-jerking’ memang telah disorot banyak pihak sejak lama,banyak yang bertanya Apakah ini karena para juri Academy Award yang (maaf) sudah sepuh? Sehingga terkadang nilai-nilai/norma baku mereka yang kolot membuat mereka menolak mendalami intisari film-film bertema controversial (the reader,dll),hingga akhirnya mempengaruhi objektifitas penilaian?

Saya sendiri sempat menangkap preseden baik ketika film-film ‘gelap’ seperti The Departed dan No Country For Old Men menang pada Academy Award yang sudah-sudah,Tetapi melihat result tahun ini.Kekhawatiran saya muncul lagi.Kekhawatiran bahwa lama kelamaan Academy Award kehilangan kewibawaan dan keobjektifannya (puncak keemasannya era 1950an-1970an).Berubah menjadi sekedar penghargaan komersialitas hollywood belaka.sebagai sarana penarik selera pasar belaka.Dengan senantiasa memenangkan film-film yang ‘mudah dicerna’.Oscar pun turun pangkat jadi alat iklan.karisma penghargaan hilang total.Tak lagi dianggap sebagai panutan.Padahal panutan (kiblat) apa lagi bagi film lokal kita kalau bukan dari Academy Award?

Tapi,sudahlah.Toh banyak juga poin-poin menarik dari Oscar kali ini.Lagipula ngapain sih memperhatikan pengamatan amatir seperti saya yang tinggal terima jadi film? hehe,Mickey Rourke gagal dapat best actor (gue ga terima banget).Kate Winslet menang best actress (setuju).Kekocakan Hugh Jackman yang jadi MC.Heath Ledger menang best supporting actor (totally predictable)disambut penonton dengan standing ovation yang mengharukan.Dan Slumdog mendapatkan 8 Oscar atas nama pasar.Lalu sembari mengetik tulisan ini,saya berharap sudut pandang juri Academy Award ditahun-tahun kedepan bisa berganti.

Salut,


MIRZA FAHMI yang pernah beranggapan kalau kemenangan besar Lord Of The Ring: Return Of The King adalah Aib (dengan ‘a’ kapital) memalukan buat setiap juri film.Sekalian aja menangin Lion King!






[+/-] Baca selengkapnya...