Senin, 17 Agustus 2009

Wanita itu setengah gila.. namun ia nampak bahagia.


"Just let the wind blow, the stream flow, and the rose grow. Let the be be"
"Everybody has his/her own path on his/her life"


Kemaren, sudah agak lama sih, saya tertegun melihat seorang wanita. Sebenarnya saya juga bingung itu wanita atau bukan, hehe..
Wanita itu begitu kusam, dengan rambut keriting kumal serta mata yang besar dan agak juling. Tingginya tak lebih tinggi dari anak kelas tiga smp. Dari penampilan dan tingkahnya, saya menebak bahwa wanita itu agak sinting, gila, miring, waham, retardasi, scizoprhenia (nulisnya bener gak tuh gw, haha) atau entahlah apa, pokoknya kurang waras. Didukung dengan perawakanya yang juga tidak seperti orang normal kebanyakan, lengkaplah sudah ke-invalid-an wanita tersebut.

Wanita itu, sebut saja Nasya (bagus amat namanya, haha. Nasya = Nama Syamaran -red) selalu naik kereta ekonomi listrik Serpong - Jakarta. Entah wanita itu ingin kemana atau sedang apa saya tidak tahu dan juga kurang peduli. Yang saya tahu, ia selalu duduk di pintu dan berteriak-teriak dengan suaranya yang sangat cempreng mengajak anak-anak jalanan dan pedagang asongan bercanda dengan gurauanya yang juga saya tidak mengerti. Tapi entah mengapa para anak jalanan dan pedagang asongan tersebut tampak ikut bergurau dan tertawa denganya.

Selama ini saya sering merasa terganggu dengan kehadiranya. Entah apa salah dia kepada saya, tapi melihat hadirnya saja sudah bikin saya gondok, hehe.. Tapi, hari itu entah kenapa saya jadi melihat hal yang berbeda darinya. Hal yang selama ini gagal saya lihat darinya kecuali ke-invalid-anya, suara cemprengnya dan penampilanya yang kumal (kata pak Djoko: kayak penampilan loe oke parlente aja Gan, hahaha). Mungkin karena akhir-akhir itu saya sedang banyak masalah dan sedang rajin-rajinnya mengutuki nasib sendiri, sehingga saya jadi bisa melihat hal itu dari Nasya dan tertegun karenanya.

Hal yang saya maksud itu adalah ia tampak selalu bahagia. Ya Saudara-saudara, ia, dengan segala ke-invalid-anya, dengan segala nasib buruknya, segala hal yang mungkin bila itu terjadi pada saya, saya tidak akan bahagia.. Atau bahkan saya akan mengurung diri di kamar seumur hidup! Namun ia tampak selalu bahagia!

Entah apa yang membuatnya bahagia. Saya jadi sangat penasaran. Dibuat bingung saya olehnya.. Dibuat kagum saya olehnya.. Dibuat jatuh cinta saya pada Nasy(ila)a (Mirdad, hehe). Oh Nasya, mengapa kau lakukan ini padaku, hahaha ngaco..

Setelah saya pikir-pikir. Pikir-pikir saya setelah.. Ternyata ia bisa begitu bahagia karena (mungkin) ia menerima apa yang sudah Tuhan berikan padanya. Atau juga (mungkin) ia terlalu lelah mengutuki nasib, sehingga ia memilih untuk tersenyum menghadapi kehidupan. Atau karena ia gila dari lahir, makanya ia tak merasa hidup ini adalah beban. Sungguh kalau begitu, syahdan, bahwa sesungguhnya orang-orang gila seperti Nasya adalah orang-orang paling jenius di dunia. Ya, jenius dalam menikmati hidup..

Ingat bapak-bapak buta bermain harmonika yang pernah saya ceritakan pada notes saya sebelumnya? kalo belum baca notesnya baca ya.. Bagus, hehe..Bapak-bapak itu pun sejenis dengan Nasya. Beliau pun juga memiliki kekurangan, yaitu beliau buta. Namun bapak itu tetap tegar menjalani hidup. Dengan harmonika tuanya ia memainkan lagu-lagu minor di sepanjang KRL Depok - Jakarta demi bertahan hidup. Ia pun memiliki cita-cita, suatu saat akan naik haji. Suatu impian yang benar-benar utopis bagi saya yang skeptis. "Mana mungkin bapak buta itu bisa ke Mekkah? Sedangkan hidupnya saja susah." begitu kata hati saya. Kata hati saya begitu..

Tetapi mungkin itu yang membuatnya bisa bertahan menjalani hidup. Menyangganya dari keterpurukan akibat frustasi oleh kebutaanya. Mungkin mimpi dan harapan adalah cahaya penerang yang selalu menerangi setiap langkah-langkah lelahnya mengamen di dalam kereta. Lalu saya pun membuat kata-kata bijak (boleh dong sekali-kali pandir seperti saya mencoba berkata bijak, hehe). Ingat baik-baik, karena mungkin suatu saat kutipan bijak ini akan di kutip di buku-buku best sellernya Mario teguh, hehe ngarep. Begini bunyinya "Hal yang terjadi hari ini adalah realita, kita harus tetap berusaha namun jangan lupa untuk menikmatinya. Dan hal yang kita nikmati di masa yang akan datang adalah cita-cita. Kita harus mengejarnya karena itu adalah cahaya yang selama ini menerangi kita dari gelapnya realita."

Kembali ke Nasya. Setelah saya pertimbangkan matang-matang. Ternyata selama ini saya terlalu banyak mengeluh. Padahal hidup saya tidak seburuk nasib Nasya. Mengapa saya harus lebih kalut daripada dia? Mungkin saya harus jadi setengah gila baru tahu jawabanya, hehe..

Karena bingung, saya pun pulang dan cuci kaki. Abis itu sebelum tidur saya pun membuat puisi buat Nasya. (Puisi ini mengandung konten eksplisit, mohon minta bimbingan orang dewasa bagi yang belum cukup umur).

Oh Nasya, apa yang membuatmu begitu bahagia..
Apa yang kau lihat dari dunia melalui mata juling mu itu..
Apa kau melihatnya sama dengan ku, kadang terang namun lebih banyak pilu..
Ataukah indah berwarna-warni..
Seperti halusinasi Diori yang sedang nge-trip akibat Jamur Ajaib dari Bali..
Oh Nasya, Andai saja kau tak gila.. Apakah kau akan tetap bahagia..
Ataukah muram..
Seperti pilu nya Diori yang gagal ejakulasi setelah menonton film panas besutan Raam Punjabi..
Oh Nasya, minggir dari pintu, saya mau turun di Pondok Ranji..

Tertanda, Akbar Gani.


Pesan moral : Kalau lagi galau jangan mikirin orang gila, entar ikutan gila, hehe..bukan deng. Bermimpilah, nikmati hidup anda, jangan banyak mengeluh, karena itu yang akan membuat hari-hari anda semakin suram. Bila mimpi indah tak kunjung datang...makanya berdoa sebelum tidur, hehe..

[+/-] Baca selengkapnya...

Jumat, 01 Mei 2009

Mayday Letter

Tuan yang terhormat,
Saya telah mendengar tentang Konferensi Tuan yang amat sukses tempo hari. London kota yang bagus bukan? melihat foto Tuan lagi tadi pagi (maksud saya foto setelah konferensi, Tuan dan kawan-kawan Tuan itu sepertinya memang amat menikmati London. Saya harus mencatat itu,apabila berkesempatan pergi kesana (semoga!). Cuaca teduhnya memang pas sekali. Ah, saya bukan hendak mengaitkan keberhasilan Tuan dengan cuaca, haha. Saya yakin apabila digelar di Darfur pun akan tetap lancar-lancar saja.

Tuan, saya tidak akan lama berbasa basi. Saya akan mengatakan dengan langsung. Selamat datang di mimpi buruk. Segala dagelan Konferensi Tuan mungkin menenangkan tiap pikiran gundah sejak krisis ekonomi global ini. Agreement diteken, MOU disahkan, Kebijakan dirancang. Tapi disini saya memperingatkan,sistem Tuan akan hancur berantakan. Korporasi akan rontok,kontrol kuasa akan diambil alih, uang akan mengalir di jalur seharusnya, pencoleng akan ditangkapi.Hari-hari Tuan kedepan, seperti saya sudah bilang, mimpi buruk.

Ah, tak perlulah Tuan mengomel seperti itu,apa? Nama saya? Itupun bukan soal. Anggaplah saya sekedar pembawa berita sederhana,suatu perantara. Nah,sekarang giliran saya berbicara lagi bukan? Terimakasih. Sampai dimana tadi? Ah,ya..Sistem Tuan yang seakan begitu menjunjung tinggi kerja keras, keberanian,dan kejujuran ternyata suatu fatamorgana belaka. Seperti layaknya kolam ikan, Tuan berkata bahwa jumlah ikan yang kita peroleh sebanding dengan usaha kita memancingnya. Nyatanya,bila kita sempatkan menyelam kedalam kolam itu, niscaya didapati kolam itu telah disekat-sekat, jauh dari penglihatan kita di permukaan. Sekat itu membagi-bagi kolam,yang juga otomatis membagi ikan-ikan didalamnya. Si miskin di pojok sana,meski menghabiskan seumur hidupnya untuk memancing pun paling hanya akan mendapat seember ikan,itupun yang cere. Ia mendapat ruang sekat kolam yang begitu kecil. Sementara Tuan dan kawan Tuan, tidak memancing pun ikan akan berlompatan ke daratan, hinggap di pangkuan Tuan,minta disantap. Tuan dan kawan Tuan segelintir, menikmati ikan yang tak cukup untuk dihabiskan walau berabad-abad. Si miskin yang berduyun-duyun ke kolam mencari penghidupan,mendapat ikan yang langsung habis seiring beberapa suapan. Itulah sistem sebenarnya Tuan, itulah cara kerjanya, itulah moralitasnya.

Seperti lolongan pejuang Zapatista di rimba Lacandon,dengan ini saya nyatakan CUKUP SUDAH ! Sistem Tuan yang telah bercokol sedemikian lama dan mengatasnamakan kebebasan hak asasi sudah sepatutnya diakhiri. Sesuai konsep Adam Smith? Invisible Hand katamu? Izinkan saya mengutip pendapat ahli ekonomi pemenang nobel yang mungkin kita berdua sudah kenal betul, Joseph Stiglitz : “Invisible Hand itu benar-benar invisible,antara lain,karena seringkali memang tidak ada……”. Tanpa kontrol Pemerintah,pasar Tuan akan berderap begitu kencang layaknya topan. Tetapi, sekaligus meninggalkan kerusakan besar di tiap jalur yang dilaluinya. Penghisapan, eksploitasi,pendudukan,semua menjadi kata yang dihaluskan menjadi “Pemberdayaan”, ”Akuisisi”, ”Perluasan lapangan kerja”.

Seperti pekikan buruh mogok kerja di petang Catalunya era Franco,dengan ini saya nyatakan CUKUP SUDAH ! Media Tuan adalah berkah penguasa. Menampilkan hiburan hampa dan menghasilkan rakyat jinak seperti retriever dikebiri. Pernahkah media Tuan meliput kampung Indian Chiapas yang digempur Tank dari segala penjuru? Terpikirkah media Tuan untuk mengangkat sejarah Biro Pinkerton bentukan korporasi yang membunuhi keluarga aktivis buruh negara Tuan diakhir abad 19?

Seperti tangisan ibu-ibu meratapi jasad suaminya dipertambangan emas Peru, kami nyatakan CUKUP SUDAH! Tuan sudah melacurkan kata politik sampai derajat terendahnya . Menjadikannya sinonim dengan “kebohongan”,”kekotoran”,”Keserakahan” belaka. Membuat tiap individu menganut sikap skeptis belaka. Satu kemenangan besar lagi untuk Tuan. Demokrasi Tuan adalah kebohongan. Hampir seluruh warga dunia menyatakan anti terhadap negara Tuan karena kegemaran Tuan menjatuhkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis dan mengangkat diktator, hanya karena ia patuh melindungi kepentingan Tuan.

Dan oh! Betapa negara Tuan akan dengan senang hati melanggengkan itu semua. Hukum didesain dengan maksud melindungi ambisi Tuan. Elit-elit Tuan adalah staf-staf yang merumuskan aturan itu tiap harinya tanpa perundingan berlama-lama. Ekspansi korporasi ke negara lain dilancarkan dengan kedok perjanjian multilateral. Rakyat negara Tuan dengan kebanggaan pun menyebut, “inilah negaraku,negara kaum bebas,pula mengayomi yang menderita di seluruh dunia..penjaga dunia!! “ CUKUP SUDAH !!
Tuan, sekarang angin sudah berbalik arah, buritan kami hampir terangkat seluruhnya dari dasar samudera. Sekarang biarlah terbuka mata tiap warga dunia, ada yang salah dengan hari-hari mereka. Bahwa penganiayaan terhadap martabat manusia terjadi di penjuru dunia akibat sistem yang sama. Biarlah para petani, buruh, wiraswasta, mahasiswa, semua yang percaya, terorganisir dalam barisan rapat menuju satu arah.

