Selasa, 14 April 2009

Counter-Culture

Beberapa hari ini karena kebetulan sedang berada dirumah,saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa group di facebook.Beberapa group yang pasti langsung memikat anda,dikarenakan topic group yang “seru”.Group Anti Band Anu,Anti Band Fulan,Band Ini Plagiat,dan lain-lain.Intinya serupa,yaitu mengajukan topik mengenai permusikan lokal kita yang semakin memburuk.Namun setelah menjelajah hingga lepas larut malam,Saya belum menemukan yang saya cari,sebuah solusi kongkrit dan masuk akal.



Yang ada malah pola seperti ini.Di group anti2an itu dibuka discussion board (dengan judul yang kelewat offensive,kekanakan,meaningless),biasanya topiknya berkutat di ranah hujatan saja.Lalu datang comment nimbrung menghujat seperti air bah.Biasanya Cuma berupa sepatah kata cacian tanpa alasan yang relevan yang diulang-ulang.lalu ada satu orang yang memiliki pendapat yang berbeda.Hal ini bukannya ditanggapi dengan Admin memberi alasan rinci,malah disambar seketika dengan “wah…ada yang nge-flame nih…serang gan!!!”.Yang terjadi selanjutnya mudah diprediksi,saling caci maki (kadang2 membawa makian yang jauh keluar konteks),debat kusir absurd keroyokan (faktor mayoritas anak ABG yang join?).Solusi yang diharapkan semakin menjauh dari pandangan.Dan -maaf- ini tidak Cuma terjadi di topik musik,melainkan di segala topik berdasarkan segala isu pro-kontra.Mengapa terjadi seperti ini? Apakah sedemikian buruknya budaya kita untuk sekedar mengakomodasi kegiatan diskusi yang nyaman dan sopan? Mengapa segala discussion group yang mengusung isu krusial ini selalu terjebak pada hal-hal sepele seperti ini ?.Seakan-akan apabila pendapat mereka (tuan rumah group dan antek “idealis”nya) dinegasikan,seluruh harga diri mereka turut jatuh ke Bumi.Budaya kekanakan seperti ini tidak COCOK untuk berdiskusi.Semua akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya (udah keluar konteks nih.hehe)

Sekali lagi,akhirnya selama saya surfing diantara group2 sejenis ini.Tiada satupun solusi tepat yang keluar.Yang ada Cuma saling serang dan saling mengklaim “lo alay…!!!”, “lo yang alay,,an&*&g lo!!! “,sibuk memisahkan band mana yang alay dan “patut dibasmi” dari band yang dianggap “okay,fine..”. dan discussion board Cuma membahas sejauh “mengapa Kangen Band bermuka nelangsa? “ atau “Band-band yang diplagiasi D’Masiv” Saling kick (dikeluarkan dari group) terjadi dimana-mana.Absolutely ABSURD.Sekali lagi,hanya mengeluh,merepet,memaki,tiada solusi.

Padahal,apabila mereka berusaha fokus saja terhadap masalah ini (tanpa segala debat melelahkan tak berujung itu) dan tidak Cuma menyentuh permukaan dari fenomena gunung es ini,saya yakin solusi bisa cepat didapatkan.Maka dari itu,disini saya mencoba memberikan solusi masalah ini.Ini hanyalah analisa amatiran saya,tentu tidak didukung dengan data otentik.Hanya saya merasa ini lebih baik daripada sekedar membuang gerak jari mengetik caci maki tanpa solusi. Saya akan mulai dengan terlebih dahulu mengajak pembaca mengingat salah satu petuah orang bijak dahulu kala.”Sejarah selalu berulang..”

Mari kita flashback kembali ke pertengahan 70-an,era dimana Rahmat Kartolo,Panbers,Tetty Kadi,Obbie Messakh,D’Mercy’s (mengingatkan gua akan D’Masiv) adalah jawara blantika musik Indonesia.Pola musiknya mirip seperti sekarang,ketukan drum lesu,notasi minim kreativitas,dan (tentu) lirik yang menyayat hati setiap pendengar.Sekilas music Indonesia 70-an sudah mentok disini.Tetapi,disuatu lokasi di Jakarta bernama Gang Pegangsaan tersebutlah sekumpulan anak muda yang memilih jalur berbeda.mereka,dengan bakat diatas rata-rata,berusaha untuk melakukan breakthrough dengan segala cara.Kesempatan itu datang tatkala sutradara legend,Teguh Karya meminta seorang pemuda dari Gang Pegangsaan itu untuk mengisi score film terbarunya.Dengan berbekalkan peralatan seadanya,pemuda tersebut mengajak beberapa orang temannya untuk membantunya.Film itu sukses besar.Tetapi kesuksesan score filmnya jauh lebih dahsyat.Bahkan semenjak dirilis menjadi full-album langsung menjadi best-seller dan serta merta langsung meroketkan nama para penciptanya.Ya,benar.Nama album itu (seperti nama filmnya) adalah Badai Pasti Berlalu.Para penciptanya,Eros Djarot,Yockie Suryoprayogo,dan (terutama) Alm. Chrisye langsung menjadi household name musik local,menggeser nama-nama yang lebih dulu disebutkan.

Memasuki dekade 80-an sudah kita pahami semua.Godbless merajai music rock,Fariz RM dengan elektronika uniknya,jazz level dunia dari Krakatau,serta musik-musik kritik apik macam Harry Roesli,Iwan Fals,dan Ebiet G.Ade.Namun diakhir decade 80-an terlihat seperti terjadi pengulangan dari era 70-an.Musik-musik ‘lesu’ seperti Panbers dan Rahmat Kartolo muncul dalam bentuk Dian Piesesha,Nia Daniaty,dan kawan-kawan.Meroketnya musik ini kembali bahkan hingga membuat menteri penerangan saat itu,Harmoko,Membuat statement yang melarang TVRI menayangkan musik-musik ‘cengeng’.

Akan tetapi,trend ini tidak bertahan lama,bukan dikarenakan statement Harmoko tadi,melainkan segera munculnya nama lain yang berasal mula sama seperti anak-anak Gang Pegangsaan.Mereka memilki nama Gang yang berbeda,Gang Potlot.Slank dengan album debutnya yang eksplosif berhasil merebut perhatian khalayak dan kembali menempatkan musik rock ke tahtanya.Melihat bahwa anak-anak muda bisa melakukan terobosan hanya bermodalkan semangat dan kerja keras,Segeralah menyusul band-band yang terinspirasi .Muncullah band-band seperti Dewa 19,Kla Project,dan lain-lain.

Apakah anda sudah mengerti point saya dari serangkaian flashback yang dijabarkan diatas?.Intinya adalah,saya berpendapat bahwa untuk membunuh satu trend diperlukan trend lainnya yang berani menempatkan diri sejajar dengan trend tersebut.Untuk menghabisi satu culture diperlukan counter-culture.Seperti culture Rahmat Kartolo,Panbers dan lain-lain disapu bersih oleh musisi-musisi Gang Pegangsaan seperti Yockie S,Keenan Nasution,Chrisye.Seperti culture neo-sendu awal 90-an dihabisi D.I.Y anak-anak Gang Potlot.

Mari kita lihat apa saja amunisi kita untuk menggencarkan counter-culture dengan segera.Di ranah pop kita memiliki Efek Rumah Kaca,Sore,WSATCC,dan lain-lain.Di jalur rock ada Seringai,Polyester Embassy,The S.I.G.I.T.Hampir tak terhitung! Lalu mengapa perubahan belum terjadi ? seperti saya sebut diatas,counter-culture itu HARUS MENEMPATKAN DIRI SEJAJAR DENGAN CULTURE YANG AKAN DIHABISI.Apakah ini sudah terjadi? Jawabannya belum.Dan mustahil terjadi apabila para scenester kita kerap MENGHUJAT SETIAP BAND YANG INGIN MELEBARKAN SAYAP.