Sekarang krisis telah menunjukkan semua, sistem yang bertopang pada penghisapan sepihak hanya pantas ditinggalkan. Segelintir Tuan akan merasakan tiap pekik diteriakkan, semakin lama semakin kencang. Sebuah pekikan tidak terima,tidak percaya, tidak rela berdiam lebih lama lagi. Kegagalan sistem Tuan sudah nyata diambang mata,segala usulan Tuan di Konferensi tempo hari hanya ibarat menambal bendungan bocor dengan semen murahan. Kamilah air bah yang Tuan takuti.

Silakan Tuan tertawa, toh saya Cuma perantara, tak perlu dianggap serius. Tapi Tuan,mungkin suatu hari Tuan tergelitik untuk melongok sebentar dari jendela gedung Konferensi. Lihatlah kami,segelintir kami yang percaya, berteriak CUKUP SUDAH! Hingga parau,hingga dagelan Tuan kami duduki.Saat itulah kata “Demokrasi”, “Kebebasan”, ”Keadilan” bukan hanya sekedar menjadi topik pidato dan buku-buku acuan Tuan, melainkan desakan, dan Tuan akan terhimpit dibawahnya.

Sekian saja Tuan, semoga Tuan bisa menangkap maksud saya,dan ingatlah, setiap tabir akan dibukakan mulai sekarang. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu bersama Tuan,


Selamat Hari Buruh, Dan siapkan parasut untuk jurang yang menganga di hari depanmu.

Garda Depan Penentangan.

[+/-] Baca selengkapnya...

Selasa, 14 April 2009

Counter-Culture

Beberapa hari ini karena kebetulan sedang berada dirumah,saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa group di facebook.Beberapa group yang pasti langsung memikat anda,dikarenakan topic group yang “seru”.Group Anti Band Anu,Anti Band Fulan,Band Ini Plagiat,dan lain-lain.Intinya serupa,yaitu mengajukan topik mengenai permusikan lokal kita yang semakin memburuk.Namun setelah menjelajah hingga lepas larut malam,Saya belum menemukan yang saya cari,sebuah solusi kongkrit dan masuk akal.



Yang ada malah pola seperti ini.Di group anti2an itu dibuka discussion board (dengan judul yang kelewat offensive,kekanakan,meaningless),biasanya topiknya berkutat di ranah hujatan saja.Lalu datang comment nimbrung menghujat seperti air bah.Biasanya Cuma berupa sepatah kata cacian tanpa alasan yang relevan yang diulang-ulang.lalu ada satu orang yang memiliki pendapat yang berbeda.Hal ini bukannya ditanggapi dengan Admin memberi alasan rinci,malah disambar seketika dengan “wah…ada yang nge-flame nih…serang gan!!!”.Yang terjadi selanjutnya mudah diprediksi,saling caci maki (kadang2 membawa makian yang jauh keluar konteks),debat kusir absurd keroyokan (faktor mayoritas anak ABG yang join?).Solusi yang diharapkan semakin menjauh dari pandangan.Dan -maaf- ini tidak Cuma terjadi di topik musik,melainkan di segala topik berdasarkan segala isu pro-kontra.Mengapa terjadi seperti ini? Apakah sedemikian buruknya budaya kita untuk sekedar mengakomodasi kegiatan diskusi yang nyaman dan sopan? Mengapa segala discussion group yang mengusung isu krusial ini selalu terjebak pada hal-hal sepele seperti ini ?.Seakan-akan apabila pendapat mereka (tuan rumah group dan antek “idealis”nya) dinegasikan,seluruh harga diri mereka turut jatuh ke Bumi.Budaya kekanakan seperti ini tidak COCOK untuk berdiskusi.Semua akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya (udah keluar konteks nih.hehe)

Sekali lagi,akhirnya selama saya surfing diantara group2 sejenis ini.Tiada satupun solusi tepat yang keluar.Yang ada Cuma saling serang dan saling mengklaim “lo alay…!!!”, “lo yang alay,,an&*&g lo!!! “,sibuk memisahkan band mana yang alay dan “patut dibasmi” dari band yang dianggap “okay,fine..”. dan discussion board Cuma membahas sejauh “mengapa Kangen Band bermuka nelangsa? “ atau “Band-band yang diplagiasi D’Masiv” Saling kick (dikeluarkan dari group) terjadi dimana-mana.Absolutely ABSURD.Sekali lagi,hanya mengeluh,merepet,memaki,tiada solusi.

Padahal,apabila mereka berusaha fokus saja terhadap masalah ini (tanpa segala debat melelahkan tak berujung itu) dan tidak Cuma menyentuh permukaan dari fenomena gunung es ini,saya yakin solusi bisa cepat didapatkan.Maka dari itu,disini saya mencoba memberikan solusi masalah ini.Ini hanyalah analisa amatiran saya,tentu tidak didukung dengan data otentik.Hanya saya merasa ini lebih baik daripada sekedar membuang gerak jari mengetik caci maki tanpa solusi. Saya akan mulai dengan terlebih dahulu mengajak pembaca mengingat salah satu petuah orang bijak dahulu kala.”Sejarah selalu berulang..”

Mari kita flashback kembali ke pertengahan 70-an,era dimana Rahmat Kartolo,Panbers,Tetty Kadi,Obbie Messakh,D’Mercy’s (mengingatkan gua akan D’Masiv) adalah jawara blantika musik Indonesia.Pola musiknya mirip seperti sekarang,ketukan drum lesu,notasi minim kreativitas,dan (tentu) lirik yang menyayat hati setiap pendengar.Sekilas music Indonesia 70-an sudah mentok disini.Tetapi,disuatu lokasi di Jakarta bernama Gang Pegangsaan tersebutlah sekumpulan anak muda yang memilih jalur berbeda.mereka,dengan bakat diatas rata-rata,berusaha untuk melakukan breakthrough dengan segala cara.Kesempatan itu datang tatkala sutradara legend,Teguh Karya meminta seorang pemuda dari Gang Pegangsaan itu untuk mengisi score film terbarunya.Dengan berbekalkan peralatan seadanya,pemuda tersebut mengajak beberapa orang temannya untuk membantunya.Film itu sukses besar.Tetapi kesuksesan score filmnya jauh lebih dahsyat.Bahkan semenjak dirilis menjadi full-album langsung menjadi best-seller dan serta merta langsung meroketkan nama para penciptanya.Ya,benar.Nama album itu (seperti nama filmnya) adalah Badai Pasti Berlalu.Para penciptanya,Eros Djarot,Yockie Suryoprayogo,dan (terutama) Alm. Chrisye langsung menjadi household name musik local,menggeser nama-nama yang lebih dulu disebutkan.

Memasuki dekade 80-an sudah kita pahami semua.Godbless merajai music rock,Fariz RM dengan elektronika uniknya,jazz level dunia dari Krakatau,serta musik-musik kritik apik macam Harry Roesli,Iwan Fals,dan Ebiet G.Ade.Namun diakhir decade 80-an terlihat seperti terjadi pengulangan dari era 70-an.Musik-musik ‘lesu’ seperti Panbers dan Rahmat Kartolo muncul dalam bentuk Dian Piesesha,Nia Daniaty,dan kawan-kawan.Meroketnya musik ini kembali bahkan hingga membuat menteri penerangan saat itu,Harmoko,Membuat statement yang melarang TVRI menayangkan musik-musik ‘cengeng’.

Akan tetapi,trend ini tidak bertahan lama,bukan dikarenakan statement Harmoko tadi,melainkan segera munculnya nama lain yang berasal mula sama seperti anak-anak Gang Pegangsaan.Mereka memilki nama Gang yang berbeda,Gang Potlot.Slank dengan album debutnya yang eksplosif berhasil merebut perhatian khalayak dan kembali menempatkan musik rock ke tahtanya.Melihat bahwa anak-anak muda bisa melakukan terobosan hanya bermodalkan semangat dan kerja keras,Segeralah menyusul band-band yang terinspirasi .Muncullah band-band seperti Dewa 19,Kla Project,dan lain-lain.

Apakah anda sudah mengerti point saya dari serangkaian flashback yang dijabarkan diatas?.Intinya adalah,saya berpendapat bahwa untuk membunuh satu trend diperlukan trend lainnya yang berani menempatkan diri sejajar dengan trend tersebut.Untuk menghabisi satu culture diperlukan counter-culture.Seperti culture Rahmat Kartolo,Panbers dan lain-lain disapu bersih oleh musisi-musisi Gang Pegangsaan seperti Yockie S,Keenan Nasution,Chrisye.Seperti culture neo-sendu awal 90-an dihabisi D.I.Y anak-anak Gang Potlot.

Mari kita lihat apa saja amunisi kita untuk menggencarkan counter-culture dengan segera.Di ranah pop kita memiliki Efek Rumah Kaca,Sore,WSATCC,dan lain-lain.Di jalur rock ada Seringai,Polyester Embassy,The S.I.G.I.T.Hampir tak terhitung! Lalu mengapa perubahan belum terjadi ? seperti saya sebut diatas,counter-culture itu HARUS MENEMPATKAN DIRI SEJAJAR DENGAN CULTURE YANG AKAN DIHABISI.Apakah ini sudah terjadi? Jawabannya belum.Dan mustahil terjadi apabila para scenester kita kerap MENGHUJAT SETIAP BAND YANG INGIN MELEBARKAN SAYAP.

Masih ingat S.I.D ? di tahun 2002 mereka merilis album berjudul Kuta Rock City (masuk daftar majalah Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik Indonesia sepanjang masa) dan langsung dihujani hujatan from the so-called Punk Rock Scene.Koil pun pada 2003 merilis Megaloblast dan langsung dicap “murtad”.Tidak usah jauh-jauh,Rocket Rockers baru-baru ini tampil di Dahsyat dan beberapa kawan saya serta merta mencemooh.Bagaimana caranya kita merubah trend apabila setiap band “indie” tetap tinggal di “bawah tanah” dan menolak pergi ke medan laga? Dan setiap band yang memutuskan pergi ke sana langsung kehilangan support dari rootsnya?.

Penyebab utama adalah memang major label sudah dicap negative sejak dahulu kala.Tetapi apakah dengan Indie Label yang notabene Cuma mencakup regional terbatas kita bisa memulai movement perubahan ? bukankah satu-satunya cara adalah MENGEKSPOS MUSIK KITA SEBESAR-BESARNYA? mari kita pikirkan seperti ini,coba kita bayangkan apabila The Beatles memilih main regular di kafe-kafe kecil Liverpool dan menolak tawaran rekaman.Atau Chuck Berry yang lebih suka menjadi street musician daripada go public.Pastilah musik yang kita dengarkan hari ini Cuma sejenis Motown dari The Supremes,Aretha Franklin,dan paling pol adalah boogie-woogie monoton.Bisa mengerti maksud saya?


PERUBAHAN BISA TERJADI APABILA KITA RUBAH JUGA DIRI KITA.Rubah paradigma! INDIE ITU HAKIKATNYA CUMA BATU LONCATAN,BUKAN JALAN HIDUP.Paradigma seperti itulah yang kita (terutama para musisi) butuhkan.Silakan menghujat saya sebagai sell-out bitch,dll.Tetapi apabila kita terus berdiam di “bawah tanah kita yang nyaman” kapan khalayak bisa mendapat option (dalam konteks ini,option karya musik yang dirilis ke pasar) dan tanpa option,kapankah perubahan yang kita semua idam-idamkan bisa terjadi? Bila kita tidak menunjukkan keberadaan kita,bukankah khalayak akan terus mengkonsumsi segala yang ditawarkan industry music kita? Ingat,masyarakat mainstream menyukai musik yang kita anggap sampah itu bukan karena lirik mendayu-dayu,ketukan lesu,kunci standar.Melainkan karena mereka tidak pernah memiliki alternatif musik lain untuk didengar. DAN INDUSTRI TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MEMASOKNYA.Dilengkapi dengan kemalasan Indie untuk go-public..Lingkaran setan bukan?

Kita butuh untuk merebut ruang-publik itu dari mereka (para pengeruk kuntungan,minim kualitas rilisan),dengan cara mengirimkan segenap amunisi terbaik kita.Rocket Rockers yang sejak kemarin selalu dicemooh karena dianggap “sell-out” akibat tampilnya mereka di TV prime-time.Tapi bagi saya mereka telah melakukan hal yang berani.Mengapa? karena dengan begitu mereka telah berani mengekspos karya mereka ke depan publik mainstream.Mereka telah menunjukkan keberadaan mereka dan scene mereka ke khalayak luas.Inilah yang sesungguhnya kita butuhkan.Kita harus menyerang mereka tepat dimana mereka “bernafas”.Para musisi Indie haruslah beranjak dari “bawah tanah yang nyaman” menuju laga sesungguhnya berada.EKSPOS KARYAMU DIMANA-MANA.TAKE EVERY CHANCES OUT THERE.Tunjukkan bahwa musik seharusnya seperti apa.Hancurkan eksklusifisme dalam bermusik!

Maka dari itu,saya akan terus mensupport band-band Indie yang sudah “beranjak dewasa”.Yang berani menunjukan karya mereka kepada publik yang lebih luas.Inilah buah bakal perubahan.Bukan para musisi yang sok eksklusif,terlalu pengecut menunjukan karya untuk diadu dengan karya-karya yang selama ini mereka nistakan.Dan bukan pula para tukang nyampah di forum2 diskusi maya yang semata-mata Cuma menuju nihilisme akut minim substansi.

“sejarah selalu berulang..” dan kita tinggal memilih.



Rebut,Ubah,Nikmati

MIRZA FAHMI



[+/-] Baca selengkapnya...

Rabu, 01 April 2009

Monolog Pesta Demokrasi-Sebuah Parodi Satir

I

Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana

Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya


II

Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya

"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan


III

Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"

Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati

Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri


IV

Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui


V (Epilog)

Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?

Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri

***






Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana


[+/-] Baca selengkapnya...

I

Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana

Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya


II

Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya

"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan


III

Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"

Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati

Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri


IV

Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui


V (Epilog)

Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?

Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri

***






Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana


[+/-] Baca selengkapnya...

Senin, 09 Maret 2009

culinary trip

dalam posting kali ini saya akan membahas
'dunia itu nikmat ya??'
mengapa?
karena ice cream mc flurry varian baru itu enak,
coffee crunchy dan caramel crunchy..
bukan saya SPG nya McD atau bagaimana, tapi saya bicara sejujurjujurnya.
saya cinta kebenaran. anda belajar filsafat ilmu, kan??

walaupun McD itu korporasi barat sana dan mendunia..
mereka aditif..
sorry, junk food itu aditif lezatnya..



apalagi eskrim yang saya sebutkan diatas ditambah oreo atau biskuat susu, juga tambah corong eskrim yang kita sebut 'cone' atau sederajatnya, kue semprong...... dan makannya dengan spagetti gocengannya McD
ditambah pilus garuda, atau kerupuk kulit...setidaknya saya nge-mix sedikit dengan asupan lokal punya...gaya anak kosan.

take away atau dine in terserah anda.dengan teman atau kekasih bahkan rival terserah anda. keosan atau sendirisendiri terserah. dipinggir jalan atau restorannya yang ber AC ada TV 24jam hotspot juga bisa (internet gratisan, pamer leptop n BB yang laham, tapi beli makan gocengan) terserah anda juga. asal ga ngerepotin.

saya melakukan riset akhirakhir ini...
walaupun hanya sedikit sample yang saya ambil...dapat disimpulkan..
Spagetti KFC banyak tapi kurang enak dibanding McD.harganya pun sangat kompetitif.
Spagetti WS (we es- waroeng steak) berada diantaranya.
enak, harganya lebih tinggi namun sauce (baca: sozs) nya bikin mulut belepotan
burger McD gocengan kalah lezat dibanding burger Wendy's dengan harga yang relatif sama.
saya prefer wendy's karena sudah mendarah daging.kalo udah kelaperan sih sikat aja semuanya..
yang paling nampol adalah warteg bude samping kosan:
nasi setengah+sayur bayem+kentang balado+tempe oreg+mie= tigaribu rupiah=kenyang perut kembung.
atau kata temen2..yang bikin klenger itu PadGil (baca: padang gila)
hanya dengan lima ribu rupiah anda sekalian yang berjiwa piranha dapat makan masakan padang pake ayam dll terus bisa nambah...kenyang perut kembung..

wisata kuliner itu asik ya....
dunia itu nikmat asal galupa akhirat...

pesan moral kali ini...
makan boleh murah asal bersih dan kenyang...dan bagi temen disamping lo yang kagak makan, jangan medit.
inget buat nyumbangin sebagian duit lo buat sodarasodara kita yang belum bisa makan enak dengan cara berderma....
terakhir, jangan kebanyakan maakan biar bisa ruku ama sujud dengan nyaman.
thats it fo todays dialogue! adios amigos

label: wisata kuliner jelata jakarta pinggiran




[+/-] Baca selengkapnya...

Minggu, 08 Maret 2009

Budak-budak Fashion

"Di dalam fashion tidak ada logika"

Hai, jumpa lagi bersama saya. Setelah lama tidak menulis artikel di forum mahasiswa ini, ternyata dalam bosan tangan saya mengantar ide saya menjadi kata, yang berbaris menjadi kalimat, dan akhirnya mengejewantah menjadi suatu tulisan utuh (hehe sok puitis). Maka daripada tulisan ini menganggur dan menjadi sampah di hardisk saya, saya post-kan saja disini.

Oke, dalam tulisan kali ini saya akan membahas mengenai gejala trend yang menjangkiti masyarakat di daerah perkotaan. Suatu "arus" yang memiliki enerji guna mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup masyarakat urban. Dan trend yang sangat kuat itu bernama fashion. Dan sekali lagi, dalam bahasan ini saya tidak akan menggunakan referensi yang kuat, seperti yang mungkin dikaji dalam telaah psikologi massa..Dan saya pun tidak akan membawakan argumen yang kuat. Tulisan ini saya utarakan diatas pemikiran saya sendiri, yang notabenenya hanya seorang mahasiswa pemerhati sosial amatiran. Jadi, tentu argumen saya akan penuh kekurangan di segala segi. Untuk itu, saya bersedia menerima kritik, saran atau pendapat dari anda sekalian yang membaca argumen yang akan saya utarakan dibawah ini.

Oke, sebelum saya mulai pembahasan kali ini, mungkin anda akan bertanya mengapa saya membatasi lingkup bahasan ini hanya pada masyarakat urban. Mengapa masyarakat desa tidak ikut dibahas? Apakah karena saya orang desa sehingga pendapat saya berat sebelah?

Haha, bukan itu alasanya saya membatasi permasalahan yang akan saya bahas hanya pada masyarakat metropolitan. Tetapi karena beberapa asumsi yang saya gunakan hanya akan pas bila dipakai untuk membahas perilaku masyarakat yang hidup di kota besar. Asumsi-asumsi tersebut saya rinci sebagai berikut:
1. Saya menganggap masyarakat kota sebagai masyarakat yang lebih cerdas. Namun dibalik kecerdasanya, masyarakat urban ternyata masih memiliki ketidakrasionalan yang dapat dieksploitasi.
2. Masyarakat metropolitan lebih majemuk. Dimana terdapat akulturasi budaya dalam bermasyarakat. Sehingga lebih mudah menyerap pengaruh suatu trend.
3. Dan yang terakhir, namun yang paling penting. Corak kehidupan masyarakat urban lebih hedonis. Dimana sebenarnya, dengan kecerdasan mereka, mereka masih memiliki ketidakrasionalan yang tinggi dalam pemenuhan jiwa konsumtif mereka.

Oke, berangkat dari asumsi-asumsi diatas, saya menuangkan suatu pandangan mengenai gejala trend fashion yang mewabah masyarakat di kota besar, terutama masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai manusia kita memiliki kebutuhan sandang, yaitu kebutuhan akan pakaian. Selain itu, kita juga memiliki kebutuhan lain yang bersifat abstrak. Yaitu kebutuhan akan keindahan, atau dalam istilah seninya "estetika".
Dari dua kebutuhan itu, lahirlah industri fashion. Industri yang pada awalnya tercipta guna memenuhi kebutuhan pakaian, yang selain untuk menutup aurat juga untuk memperindah penampilan, yang pada akhirnya berubah menjadi suatu trend. Dimana seolah-olah ada kekuatan "diktatoris" yang mengatur gaya apa yang sedang "in" untuk tahun ini, dan apa yang sudah ketinggalan jaman.

Saya sering geli sendiri. Bagaimana mungkin sekumpulan orang, yang menamakan dirinya "trendsetter", mampu mempengaruhi ribuan orang dalam berpakaian. Dengan titah mereka yang bernama "mode", para pengikutnya, yang jumlahnya jutaan, mampu mengkonsumsikan pendapatan mereka secara besar-besaran guna mengikuti titah dari "trendsetter" tersebut. Tas-tas, gaun malam, high heels, dan sebagainya.

Lebih geli lagi, gaya pakaian yang tahun lalu dianggap Fashionable, tahun ini bisa saja dibilang kampungan, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Sedangkan pakaian yang tahun ini dianggap aneh, norak, atau 'gak matching', mungkin tahun depan malah dianggap sebagai mode...haha


Apakah mereka, para pengikut fashion, tidak menyadari mengapa trend tiap tahunya berubah?
Tentu mereka tidak sadar. Karena mereka, dengan segala kecerdasan mereka, termakan oleh ketidakrasionalan jiwa hedonis mereka. Padahal mereka jelas-jelas tertipu oleh industri fashion, yang sengaja menciptakan siklus perubahan trend mode tiap tahun, guna memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Karena siklus tahunan ini adalah kunci utama dunia fashion dalam meraih keuntungan.

Coba anda pikirkan, bila fashion tahun ini sama dengan tahun lalu, tentu industri fashion akan lesu, atau setidaknya tidak semeriah apabila fashion memiliki siklus tahunan. Karena, orang-orang tentu tidak akan terlalu banyak membeli pakaian baru. Mereka hanya akan membeli sebagai koleksi tambahan saja.
Namun apabila siklus tahunan digalakan, tentu para pengikut fashion akan membeli pakaian baru dengan model baru secara besar-besaran. Karena pakaian yang telah dibelinya pada tahun-tahun sebelumnya telah dianggap ketinggalan jaman dan hanya akan menjadi sampah di lemari baju mereka.

Lalu industri fashion, yang sudah kehabisan ide tentang mode apa yang akan dijadikan trend tahun depan, akan kembali mengangkat mode lama. Ketika pakaian-pakaian model itu sudah jarang yang memiliki atau sudah usang di lemari. Sehingga tentu, para pengikut fashion akan tetap membeli pakaian mode tersebut guna mengikuti fashion. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa mode tahun 60an kembali 'booming' di era 80an, dan kembali 'booming' lagi ditahun 2000an?

Oke, dalam bahasan ini saya tidak melarang anda untuk tampil trendi. Tetapi saya hanya ingin memaparkan suatu pandangan, bahwa trend fashion sekarang sudah sangat berlebihan. Dimana logika dikesampingkan demi hedonisme belaka. Saya berpikir, kalo hanya ingin tampil 'trendi', tidak perlu selalu mengikuti trend fashion.. Selalu membeli pakaian mengikuti trend, dan dengan mudah mencampakanya apabila mode berkata sudah ketinggalan jaman.

Apa yang anda kenakan adalah representasi kepribadian anda, jadi apabila anda sering bergonta-ganti gaya pakaian hanya demi mengikuti trend, berarti anda adalah orang yang berkepribadian mudah goyah, mengikuti apa saja yang dikatan pasar, atau bisa dibilang tidak memiliki KEPRIBADIAN..(hehe, sori saya agak kasar, emang sengaja menyentil)

Oke, terakhir saya ingin menyimpulkan. Seberapa seringnya anda berganti gaya mengikuti mode, diri anda tetaplah diri anda. Anda tidak akan menjadi lebih hebat dengan menjadi fashionable, dan malah akan menjadikan diri anda sendiri sebagai korban mode. Kenali diri anda, cari gaya berpakaian yang paling pas merepresentasikan anda. Anda akan terlihat lebih "pure" dengan menjadi diri sendiri.


Wassalam
Gani, yang awalnya mau menulis tentang alokasi dana pendidikan 20% yang belum terealisasi. Tapi urung karena kurang bahan..hehe

[+/-] Baca selengkapnya...

Time For A Change,Time To Move On,Pure Saturday Concert Review

Sebenarnya konser ini sudah lama digelar.Tetapi tidak ada salahnya toh saya membuat review yang kelewat telat ini.Saya hanya ingin sharing sedikit mengenai pengalaman saya menonton konser yang saya anggap luar biasa ini.Maaf kalau ada detail-detail yang terlewat.Maklum udah agak lupa.


Minggu malam,hujan tidak henti-hentinya mengguyur kota Bandung sejak menjelang magrib.Ini tidak menyurutkan niat saya untuk menonton konser tunggal salah satu band paling influensial di kancah Indie scene Indonesia,Pure Saturday.Eksistensi selama hampir 15 tahun menciptakan momentum yang cukup untuk menggelar konser tunggal ini.Dengan tajuk sama dengan album kompilasi Greatest Hits mereka yang dirilis tahun lalu,“Time For A Change,Time To Move On”.Informasi mengenai konser sejak jauh-jauh hari pun memudahkan banyak fans mengantisipasi konser ini.Saya lihat di Facebook,Bahkan ada fans dari Jawa Timur yang bela-belain untuk menonton konser yang cukup bersejarah ini.Sementara saya? saya cukup bersyukur konser ini digelar ketika saya kuliah di Bandung.haha

Konser ini digelar di GSG Itenas.Cukup jauh dari Kost saya yang terletak di bilangan Ciumbuleuit.Dengan naik motor kira-kira makan waktu 15 menit.Jadi,bisa dimaklumi keadaan saya yang agak basah kuyup ketika sampai di Venue.Ketika saya sampai,Venue belum dibuka.Duduk menunggu tanya loket dan penjaga,konser katanya akan dimulai jam 8 malam.Saya pun merokok sebentar,membeli tiket,dan membeli satu kaos Pure Saturday yang cukup jarang saya temui.Tak lama,kira-kira pada jam 19:50 venue dibuka.Para penonton yang sudah bergerombol sejak pukul 19:00,masuk ke dalam venue secara tertib.Begitu menjejakkan kaki ke dalam,segera terlihat set panggung yang cukup minimalis.Cukup sederhana untuk ukuran sebuah konser tunggal.Tinggi panggung kira-kira hanya sekitar setengah meter,dan tak ada barikade sama sekali antara panggung dengan 'kubu' penonton.Mungkin Pure Saturday ingin menciptakan suasana intim dengan para fans dan penonton pada konser malam ini.Kita lihat saja.

Para penonton pun,melihat panggung yang rendah,segera memutuskan untuk lesehan saja di lantai.Dengan lesehan pun saya merasa bisa mengamati sekeliling dengan leluasa.Tampak GSG tidak terisi penuh sehingga udara terasa lega.Nampaknya ini akan menjadi salah satu kunjungan konser saya yang paling nyaman,pikir saya.Diatas panggung terlihat para kru sedang mengeset alat-alat dan sound-system.Para penonton tampak amat antusias.Menurut info,konser kali ini tidak memakai band pembuka.karenanya,tak sampai 20 menit menunggu,Terdengar suara perwakilan E.O dari pengeras suara,menyambut Pure Saturday naik keatas panggung.And the crowd went wild at the same time!.Seiring dengan naiknya para personil,penonton meneriaki nama mereka satu persatu.Sementara para personil lain sibuk menyetel alat-alat mereka,Iyo sang vokalis menyapa sejenak para penonton,berterimakasih atas kedatangannya serta rela berhujan-hujan demi konser yang cukup sederhana ini.

Selepas sambutan singkat,seketika lampu venue dan panggung dimatikan.Penonton yang belum sempat mengucap sepatah kata pun,dibuat tertegun dengan suara Hi-Hat,Udhie sang drummer memainkan notasi drum yang sangat familiar.Banyak penonton yang menebak-nebak.,"oh gue tau nih...pasti.." tebakan yang tepat,sound fuzzy delaying gitar Adhie yang dreamy dengan sigap bersinergi dengan melodi-melodi Arief yang sederhana tetapi cepat menyangkut di telinga.Keduanya segera menimbuhi permainan drum tadi.Crowd langsung menyanyikan verse pertama dari lagu yang mereka sudah hafal benar ini.”I don’t know why we do it like this,oh,so strange….” Koor massal serentak membahana di dalam venue.”Pathetic Waltz” adalah pembuka konser yang sangat cantik.

Terlihat sejak lagu pertama para personil PS sibuk dengan instrument mereka masng-masing dan tidak banyak bergerak.Mungkin mereka memang mengutamakan kualitas permainan pada konser kali ini.ini ditunjang oleh kualitas sound yang sangat prima dan akustik venue yang pas.Terbukti dengan mulusnya permainan mereka pada lagu-lagu berikutnya,seperti “Sajak Melawan Waktu”, “Mereka”,dan “Kaca”.satu hal lagi yang patut diberikan kredit lagi disini adalah permainan lighting apik dan Film-film pendek yang diproyeksikan pada layar putih besar dibelakang para personil.Masing-masing film mewakili tiap lagu yang dimainkan.

Pikiran langsung berusaha mencari jejak 15 tahun kebelakang.Pure Saturday menyeruak bersama Puppen dan Pas Band memulai suatu movement yang bertahan hingga kini.Yaitu Indonesian Indie Culture.Dengan music yang sudah established di luar negeri tetapi masih langka di Indonesia mereka segera menarik perhatian banyak khalayak.Terutama ketika album pertama mereka rilis sebagai bonus majalah Hai pada medio 1994.Album yang memang nampak sangat terinfluens The Cure,Ride,Stone Roses ini segera menempatkan lagu-lagu mereka pada airplay radio di banyak kota.Banyak band-band serupa segera bermunculan.Dan gerakan ini belum berhenti hingga sekarang.Memang suatu konser tunggal sangat pantas sebagai tribute untuk mereka.

Konser ini pun menelurkan banyak momen menarik.salah satunya adalah tampilnya Rekti The S.I.G.I.T sebagai vokalis tamu pada lagu “Nyala”.Kolaborasi yang menarik karena Rekti tampak menyanyikan “nyala” dengan vocal seperti pada lagu-lagu The S.I.G.I.T.Haha.Nyala dengan vocal ala Robert Plant memang Menjadikan lagu ini jadi ‘ugal-ugalan’.Selain itu,selepas kolaborasi,tampak para personil PS bercanda dengan memainkan intro “Whole Lotta Love”nya Led Zeppelin.ajakan jamming dadakan ini segera disambut Rekti.Jadilah satu nomor dari Led Zeppelin tiba-tiba masuk dalam repertoire konser.Penonton pun jadi terbawa gila-gilaan.Sing-along liar,sesuatu yang langka pada konser PS,terjadi di lagu ini.Bahkan salah satu pemuda dibelakan saya,meminta saya mengangkat badan dia,mau body-surf.haha.Sehabis lagu ini,Rekti yang turun panggung disambut tepuk tangan membahana crowd yang kelelahan tetapi terus tertawa mengingat kejadian tadi.

Bukan itu saja kolaborasi yang ada.Agung Burgerkill juga diajak pada satu jeda antar lagu.Dengan menenteng gitar akustik dan sekaleng bir,Ia naik ke panggung dan memainkan secara instrumental medley dari lagu-lagu Pure Saturday.Sungguh mengasyikan melihat Agung yang biasa memainkan nada-nada 'horor' Burgerkill sekarang memainkan nomor-nomor akustik instrumental dengan tingkat presisi yang tinggi.Permainannya ditutup dengan intro dari “Silence”.Intro ini Agung biarkan menggantung seraya ia meninggalkan panggung,tetapi tak lama intro 'terbengkalai'ini segera disambung dengan intro 'Silence' yang sesungguhnya oleh Adhie.Penonton yang sejak awal konser sudah lesehan pun mulai serentak berdiri menyambut lagu ini.Lagu dari album pertama ini adalah salah satu favorit saya.Sound gitar yang noisy dan wah-wah pedal penuh feedback dipadukan,sehingga menimbulkan “keberisikan” yang liar tetapi indah secara bersamaan.Teknik ini mengingatkan pada Ride era “Nowhere”.Dan apabila anda menyempatkan melihat foto-foto konser itu.mungkin anda bisa melihat saya merangsek ke depan panggung kala lagu “Silence” dan bernyanyi asal-asalan sambil mengepalkan tangan ke udara.Hope you’ll never find it,though.aha.

Pertengahan konser,Iyo menyempatkan berterimakasih kepada seluruh keluarga Pure Saturday.Ia pun tak lupa menyapa para ‘penonton’ di pinggir panggung seperti Ucok Homicide dengan khas “Hey Motherfucker! Motherfucker! Respect yo…”dengan logat seperti rapper gangsta bersiap menuju peperangan East Coast-West Coast.Sebuah bentuk candaan terhadap Ucok yang memang telah mencapai status militan di ranah hip-hop bawah tanah.Belum habis tawa penonton,Ia segera menyambung candaan dengan berterimakasih kepada penonton karena telah menonton band Indie seperti mereka,“Bukan band-band yang ada di TV,yang memiliki nama aneh,dan diusahakan seaneh mungkin”..HAHA.Sehabis sambutan,Iyo dan PS pun pamit untuk jeda.

Satu hal yang agak mengganjal pada konser ini adalah jeda.Jadi konser ini dibagi pada 3 ‘babak’.Jeda antar babak ini memang agak membuat bosan.alangkah baiknya agar jeda itu diisi dengan documenter PS misalnya,but after all.Jeda itu terbayar oleh setiap kejutan yang menanti setiap usai jeda.Antara lain diundangnya Muhammad Suar Nasution,vokalis lama mereka (tetapi sekarang mulai bergabung lagi?) keatas panggung sejak lagu “Sirkus” hingga akhir konser.

Suar sendiri menurut banyak kritikus sudah mencapai pendewasaan sejak album pertama bersama PS.Terlihat pada Album “Time For A Change,Time For Move On”,Suar telah menemukan ciri khas vokalnya.Dimana pada album pertama dan kedua,Ia lebih sering berpatron pada gaya vocal Robert Smith.Pada “Sirkus” ia bernyanyi dengan wajah sumringah dan senantiasa mengajak sing-along penonton.Kelasnya terlihat pada lagu-lagu album kedua yang cukup kompleks aransemennya macam “Labirin”,”Belati”,dan “Gala”.

Lagu-lagu tanpa terasa terus bergulir.Tanpa terasa,2 jam hampir habis.setelah ”Coklat” kelar dibawakan.Intro yang sudah dihafal seluruh crowd terdengar dimainkan Adhie.Sebuah intro lagu yang revolusioner.Lagu yang sempat menjadi 'raja' pada chart-chart radio anak muda medio 1994-1996an.Dan apabila kita pernah melihat Mtv pada masa itu (medio 1996).Maka kita akan terkejut melihat satu video klip yang beda.Disaat band-band lain berlomba-lomba mempercantik penampilan mereka di video dan berusaha disorot sesering mungkin oleh kamera,ada satu band pendatang baru memainkan music yang agak janggal,dengan vocal samar menyanyikan lirik yang abstrak.Video clipnya pun cuma menampilkan satu ruangan berpenerangan redup,dan sosok-sosok siluet yang bergerak tidak teratur mengikuti alur lagu.”Kosong” dibawakan PS.Iyo dan Suar hampir tak pernah bernyanyi.Penonton mengambil semua jatah nyanyian mereka tanpa sisa.

2 jam tak terasa sudah berlalu.”Enough” pun dibawakan PS sebagai lagu terakhir.Penonton yang tentu masih belum puas segera berteriak-teriak “lagi!lagi!lagi!....” taktik yang cukup berhasil,PS bersedia memainkan satu lagu lagi.Sebuah cover song.”Boys Don’t Cry” The Cure.Lagu yang sudah dapat dikategorikan sebagai lagu 'wajib nasional'.Para penonton dengan liar merangsek ke naik ke panggung berebutan mic Suar dan Iyo.PS pun tidak tampak risih melihat penonton yang semakin berjubel di panggung,Malah,mereka memprovokasi satu koor massal yang seru pada tiap bait "Boys Dont Cry".Sebuah penutup yang memorable.Dimana semua crowd memenuhi panggung sembari berjoget-joget,benyanyi seadanya,berpeluh bahagia,mengakhiri konser yang akan terus berada di benak saya untuk waktu yang lama.



Salut,
MIRZA FAHMI memberi konser ini 4 bintang.satu bintang lg ga dikasih karena PS ga bawain “Langit Terbuka Luas,Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu”



[+/-] Baca selengkapnya...

Kamis, 05 Maret 2009

Mandi

Heiyho...ini tulisan perdana gw di blog GAM ini...sebagai kontributor dan teman mereka..gw salut si Gani Aga dan Mirza
bisa meulis seperti ini...dulu sih cuma percakapanpercakapan biasa di ruang kelas..ternyata sudah dibekukan disini!
nah, gw sekarang mau ber kontribusi salah satu puisi gw aja...selamat membaca dan memaknai....heuheuheu...


kota tua ini belum mandi
gedung gedung tumbuh menjulang
paruparu kota lambat laun hilang
bangunan makin disusun
tambah malas saja untuk terbangun

kota tua ini belum mandi
juta kendaraan berbaris menggerayangi tubuhnya yang miris
banyak kubangan tertampung dalam lubang jalan
basah oleh keringat
dan airmata menjadi butek oleh sampahsampah manusia yang dibuang seenak jidat

kota tua ini belum mandi
entah karena sumber air dimonopoli
atau air pam belum terdistribusi

kota tua ini belum mandi
udara makin pengap dan panas
karena poripori belum terbuka luas
kendaraan melaju mengeluarkan asap hitam
kita tinggal tunggu kapan jadwal alam naik pitam

kota tua ini belum mandi
cuci muka saja belum
apalagi gosok gigi
sabunpun belum terbeli

kota tua ini malas mandi
daki menumpuk kulit bersisik
tubuh gatal belek membeku
anyir tercium buat jijik
yang menetap apa tidak mau tahu?
yang menetap apa tidak malu?

kota tua ini malas mandi
pada musim ini
tinggal tunggu hujan berkepanjangan
pun kita pasti akan kewalahan

jehan syauqi 2februari 2009

[+/-] Baca selengkapnya...

Selasa, 03 Maret 2009

Zapa..who?

Jumpa lagi,yah sebenarnya saya sudah agak capek menulis tentang topik berat terus-menerus.Sesekali,ingin juga menulis tentang kenangan masa lampau era SD,SMP,dan SMA.Tetapi saya seolah terganjal oleh satu topik ‘hutang’ yang belum dijabarkan.Mungkin setelah ini saya bisa menulis tentang kejadian yang ringan-ringan lagi.Kali ini,seperti janji saya tempo hari,saya akan membahas mengenai gerakan Zapatista di provinsi Chiapas,Meksiko.Wah..wah..apa itu?

Sebagai pembuka,saya akan meminta pembaca untuk membayangkan barang sejenak.
Bayangkanlah,

Jika dunia ini adalah suatu kampung global yang terdiri dari 100 orang,70 diantaranya buta huruf,dan hanya 1 yang menjalani pendidikan tinggi.Lebih dari 50 orang kekurangan gizi,lebih dari 80 hidup di gubuk-gubuk reot.Dan 6 diantaranya adalah orang Amerika.Keenam orang itu mengambil,menguasai,dan menikmati lebih dari separuh pendapatan dan kekayaan orang seluruh kampung.

Lho! Mengapa keenam orang kaya ini bisa tetap ‘damai’ dengan penduduk kampung lain?

Karena ternyata keenam orang itu menciptakan dan mengajarkan semacam tarian dan nyanyian ‘senam massal’,hingga sebagian dari 94 orang itu rela menjadi pengikut setianya setiap pagi dengan sukarela.Meskipun banyak diantara yang 94 itu tidak ikut senam,namun mreka dengan senang hati ikut menyanyikan lagu itu.

Keenam orang sisanya ini mempersenjatai diri untuk menaklukkan orang-orang yang sedang sibuk senam ini.Bahkan,ada yang menjual senjata kepada beberapa orang diantara 94 orang itu-untuk saling menyerang antar sesama-untuk menguij kekuatan senjata mereka.Tetapi,entah bagaimana,senjata-senjata itu pada gilirannya sampai kepada para Zapatista…………yang memakainya untuk menciptakan letusan yang mengagetkan keenam orang tersebut.Letusan itu,ternyata merupakan bagian dari nyanyian yang kemudian mulai dinyanyikan oleh orang-orang lain yang terpesona olehnya.

(Diadaptasi dari “Globalization from Above and from Below: a Dialectical Process” karya Gerrit Huizer)

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN/Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional) memulai aksinya beberapa menit sesudah tahun baru 1 Januari 1994.Mereka keluar dari hutan raya Lacandon lalu menduduki Kota San Cristobal de Las Casas,dan juga kota-kota Ocosingo,Menyerang kantor-kantor tentara yan semuanya berada di provinsi Chiapas,Meksiko tenggara.Mereka bukan tentara biasa,mereka tentara pemberontak ! ratusan petani bersenjata dan memakai topeng ski hitam (balaclava).Menduduki posisi strategis Chiapas secepat kilat.

“masalah perang bukanlah masalah siapa yang mempunyai senjata lebih banyak,peluru lebih banyak,dan orang lebih banyak,melainkan siapa yang benar!” demikian kalimat yang sering diutarakan juru bicara EZLN,Subcomandante Marcos.

Tetapi,kebenaran apakah yang mereka perjuangkan? Suara pertama Zapatista adalah :
“Kami adalah pewaris dari para pendiri bangsa.kami adalah jutaan orang yang kehiangan harta,dan kami menghimbau semua saudara laki dan perempuan bergabung bersama dalam panggilan mulia ni,satu-satunya cara mencegah kelaparan karena keserakahan tanpa akhir dari kediktatoran yang bercokol lebih dari 70 tahun,dibawah kepemimpinan sekelompok pengkhianat yang mengabdi pada kaum konservatif yang telah menjual bangsa.pada deklarasi dari rimba Lacondon ini,kami nyatakan YA BASTA!! (cukup sudah)!!....”

Satu hal yang bisa ditangkap dari pernyataan diatas,pertama-tama,kita tidak menemukan kalimat kalimat pendahuluan dengan rujukan ideologis manapun,seperti mengutip Marx,Lenin,Bakunin,maupun Che; Kedua,Zapatista memayungi pemberontakannya sebagai pemberontakan konstitusional.Mereka mengutip UUD Meksiko pasal 39 yang berbunyi “Rakyat mempunyai hak,hak yang tak dapat dihilangkan,kapan pun untk mengubah atau memperbaiki bentuk pemerintahannya” ketiga,Itu adalah deklarasi perang,bukan melawan pemerintahan,tetapi hanya melawan segelintir korporat dan pemimpin eksekutif.lalu memohon pada bahan legislatif dan yudikatif untuk menggunakan wewenang konstitusionalnya,melucuti presiden Meksiko saat itu,Carlos Salinas,dan menggantinya dengan pemerintahan yang demokratis,desentralistis,dan mengangkat harkat martabat para indigenous people (penduduk asli Meksiko,orang Indian).

Mereka mengambil timing 1 januari 1994 sesuai dengan tanggal berlakunya NAFTA (North American Free Trade Agreement) yang pada 1992 ditandatangani oleh Presiden Amerika,George Bush Sr,Perdana Menteri Kanada Brian M.,dan presiden Meksiko Carlos Salinas De Gortari. NAFTA kurang lebih menekankan pada eksploitasi segala sumber daya alam meksiko dengan dibebaskannya segala peraturan perbatasan untuk perdagangan.Korporasi yang mendapat keuntungan hanya memberikan upah kecil kepada penduduk di tempat sumber daya.NAFTA dipandang Zapatista sebagai sabda kematian pemerintah meksiko tanpa harus menggunakan senjata.Mereka menganggap kebijakan berat sebelah itu akan membunuhi rakyat. Meksiko secara perlahan-lahan.

Zapatista semata-mata memperjuangkan hak-hak rakyat Meksiko terhadap segala sumber daya alamnya.Basis di Chiapas adalah pilihan yang cocok.karena,Chiapas,walaupun memiliki kekayaan alam berlimpah,menjadi provinsi yang paling miskin di Meksiko.setelah diduduki,Mereka pun menerapkan hukum Zapatista di Chiapas.dimana hukum itu menekankan pada keadilan jual beli,penjaminan hak-hak perempuan,dan pendidikan wajib untuk anak-anak..

Pemerintah Meksiko tentu tidak tinggal diam.Dalam satu serangan balik,pasukan Zapatista berhasil dipukul mundur.Lalu bertahan kepayahan di rimba raya Lacandon.Disinilah pasukan Zapatista mulai menunjukkan ciri mereka yang paling khas.Mereka,diwakili sang juru bicara Subcomandante Marcos (belakangan diangkat jadi komandan penuh) yang memakai nama samaran Delegate Zero,mulai mengeluarkan komunike-komunike (semacam prosa harian menjelaskan tentang perkembangan perjuangan,tujuan mereka,dll) yang rata-rata diterbitkan di surat kabar setempat.Tak lama kemudian,komunike yang Subcomandante Marcos tulis secara regular,mencapai luar negeri.disinilah basis dukungan untuk mereka mulai mewabah ke seluruh dunia.

Langkah ini dipandang brilian.mengukir militansi tanpa senjata konvensional (yang sudah pasti kalah jumlah dengan pemerintah) melainkan dengan prosa-prosa tentang gerakan mereka yang humoris,energik,inspiratif,dan imajinatif.Hal ini dijelaskan oleh Subcomandante Marcos; “Seorang prajurit adalah seorang absurd yang harus menggunakan senjata untuk meyakinkan orang lain;dan dalam arti itu gerakan ini tak punya masa depan jika masa depannya adalah militer”.Ini membuat Zapatista begitu menarik perhatian para ahi,bukan hanya karena metode uniknya,melainkan juga karena keahlian sastrawi pemimpin-pemimpinnya yang amat diatas rata-rata.

Tulisan-tulisan itu bisa bermacam-macam,terkadang kritik pedas yang penuh humor sinis,cacian,provokasi yang membara.namun,bisa juga renungan spiritual,puisi romantik,dongeng tua meksiko,bahkan bisa berwujud sebagai cerita khayalan liar sang komandan belaka.Khayalan yang paling sering diperbincangkan adalah epos mengenai Don Durito,kumbang galak yang gemar merokok pipa sembari mengkritik neoliberalisme (menganggapnya sebagai ideologi bom waktu.Analisa yang tepat melihat kondisi krisis global saat ini).Support yang dihasilkan berkat komunike-komunike ini luar biasa.Banyak kalangan kemudian memberikan dukungan moral.Band-band politikal seperti Rage Against The Machine,Rise Against,Brujeria,dan Anti-Flag sering membuat konser amal untuk kemudian disumbangkan kepada pergerakan,atau sekedar memberikan dukungan moral melalui lirik-lirik lagunya.

Zaman internet pun datang,Zapatista semakin memperkuat aikonisasinya dengan merilis situs-situs Zapatista dan segala hal tentang kampanye melawan neoliberalisme.Pada tahun 1999 mereka membuat petisi di 32 negara,termasuk Indonesia,menanyakan perihal kampanye anti-neoliberalisme mereka dan apakah pergerakan ke depan perlu dilanjutkan.Jutaan orang di Meksiko dan ratusan ribu aktivis di seluruh dunia memberikan dukungan mereka kepada Zapatista.Aktivis-aktivis di Indonesia yang menandatangani petisi ini antara lain Alm. Munir dan Teten Masduki.

Kini,15 tahun setelah deklarasi Lacandon.Zapatista masih menempati pos terpencilnya di rimba raya pegunungan.Masih bergulat nyawa sepanjang hari ditengah bidikan para penembak jitu tentara federal,dibawah bidikan laras-laras meriam aneka bentuk yang diimpor pemerintah Meksiko dari negara kerabatnya.Tetapi,semangat itu terlihat masih ada.Komunike-komunike terus dikirim ke dunia luar dari sunyinya pegunungan hutan hujan.Mengabarkan semua hal yang berabad-abad mereka dambakan.Perjuangan terlihat tak ada ujungnya.

Mungkin suatu hari pun komunike akan berhenti sama sekali.Tak ada lagi Don Durito dan segala kritik-kritiknya dan segala Kalimat-kalimat provokatif menggelora.Saat segala mesin perang yang mengepung hutan Lacandon berhasil melumpuhkan satu demi satu pekik perlawanan.Berhasil menuntaskan dominasi.Sekedar mengulangi repetisi standar sejak berabad-abad yang lalu.Kita tidak tahu itu.

Mungkin juga Zapatista bukan Cuma nama yang hanya terkait dengan rimba raya Lacandon.Bukan Cuma sekedar goresan pena pada setiap komunikenya,bukan Cuma setiap peluru untuk melumpuhkan kepungan mesin perang.Bisa jadi itu adalah hasrat,hasrat yang kian menular dewasa ini.Bisa jadi hasrat itu juga kita miliki.Setiap hari kita tekuni,renungi,dan ahirnya kita yakini.Kita tidak tahu itu.Suatu hari mungkin kita bangun,duduk di sofa empuk sambil menghirup aroma kopi yang telah tersaji,dan melihat berita yang sama.Sama dengan berita di TV 15 tahun yang lalu.Apa yang terjadi di Lacandon,mungkin terjadi lagi di kampung halaman kita sendiri.Mungkin di desa-desa terpencil yang selama ini hanya menjadi tujuan pelesir tuan-tuan saudagar? Tujuan pelesir kita? Selama ini kita konsumsi hasil alamnya? tanpa tahu derita warganya,yang lama lama berubah jadi hasrat angkat senjata?.Sekali lagi Saya tidak tahu.Tapi,mungkin cuma soal waktu.

NB :Info lebih lanjut mengenai Gerakan Pembebasan Nasional Zapatista dapat dilihat pada http://www.ezln.net. Atau mengenai kumpulan komunike-komunike Zapatista bisa dibaca pada buku “Bayang Tak Berwajah –Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista 1994-2002” terbitan Insist Press Yogyakarta.
Lawan!


Salut,
MIRZA FAHMI sedang menyusun dokumen juga,tapi mengenai aksi bolos-bolos era SMP.






[+/-] Baca selengkapnya...

Selasa, 24 Februari 2009

Sedang Vapour Trail

Pernah merasa begitu jatuh cinta dengan suatu lagu? setidaknya itulah yang saya rasakan kini.Jatuh cinta dengan Vapour Trail-nya Ride.Entah kenapa,Liriknya juga ga ngerti padahal.


Mungkin ini sejenis siklus.Ibu saya bilang sewaktu saya bayi saya tergila-gila dengan 'Tomorrow Never Knows'nya Beatles.Dan sering nyanyi-nyanyi sendiri di box bayi dengan lidah seadanya.beranjak ke Tk,Saya tergila-gila dengan Phil Collins "Another Day In Paradise".Mungkin karena sering disetel di tape mobil.Tentu tidak lupa Ebiet G. Ade dengan 'Menjaring Matahari"nya yang megah.

Masuk SD,Saya tergila-gila dengan album kompilasi "The Best Of 1997" terutama Blur "Song 2" dan Spice Girls yang "When 2 Become 1".haha.kalo dulu sih ga malu sama sekali.Masih ada yang inget lagu judulnya Macarena? wah kawan,itu lagu ada di album yang sama,dan saya bisa ngambek besar kalo pas setel album itu Lagu Macarena ga mulai duluan.hahaha

Haha.Dan beranjak dewasa saya pun mulai mendengarkan musik musik yang semakin beraneka ragam.dari musik metal ke musik portal,Rock And roll hingga keroncong protol.Dan sebagainya.

Tetapi,selama beberapa bulan mendengarkan album 'Nowhere"nya Ride.saya jatuh cinta dengan lagu ini ,literally.Ada perasaan yang sama ketika saya menyanyikan lagu ini dan sewaktu saya menyanyikan lagu-lagu Phil Collins,Blur,Spice Girls,Dan Macarena dengan suara lantang (tanpa malu) bersanding dengan tape mobil yang uzur.Dan perasaan itu sulit dijelaskan.Dan saya pun tak perlu membuang-buang waktu mencari maknanya.karena toh saya lebih suka menyanyikan lagu itu sekali lagi..hehe

Vapour trail

First you look so strong
Then you fade away
The sun will blind my eyes
I love you anyway
Thirsty for your smile
I watch you for a while
You are a vapour trail
In a deep blue sky

Tremble with a sigh
Glitter in your eye
You seem to come and go
I never seem to know
And all my time Is yours as much as mine
We never have enough
Time to show our love

Salut,

MIRZA FAHMI sedang "First you look so strong,then you fade away.."



[+/-] Baca selengkapnya...

Minggu, 22 Februari 2009

Academy Award yang (masih) Klise

Sudah lama saya ingin mencoba jadi movie reviewer,Mungkin review mengenai ajang penghargaan Academy Award bisa menjadi start yang bagus,.Berikutnya,saya mungkin akan menuliskan beberapa review film disini.
Academy Award yang ke-81 tadi malam telah digelar di Kodak Theatre.Hampir tak ada kejutan.Slumdog Millionaire memenangi 8 Oscar dari 10 nominasi.


Sangat sesuai perkiraan saya,Mengingat klise-klise Academy Award yang selalu berulang dari tahun ke tahun.Mengenai itu,saya akan berusaha menjelaskannya pada tulisan saya kali ini.

Slumdog Millionaire mengalahkan film-film seperti The Reader,The Curious Case Of Benjamin Button,Changeling,dan lain-lain.Mengapa kemenangan itu saya bilang klise? Bukankah Slumdog memang film yang brilian? Saya tidak menyangkal kejeniusan Slumdog garapan Danny Boyle ini.Tetapi kalau dibilang sebagai film yang terbaik,saya tidak sependapat.

Slumdog mengisahkan mengenai anak gelandangan di India yang berhasil mengikuti acara semacam Who Wants To Be A Millonaire? Di sana.Secara mengejutkan,Ia berhasil menjawab segala pertanyaan sampai ke pertanyaan terakhir,Tetapi sebelum menjawab pertanyaan terakhir,Ia dibekuk oleh polisi yang dating atas permintaan penyelenggara (karena disangka main curang,masa gelandangan jadi jenius gitu?)).Ia lalu diinterogasi oleh kepolisian setempat,saat itulah ia menjelaskan bahwa segala jawaban dari pertanyaan kuis itu ia ketahui selama ia menggelandang bertahun-tahun.Dari segala pengalamannya,dan pertemuannya dengan berbagai orang.

Lantas,kenapa saya mempermasalahkan film dengan cerita unik ini? Klise apa yang saya maksud diatas? Yang saja mau tekankan pada tulisan ini adalah kecenderungan (sering sekali) Academy Award untuk memenangkan film-film yang memiliki feel-good tone (optimis dan penuh harapan).yang bombastis.ceritanya WOW!.Film-film dengan skala besar.Dan kecenderungannya untuk tidak memilih film-film dengan isu controversial,Gelap,real,artsy,dan sederhana.

“(Academy Award) its just a sympathy vote…..” (taken from Trainspotting,film Danny Boyle tahun 1996,sekarang malah Danny Boyle yang menang Oscar tadi malam,ironis)

Seperti yang dikatakan quote diatas.Kecenderungan Academy Award hanya menjadi Sympathy Vote semakin menjadi-jadi dari tahun ke tahun.contoh :

1. Forrest Gump (tentang orang idiot yang jadi sukses,kaya raya) mengalahkan Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino yang stylish,Revolusioner,yang bahkan telah
memenangkan Palme D’or dari Cannes film festival.

2. Shakespeare In Love (ketauan dari judulnya ini tentang apa) mengalahkan Saving Private Ryan yang real,brutal,dan memiliki sad-ending yang ambigu.

3. Film-film Stanley Kubrick yang rumit,Art-oriented,penuh simbolisasi (contoh: 2001:a Space Odyssey,The Shining) terbukti mayoritas masuk daftar 100 film terbaik dari American Film Institute,tetapi tak pernah memenangkan Oscar sekalipun.

4. Dances With Wolves-nya Kevin Costner (mengenai kisah Kapten era perang sipil yang kolosal) mengalahkan Goodfellas-nya Mertin Scorsese yang ironis,sadis,memiliki dark humor yang unik

5. Crash (tentang rasialisme) mengalahkan Brokeback Mountain yang mengangkat isu ‘sensitive’(pasti tau kan? Hehe)

Masih banyak contoh lainnya,seperti kegagalan Taxi Driver-nya Scorsese pada Academy Award tahun 1977 (menandai era bermulanya klise2 itu),Apocalypse Now-nya Francis Ford Coppola yang sama sekali ga dilirik,Dan lain-lain.Tetapi saya hanya memberikan sedikit contoh diatas hanya sebagai gambaran.Betapa suatu ajang yang mayoritas orang pikir sebagai ajang nomor wahid,ternyata dikuasai klise-klise seperti ini.

Mari kita lihat lagi Academy Award tadi malam,Slumdog yang memiliki feel-good tone (semua penonton tahu bahwa pada akhirnya,si protagonist akan baik-baik saja) mengalahkan Changeling yang memiliki kontroversi cerita (cari tau sendiri apa ceritanya,males jelasin lagi),Benjamn Button yang ceritanya agak absurd (kalo gue bilang sih brilian).Doubt tentang pencabulan jemaat gereja oleh pastor bejat,Milk tentang politikus gay yang menuntut persamaan hak kaum gay (lalu akhirnya mati dibunuh),The Reader tentang perselingkuhan anak 15 tahun-an dengan penjaga gerbang kamp konsentrasi era Nazi.Dan terakhir Changeling mengenai ibu yang mendapati anaknya yang kembali sejak diculik,ternyata bukan anaknya.dan lalu membawanya kepada serangkaian konspirasi pemerintah.

Sudah lihat perbedaan cerita dan tone dari nominasi-nominasi itu? Secara teknis,memang slumdog layak keluar sebagai pemenang.Tetapi bukankah ini akan mendiskreditkan film-film yang budgetnya tidak sebesar slumdog dan bergantung pada kekuatan cerita dan tema ? Bagaimana dengan film indie keren Darren Arronofsky,The Wrestler (masuk nominasi best film aja engga)? yang budgetnya sangat kecil tetapi dengan personal dan menyentuh menceritakan tentang pegulat tua kesepian yang berkeinginan untuk meninggal di ring,lalu menjalin hubungan dengan stripper sepuh? Atau The Reader yang mengenai cinta terlarang?.Tema yang jarang sekali diangkat. tema sederhana tentang kemanusiaan seperti itu memang telah lama luput dari pandangan Academy Award ,yang mulai sering beralih ke tema-tema berbau ‘dongeng’ yang jauh dari konteks realita tetapi sempurna secara teknis.

Kecenderungan Academy Award yang lebih memihak terhadap film-film ‘tear-jerking’ memang telah disorot banyak pihak sejak lama,banyak yang bertanya Apakah ini karena para juri Academy Award yang (maaf) sudah sepuh? Sehingga terkadang nilai-nilai/norma baku mereka yang kolot membuat mereka menolak mendalami intisari film-film bertema controversial (the reader,dll),hingga akhirnya mempengaruhi objektifitas penilaian?

Saya sendiri sempat menangkap preseden baik ketika film-film ‘gelap’ seperti The Departed dan No Country For Old Men menang pada Academy Award yang sudah-sudah,Tetapi melihat result tahun ini.Kekhawatiran saya muncul lagi.Kekhawatiran bahwa lama kelamaan Academy Award kehilangan kewibawaan dan keobjektifannya (puncak keemasannya era 1950an-1970an).Berubah menjadi sekedar penghargaan komersialitas hollywood belaka.sebagai sarana penarik selera pasar belaka.Dengan senantiasa memenangkan film-film yang ‘mudah dicerna’.Oscar pun turun pangkat jadi alat iklan.karisma penghargaan hilang total.Tak lagi dianggap sebagai panutan.Padahal panutan (kiblat) apa lagi bagi film lokal kita kalau bukan dari Academy Award?

Tapi,sudahlah.Toh banyak juga poin-poin menarik dari Oscar kali ini.Lagipula ngapain sih memperhatikan pengamatan amatir seperti saya yang tinggal terima jadi film? hehe,Mickey Rourke gagal dapat best actor (gue ga terima banget).Kate Winslet menang best actress (setuju).Kekocakan Hugh Jackman yang jadi MC.Heath Ledger menang best supporting actor (totally predictable)disambut penonton dengan standing ovation yang mengharukan.Dan Slumdog mendapatkan 8 Oscar atas nama pasar.Lalu sembari mengetik tulisan ini,saya berharap sudut pandang juri Academy Award ditahun-tahun kedepan bisa berganti.

Salut,


MIRZA FAHMI yang pernah beranggapan kalau kemenangan besar Lord Of The Ring: Return Of The King adalah Aib (dengan ‘a’ kapital) memalukan buat setiap juri film.Sekalian aja menangin Lion King!






[+/-] Baca selengkapnya...

Sabtu, 21 Februari 2009

TVone?

Saya menemukan topik menarik ini dari email Ayah saya,Sengaja saya post disini sebagai penyeimbang berbagai opini tentang Gaza.

Dalam Apa Kabar Indonesia Pagi Senin 5 Januari 2009, dengan halus Indriarto Priyadi dan terutama Grace Natalie mencoba menggiring opini pemirsa bahwa Israel "terpaksa" menyerang. Mereka berbincang bahwa Israel tak akan berhenti menyerang jika serangan roket Hamas tak dihentikan. Dalam sesi pertama dengan pengamat Bantarto Bandoro, pembicaraan berkutat pada Hamas yang memang mengganggu dan "memancing" serangan Israel dengan serangan roket ke negeri zionis itu.

Pengamat internasional CSIS itu juga menyebut bahwa perang akan berlangsung lama karena -tidak seperti agresi Israel ke Lebanon yang dipukul Hizbullah dan "ditengahi" pasukan PBB- Hamas menolak kehadiran pasukan perdamaian. Opini pemirsa pun tergiring kepada kesimpulan: Israel menyerang karena kesalahan Hamas dan serangan akan terus berlanjut karena Hamas dengan degil menolak campur tangan internasional PBB. Kerja tim yang baik antara Indriarto, Grace dan sang pengamat CSIS.

Menjelang sesi berikutnya, wawancara dengan KH. Ahmad Satori dari Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Indriarto membuka dengan menyebutkan seruan boikot produk "yang katanya" dari Amerika oleh beberapa kelompok (Muslim tentu saja). Ungkapan agak sinis ini kemudian ditimpali Grace, "padahal mereka suka menggunakan produk itu." Sebuah judgement bahwa kelompok Muslim yang menyerukan boikot produk Amerika sebenarnya justru pecinta produk itu.

Sekitar dua hari sebelumnya, dalam sebuah ilustrasi tentang sejarah konflik di Palestina, narator TV One menyebutkan bahwa tanah Palestina dikuasai Israel setelah gerilyawan Israel berhasil memaksa Inggris-yang diberi mandat oleh PBB- hengkang dari sana. Ini adalah kedustaan yang bodoh dan buta sejarah. Kenyataannya Inggris sejak 1917 memang berencana memberikan tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel oleh kelompok zionis Yahudi. Deklarasi Balfour dengan jelas membuktikan kedustaan ini.

Ada juga penayangan rekaman video dari pihak Israel yang mengebom sebuah masjid. Serangan keji yang menghancurkan rumah ibadah dan menewaskan jamaahnya ini dilakukan dengan alasan masjid menjadi gudang penyimpanan roket-roket Al-Qassam. Ada cuplikan menarik dalam video itu, setelah ledakan bom pertama ada ledakan kedua ( secondary explosion ) yang diberi tanda dan catatan oleh editor video Israel. Hal itulah yang diklaim sebagai "bukti" adanya roket di dalam masjid. Yang menggelitik, cuplikan itu selalu diulang-ulang oleh TV One dalam tayangan berita tentang serangan Israel.

Beberapa poin di atas menunjukkan adanya upaya penggiringan opini oleh TV One. Yaitu agar publik di Indonesia, termasuk umat Muslim, yang mengutuk serangan brutal dan keji Israel menjadi "memaklumi." Pertanyaannya, kenapa hal itu dilakukan TV One?

Jauh sebelumnya, Grace Natalie juga melakukan penggiringan opini dalam berita kasus terorisme Palembang. Grace, yang "meninjau" lokasi pesantren yang dituduh menjadi sarang dan tempat latihan tersangka teroris Palembang, melengkapi laporannya dengan ilustrasi bahwa pesantren itu "aneh" karena hanya memiliki sepuluh santri.

Kalau saja Grace seorang Muslim, atau rajin mengamati pesantren-pesantren kecil di pedesaan, niscaya ia akan menemukan pesantren (rintisan tentu saja) yang hanya memiliki lima, empat, tiga atau bahkan satu santri saja. Keheranan seorang Grace yang bukan Muslim dan tidak memahami dunia pesantren memang wajar. Namun komentar bodohnya bahwa hal itu "aneh" memberi bobot bagi penggiringan opini bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Tapi terlepas dari hal tadi, Grace Natalie dan TV One memang hebat. Liputan mereka tentang kasus terorisme selalu berhasil mencapai level eksklusif. Saat para wartawan di Yogyakarta tak bisa mendekati rumah tempat Mbah alias Zarkasih ditangkap, Grace malah terlihat ada di mobil Densus 88 yang melakukan penangkapan. Tak heran jika dalam pemberitaan penangkapan tersangka teroris di Palembang pun Grace bisa masuk rumah salah satu tersangka dan memamerkan "temuannya," sebilah pedang samurai yang biasa dijajakan di kakilima. Tak begitu dahsyat, tapi lumayan, bisa menambah bobot penggiringan opini bahwa itu memang rumah teroris.

Bos Grace, Karni Ilyas, malah lebih hebat lagi. Pada saat penangkapan Amrozi, ia melaporkan langsung dari TKP, padahal posisinya waktu itu Pemred SCTV. Demikian juga saat penyerbuan di Batu yang berakhir dengan kematian Dr. Azahari, Karni yang waktu itu Pemred Anteve melaporkan langsung dari TKP. Di mana ada kasus terorisme besar yang terungkap, di situ pasti ada Karni Ilyas atau anak buahnya -salah satunya Grace Natalie. Hubungan Karni yang dekat dengan Komjen. Gories Mere membuatnya selalu mendapatkan liputan eksklusif tentang operasi Densus 88.

Jangan lupa juga bagaimana reporter TV One (waktu itu masih bernama Lativi) Alfito Deannova berhasil mengajak Ali Imron -terpidana seumur hidup kasus Bom Bali yang seharusnya meringkuk dalam penjara- jalan-jalan menapaktilasi lokasi persiapan dan pelaksanaan Bom Bali. Ali memang fenomenal, saat kawan-kawannya meringkuk dalam sel, ia malah bisa ngopi bareng Gories Mere di Kafe Starbucks yang di yakini salah sebuah usaha milik jaringan zionis internasional.

Ketika hal itu memicu kegemparan, Gories beralasan bahwa Ali dibon untuk mengungkap jaringan teroris. Ini masih masuk akal, Gories memang berwenang melakukan berbagai upaya dalam penyidikan. Namun bagaimana bisa TV One "mengebon" Ali yang napi untuk acara eksklusifnya? Lagi-lagi stasiun televisi yang sahamnya dimiliki oleh taipan media keturunan Yahudi Rupert Murdoch -melalui Star TV Group- ini memang hebat.

Okelah, bisa jadi Karni Ilyas berniat baik, memfasilitasi Polri dengan stasiun televisi tempatnya bekerja dalam kampanye pembentukan opini memerangi terorisme di Indonesia. Biarlah kelompok Muslim dan pesantren yang sempat menjadi sasaran kampanye itu marah dan sedih, toh mereka masih bisa membantah, ini negeri demokrasi tempat pendapat bebas diumbar kan?

Tapi sangat jahat kalau Hamas, Muslim Palestina dan bangsa terjajah itu kemudian dihalangi dari dukungan Muslim dan bangsa Indonesia. Yaitu dengan membentuk opini bahwa Israel tidak salah kalau menyerang mereka. Salah mereka sendiri melakukan perlawanan terus-menerus pada penjajah zionis yang jauh lebih kuat. Ini adalah kampanye terselubung mendukung kekejian zionisme.(dikutip dari muslimdaily.net)

Lawan!

salut

MIRZA FAHMI




[+/-] Baca selengkapnya...

Jumat, 20 Februari 2009

Gemar Berbahasa

"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia"




Yak jumpa lagi dengan saya, setelah seminggu ini saya disibukan oleh kegiatan perkuliahan dan tugas yang menumpuk sehingga tidak sempat untuk menulis sebuah 'artikel' pada blog ini. Akhirnya saya memiliki waktu senggang di akhir pekan ini untuk membuat sebuah "catatan" akhir pekan (hehe..) yang sebenarnya dari dulu ingin saya buat, namun urung karena terlalu banyak topik yang ingin saya angkat dalam tulisan-tulisan saya..

Oke, pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang masalah yang sangat mendasar dalam kehidupan kita dalam berbangsa dan bertanah air, yaitu tentang gemar berbahasa Indonesia. Ya! Anda benar! Topik yang mungkin sering sekali diangkat oleh guru-guru kita semasa kita masih duduk di bangku sekolah dulu, tetapi sering pula kita abaikan (mungkin karena terlalu sering dibahas secara teoritis kali ya?). Namun dalam bahasan ini, seperti biasa, saya tidak akan membahas permasalahan secara mendalam, penuh referensi, atau didasari oleh teori yang kuat. Namun hanya dilandasi sebuah pemikiran simpel, dipandang menurut fakta sehari-hari, disertai dengan gagasan sederhana untuk mencintai dan bangga dengan salah satu identitas pemersatu bangsa kita, yaitu bahasa Indonesia

Dewasa ini, saya melihat semakin maraknya orang meninggalkan bahasa Indonesia sebagai lingua franca atau bahasa penghubung dalam kehidupan sehari-hari. Entah karena malu atau tidak terbiasa, kita malah lebih sering memilih menggunakan bahasa asing dalam penggunaan sehari-hari. Seolah bangga akan hilangnya identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

Memang, tampaknya dari dulu bangsa kita sangat gemar sekali menggunakan bangsa asing sebagai alat komunikasi. Tentunya bukan bahasa asing secara utuh yang saya maksud disini, tetapi hanya sebatas menggunakan istilah-istilah dan kosakata asing yang sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Di awal hingga pertengahan abad 20, dimana araoma kolonial sangat kental tercium pada budaya kita. Para ningrat atau yang merasa ningrat, orang-orang dari strata atas dan para isteri pegawai pemerintahan gemar sekali menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Belanda yang dicampuradukan dengan bahasa Indonesia untuk menunjukan bahwa mereka berasal dari golongan atas. Mereka yang pada saat itu menguasai bahasa Belanda dianggap orang yang modern, terpelajar, atau ningrat.

Sekarang, ketika pengaruh kolonialisme telah memudar, anggapan bahwa bahasa Belanda menunjukan identitas "ningrat" sesorang sudah tidak berlaku lagi. Bahkan anggapan itu cenderung bergeser. Sekarang orang malah menganggap penggunaan istilah-istilah bahasa Belanda yang dicampuradukan dengan bahasa Indonesia itu kuno, ketinggalan jaman, dan hanya dipakai oleh oma-oma (hehe..)

Yang sedang marak sekarang adalah menggunakan istilah dan memberi nama menggunakan istilah dan kosa kata dalam bahasa inggris.

Sebagai contoh, saya ingin bertanya "pernahkah anda pergi berbelanja ke Alun-alun Cilandak?" atau "pernahkah sebuah pameran digelar di Balai Sidang Jakarta?". Tentu tidak pernah, karena kita sekarang pergi "shopping" ke "alun-alun Cilandak" yang diberi nama mentereng "Cilandak Town Square", dan "Balai Sidang Jakarta" punya nama beken "Jakarta Convention Center", dimana sering diadakan "expo" dan "eksebisi".

Tentu orang-orang akan berdalih "itukan bahasa marketing, biar menarik". Dan menganggap penggunaan nama-nama dengan bahasa Indonesia untuk ikonisasi akan terkesan kampungan, lucu, ndeso, dan lain sebagainya. Jadilah kita menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Citos, Setos, Detos, dan "tos-tos" lainya. WTC, ITC, BTC, dan "TC-TC" lainya.

Sekarang saya ingin bertanya, dimana letak "ndeso"nya kosa kata bahasa Indonesia? Apakah karena kita sebenarnya malu mengakui bahwa kita orang Indonesia, sehingga kita ingin sekali mencoba untuk menghilangkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia dengan meninggalkan bahasa indonesia?

Tentu bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, dan saya di tulisan ini tidak menyalahkan penggunaanya bila dipakai dalam pergaulan internasional. Tapi ini? Yang punya acara orang Indonesia, yang dateng juga orang Indonesia, gedungnya di Indonesia, tokonya punya orang indonesia, yang belanja orang indonesia, ngomong sama orang indonesia, tapi kenapa pakai istilah dan kosakata asing?

Sebagai kontras, masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang modern. Negaranya memnguasai kemajuan teknologi. Perekonomianya stabil. Tetapi bangsa Jepang merupakan bangsa yang sangat bangga dengan bahasanya. Hampir tidak ditemukan produk dan perusahaan dari jepang, baik itu restoran, pusat perbelanjaan, merek mobil, dan lainlain, yang menggunakan bahasa Inggris. Malah hampir sulit menemukan tulisan latin di negara tersebut. Modul-modul, buku-buku dan istilah-istilah ilmu pengetahuan hampir semuanya menggunakan bahasa Jepang. Dan lihat, apakah bangsa jepang merupakan bangsa yang tertinggal dan kampungan?

Perlu dicatat, bahasa kita, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang modern. Dimana ini dapat dilihat dari dapat digunakanya bahasa Indonesia dalam lingkup pendidikan. Lalu mengapa kita malu menggunakan bahasa sendiri? Menulis "Sokarno-Hatta Airport" gede-gede diatas tulisan "Bandara Soekarno-Hatta". Ini bandara internasional milik Indonesia bung! Seharusnya yang ditulis besar-besar adalah bahasa Indonesia, lalu baru artinya dalam bahasa Inggris ditulis dibawahnya agar wisatawan asing mengerti. Dimana identitas kita? Masa bahasa orang didahulukan di negeri sendiri daripada bahasa sendiri. Jangan-jangan nanti Monas lebih dikenal sebagai Namon lagi (National Monument, hehe)

Sudah saatnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Karena bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat sakral sebagai kebanggaan dan identitas bangsa, selain sebagai bahasa pemersatu bangsa tentunya. Mungkin akan terasa rancu pada awalnya, bahkan terdengar menggelikan (seperti ketika memadankan kata "mouse" komputer dengan kata "tetikus"). Tetapi seiring waktu, toh kita akan terbiasa (seperti menggunakan kata rudal sebagai pengganti kata "missile" dan mengindonesiakan singkatan ATM.. sumpah! Teman-teman saya masih banyak yang kaget ketika tahu bahwa rudal itu singkatan dari peluRU kenDALi, bukan bahasa Inggris..dan ATM dapat dipanjangkan menjadi Anjungan Tunai Mandiri, bukan Automatic Teller Machine..hehe)

Salam hangat
Gani, seseorang yang berharap suatu saat bisa berbelanja di "Toserba Blok M" atau di "Kota Senayan"

[+/-] Baca selengkapnya...

Rabu, 18 Februari 2009

Curious Boy

Terkadang,saya banyak mendengar masukan tentang aktivitas tulis-menulis saya selama beberapa minggu terakhir ini.yah banyak yang bilang "gila..masih bocah nulisnya ngeri begitu!!!"..."yah masih bocah sok tau"...."wah parah tulisan lo,eling,wahhhh mau kiamat nih!!mulai banyak orang-orang kayak lo soalnya!!!"..dan masih banyak lagi 'nasihat' sejenis.

Memang saya sering sekali membahas topik-topik 'tak terjamah' dalam tulisan-tulisan saya.Beberapa waktu lalu,saya sempat ikut debat mengenai eksistensi akhirat di salah satu notes teman.Saya menanyakan perihal Tuhan secara nalar,akhirat secara nalar.Pertanyaan-pertanyaan yang mendatangkan 'cemoohan' seperti "astagfirullah,liat quran ja,lu sesat banget,tanda-tanda kiamat nih" dan sejenisnya.

Topik tulisan saya kali ini bukan ingin membahas kembali topik debat akhirat seperti diatas (i dont wanna get involved in the brutal debate again..heheh).Melainkan sedikitnya menjelaskan motivasi saya untuk menanyakan hal-hal yang 'tak boleh dipertanyakan' seperti diatas.

Mungkin anda pernah lihat di pusat perbelanjaan,Anak-anak balita yang di tiap pemberhentian ibunya mau ambil barang pasti selalu tanya-tanya "ma..kok ikan lele berkumis? apakah ia mengikuti sunnah rasul?" atau "ma,kepiting itu seorang junkies ya? mulutnya berbusa! " dan lain-lain.poin saya adalah mereka memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa.Bertanya tentang segala hal kepada setiap orang,walaupun pada beberapa kesempatan mereka dibohongi apabila pertanyaannya kelewat "ga balita".tetapi itulah keunggulan mereka sesungguhnya,Bisa dibilang setengah pengetahuan kita sekarang terhadap dunia,didapatkan ketika kita masih balita yang selalu bertanya.

Tetapi,ketika kita dewasa,pertanyaan entah kenapa semakin jarang kita keluarkan.Entah karena kita semakin terbiasa dengan pengajaran satu arah di sekolah (duduk rapih,ga boleh motong guru,dll).Atau karena keingintahuan kita yang semakin pudar kemudian hilang sama sekali? Terutama pertanyaan tabu macam "apakah guna kita hidup di dunia" dan seterusnya.Kita seakan menerima segala kebenaran begitu saja.Dari sumber-sumber yang kata kebanyakan orang 'sahih' dan 'tak patut dipertanyakan'.budaya sistem "jangan tanya,tapi lakukan!" pun lalu kita telan mentah-mentah.Kita menjalani itu semua dengan patuh tanpa mengetahui makna-makna keharusan kita melakukan itu.

Padahal,kebenaran yang sudah dicap "absolut" dan "haram dipertanyakan" seperti itu justru malah menunjukkan lemahnya fondasi kebenaran itu sendiri,Tetapi,akibat guru yang mengajar satu arah,Orang tua yang tidak suka berdiskusi dengan anknya secara egaliter,serta lingkungan yang juga "patuh 100 %".Mengakibatkan kita pun menelan mentah klaim yang ada,Sampai akhirnya diujung hari tua kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak mengetahui hidup yang dijalani berpuluh-puluh tahun itu bermakna apa.

Saya pun berusaha menerapkan kembali keingintahuan saya semasa balita di kehidupan saya sekarang dan seterusnya."ah masih ingusan aja..ga tau apa-apa." kata orang.Biarlah,daripada saya harus menyadari ketika renta nanti,Menyesali bahwa saya telah menyia-nyiakan hidup yang masih buram maknanya.Bukankah ini adalah pertanyaan semua orang? tak peduli umurnya.

Saya lalu berusaha menanyakan segalanya,Mengajak semua klaim yang ada untuk diadu dengan argumen saya,Semata-mata demi memperoleh kebenaran agung yang (saya yakin) dikehendaki semua orang."i think therefore i am" kata Descartes,"saya berpikir ,maka saya ada" dengan bertanya,maka kita sudah menunjukkan definisi eksistensi kita sebagai manusia yang menginjak dunia yang penuh dengan tanda tanya dan misteri ini.Dengan bertanya-tanya,saya sebenarnya hanya berusaha memaknai hidup saya yang singkat ini.By being a curious boy,till the day i die.

"Hidup yang tak pernah dipertanyakan,adlah kehidupan yang tak layak diteruskan.."
-Socrates


Stay curious,
salut,

MIRZA FAHMI

[+/-] Baca selengkapnya...

Hukum Keterbalikan

Mungkin sekilas posting ini seperti rumus Fisika ataupun teori-teori tentang penciptaan alam gitu, namun sesungguhnya ini hanyalah pengamatan saya dari beberapa kejadian dan peristiwa yang telah menimpa hidup saya selama ini, dan minimal hal ini benar -benar terjadi kepada hidup saya,setidaknya.

Dalam dunia ini, ada dua hal yang diciptakan saling berpasangan, atau berlawanan, misalnya air dan api, dingin dan panas, baik dan buruk, mujur dan tidak mujur(mulai asal)hehe.Ya, intinya kita selalu menemukan dua hal yang berlawanan yang terjadi dalam hidup kita, dan itu memang benar kan?

Kalau saya coba runut dari jaman dahulu, dalam kehidupan saya selalu saya jumpai hal-hal yang menarik mengenai hal yang berkaitan dengan keterbalikan ini. Sebagai contoh, misalanya dalam suatu minggu saya telah mengalami hal-hal yang menyenangkan dalam suatu bidang yang saya geluti contohnya dalam karir musik saya, namun disatu sisi harus ada yang di "korbankan" dalam kehidupan saya, misalnya dalam hal asmara saya mengalami "ketidak-senangan", dalam hal pelajaran saya mengalami "kekurang-baikkan". Dan pada minggu depannya lagi saya mendapatkan nilai-nilai yang baik dalam pelajaran, namun disatu sisi kehidupan pertemanan saya justru "terganggu".

Ya, kadang memang kita tidak bisa menempatkan suatu kebahagiian secara absolut. Pasti tuhan telah merencanakan suatu hal dengan baik-buruknya, dan saya jadi mengingat suatu firman bahwa Tuham selalu menciptakan sesuatu berpasang-pasangan.Ya, mungkin saja itu berkaitan juga dengan segala sesuatu yang kita alami.Oleh karena itu janganlah kita merasa bahagia secara berlebihan, karena tuhan sesungguhnya telah menciptakan dan merencanakan sesuatu keterbalikan yang tidak dapat kita hindari.

Aga

[+/-] Baca selengkapnya...

Selasa, 17 Februari 2009

Emansipasi

"Woman was created from the ribs of a man
Not from his head to be above him
Nor from his feet to be walk upon him
But from his side to be equal
Near to his arm to be protected
and close to his heart to be loved
"

Oke pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan mendiskusikan masalah yang kadang hangat kadang basi kayak makanan di warteg dekat kampus saya,haha.. Yaitu masalah emansipasi, ya anda benar, masalah yang sepertinya tidak akan pernah habis dibahas dan dapat menyebabkan debat panas yang berkepanjangan, terutama apabila yang memperdebatkan berbeda kelamin..Tapi tenang, dalam tulisan ini saya hanya akan membahas masalah emansipasi secara santai, dengan diselingi oleh joke-joke segar khas masyarakat jelata..Jadi saya harap anda tidak tersinggung nantinya oleh 'statement' nyeleneh yang saya lontarkan, itukan hanya gurauan,hehe..Namun saya harap, dari gurauan saya ini dapat dijadikan bahan renungan dan pertimbangan dalam memandang masalah ini.

Bicara tentang emansipasi tentu akan lekat dengan yang namanya emansipasi wanita. Seolah dua hal tersebut adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu, saya akan menilik dari arti kata emansipasi itu sendiri terlebih dahulu, baru kemudian akan saya bahas masalah emansipasi wanita

Pada hakikatnya, emansipasi adalah pembebasan, jadi bukan 'persamaan' seperti yang sering orang artikan selama ini. Walaupun, arti ini bisa juga digunakan pada konteks tertentu. Emansipasi adalah pembebasan dari diskriminasi, seperti emansipasi ras yang terjadi pada Keturunan Afrika di Amerika, yang berarti pembebasan mereka dari diskriminasi dimana mereka dihalangi hak-haknya oleh keadaan.

Sekarang kita kembali ke emansipasi wanita. Yang menjadi pertanyaan utama adalah, bentuk diskriminasi yang bagaimana sih yang sebenernya harus dibebaskan dari wanita? Apakah hak-hak perempuan harus disamakan secara membabibuta?

Ternyata sudut pandang kaum feminisme radikal, yang dipakai oleh kebanyakan orang sekarang, bahwa wanita dan pria harus disamakan hak-haknya belum tentu adil.
Pertama, kenapa hak harus disamakan kalau memang secara dasar kebutuhan pria dan wanita berbeda?
Kedua, perbedaan hak dan kewajiban tidak selamanya tidak adil.
Dan ketiga, saya merujuk dari Al-Qur'an , maaf bagi yang non-Muslim, bahwa pria dan wanita itu berbeda hak dan kewajiban, seperti termaktub di surat An-nisa ayat 32 "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu"..

Selain itu, dua orang psikolog modern yang terkenal di Amerika, Alan & Barbara Pease, yang menulis buku best seller dunia "why men can only do one thing at a time and women can't stop talking" berkata dalam bukunya bahwa pria dan wanita berbeda. Dan menyamakan hak-haknya malah akan menghancurkan tatanan masyarakat.

Oke, bagi yang wanita jangan panas dulu dan keburu memberi komentar pada artikel ini,hehe..Tahan dulu, karena saya akan menjelaskan secara lebih terperinci mengenai paparan diatas.

Jadi, perbedaan hak dan kewajiban itu harus ada dan tidak bisa ditiadakan. Mengapa? Karena seperti yang saya bilang tadi, kesamaan belum tentu adil, dan ketidaksamaan belum tentu tidak adil. Karena keadilan bukan berarti kesamaan, tetapi menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya..

Mau contoh? Oke. Hak cuti hamil hanya dimiliki wanita, wajib militer hanya dimiliki kaum pria, wanita (dan anak-anak) selalu didahulukan dalam suatu usaha penyelamatan, yang wajib mencari nafkah adalah pria (disini saya bilang WAJIB, jadi bila ada wanita yang mencari nafkah malah lebih baik, karena dia melakukanya tanpa didasari kewajiban. Dan uang yang ia peroleh pun boleh dipergunakan sendiri tanpa campurtangan suami).. Tidak adilkah itu? tentu saya rasa hal-hal diatas adalah suatu kewajaran yang adil. Dimana secara fisik dan batin pria dan wanita berbeda, jadi perbedaan-perbedan yang positif haruslah ada. Justru dengan perbedaan itulah kita saling melengkapi dan saling mengisi satu sama lain. Seperti contoh, Pria membuat keputusan dengan lebih memberatkan logika, wanita menasihati dan menyempurnakan keputusan itu dengan pertimbangan hati nurani. Pria membangun dan melindungi, wanita menghias dan merawat. Dan lain sebagainya

Lalu apa yang harus dibebaskan atau diemansipasikan dong kalau begitu? yang perlu dibebaskan adalah persamaan dalam 'pemenuhan' hak-hak, bukan hak-haknya yang disamakan. Selama ini hak-hak wanita disepelekan, dinomorduakan. Banyak para patriarkis (penganut pandangan maskulinisme) menyalahartikan kelemahan wanita dengan menjadikan wanita sebagai kaum yang bisa dieksploitasi kelemahanya. Sehingga mereka, kaum patriarkis, hanya melihat kewajiban-kewajiban wanita saja yang harus dipenuhi oleh wanita, tidak dengan haknya yang sebenarnya juga harus dipenuhi kepada wanita (istilahnya mau ngambil enaknya aja dari perbedaan yang ada)

Dengan memandang wanita sebagai manusia kelas dua itulah mereka melakukan ketidakadilan. Seperti melarang wanita berkarir, disuruh ngurusin rumah, tetapi dilain pihak tidak dapat memberi nafkah yang memadai, jadi sasaran kekesalan diri dengan melakukan KDRT(mending jadi PRT sekalian dah, ngurus rumah digaji, hehe). Disini saya tidak bilang bahwa pandangan kalau wanita lebih baik tidak berkarir itu salah, selama wanita masih diberi ruang gerak untuk melakukan apa yang ia suka sepanjang tidak meninggalkan peranya sebagai isteri atau ibu. Dan juga selama nafkah masih terpenuhi (yang ternyata baru saya ketahui dari guru agama saya, bahwa nafkah itu bukan uang buat makan dan keperluan sehari-hari, tetapi uang saku khusus diluar uang makan dan keperluan sehari-hari yang harus diberikan oleh kepala keluarga kepada istri untuk digunakan sesuai kehendak istri. Jadi benar-benar uang 'saku') sah-sah saja apabila seorang pria menyarankan kepada wanita untuk tidak berkarir.

Pasti kita semua tahu quote "dibalik laki-laki yang hebat, ada wanita yang hebat", bukan "dibalik wanita yang hebat ada pria yang hebat"..nah disinilah peran wanita yang sebenarnya, peran yang sangat vital sesungguhnya. Karena setiap pria yang hebat, selalu ada ibu yang mendidiknya dengan kasih sayang, dan juga istri yang mengarahkan.

Selain itu, seperti yang kita lihat, banyak perubahan-perubahan di dunia ini tak lepas dari peran wanita yang sangat besar. Kita tahu Siti Khadijah, Bunda Maria (atau Siti Maryam), Joan Arc, Cut Nyak Dien, Ibu Fatmawati Soekarno, Ibu Tien Soeharto, Ratu Elizabeth, Corazon Aquino,Bunda Theresia , Marie Curie, dan masih banyak lagi wanita hebat lainya. Yang menunjukan bahwa sejarah mencatat wanita tidak kalah dengan pria..

Jadi sudah saatnya kita menelaah secara lebih mendalam, tentang hak-hak dan kewajiban masing-masing, serta keadilan dalam pemenuhanya. Karena wanita bukan hanya sekedar pelengkap bagi pria, dan begitu pula sebaliknya. Tetapi pria dan wanita adalah dua induvidu sejajar yang saling melengkapi. Berbeda dalam banyak hal, namun tetap sederajat. Dimana tidak ada yang lebih baik, ataupun lebih buruk. Seperti 'yin' dan 'yang' yang saling melengkapi untuk mengisi enerji kehidupan ini. Agar berjalan secara harmonis dan berkesinambungan

Best regards

[+/-] Baca selengkapnya...