Masih ingat S.I.D ? di tahun 2002 mereka merilis album berjudul Kuta Rock City (masuk daftar majalah Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik Indonesia sepanjang masa) dan langsung dihujani hujatan from the so-called Punk Rock Scene.Koil pun pada 2003 merilis Megaloblast dan langsung dicap “murtad”.Tidak usah jauh-jauh,Rocket Rockers baru-baru ini tampil di Dahsyat dan beberapa kawan saya serta merta mencemooh.Bagaimana caranya kita merubah trend apabila setiap band “indie” tetap tinggal di “bawah tanah” dan menolak pergi ke medan laga? Dan setiap band yang memutuskan pergi ke sana langsung kehilangan support dari rootsnya?.

Penyebab utama adalah memang major label sudah dicap negative sejak dahulu kala.Tetapi apakah dengan Indie Label yang notabene Cuma mencakup regional terbatas kita bisa memulai movement perubahan ? bukankah satu-satunya cara adalah MENGEKSPOS MUSIK KITA SEBESAR-BESARNYA? mari kita pikirkan seperti ini,coba kita bayangkan apabila The Beatles memilih main regular di kafe-kafe kecil Liverpool dan menolak tawaran rekaman.Atau Chuck Berry yang lebih suka menjadi street musician daripada go public.Pastilah musik yang kita dengarkan hari ini Cuma sejenis Motown dari The Supremes,Aretha Franklin,dan paling pol adalah boogie-woogie monoton.Bisa mengerti maksud saya?


PERUBAHAN BISA TERJADI APABILA KITA RUBAH JUGA DIRI KITA.Rubah paradigma! INDIE ITU HAKIKATNYA CUMA BATU LONCATAN,BUKAN JALAN HIDUP.Paradigma seperti itulah yang kita (terutama para musisi) butuhkan.Silakan menghujat saya sebagai sell-out bitch,dll.Tetapi apabila kita terus berdiam di “bawah tanah kita yang nyaman” kapan khalayak bisa mendapat option (dalam konteks ini,option karya musik yang dirilis ke pasar) dan tanpa option,kapankah perubahan yang kita semua idam-idamkan bisa terjadi? Bila kita tidak menunjukkan keberadaan kita,bukankah khalayak akan terus mengkonsumsi segala yang ditawarkan industry music kita? Ingat,masyarakat mainstream menyukai musik yang kita anggap sampah itu bukan karena lirik mendayu-dayu,ketukan lesu,kunci standar.Melainkan karena mereka tidak pernah memiliki alternatif musik lain untuk didengar. DAN INDUSTRI TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MEMASOKNYA.Dilengkapi dengan kemalasan Indie untuk go-public..Lingkaran setan bukan?

Kita butuh untuk merebut ruang-publik itu dari mereka (para pengeruk kuntungan,minim kualitas rilisan),dengan cara mengirimkan segenap amunisi terbaik kita.Rocket Rockers yang sejak kemarin selalu dicemooh karena dianggap “sell-out” akibat tampilnya mereka di TV prime-time.Tapi bagi saya mereka telah melakukan hal yang berani.Mengapa? karena dengan begitu mereka telah berani mengekspos karya mereka ke depan publik mainstream.Mereka telah menunjukkan keberadaan mereka dan scene mereka ke khalayak luas.Inilah yang sesungguhnya kita butuhkan.Kita harus menyerang mereka tepat dimana mereka “bernafas”.Para musisi Indie haruslah beranjak dari “bawah tanah yang nyaman” menuju laga sesungguhnya berada.EKSPOS KARYAMU DIMANA-MANA.TAKE EVERY CHANCES OUT THERE.Tunjukkan bahwa musik seharusnya seperti apa.Hancurkan eksklusifisme dalam bermusik!

Maka dari itu,saya akan terus mensupport band-band Indie yang sudah “beranjak dewasa”.Yang berani menunjukan karya mereka kepada publik yang lebih luas.Inilah buah bakal perubahan.Bukan para musisi yang sok eksklusif,terlalu pengecut menunjukan karya untuk diadu dengan karya-karya yang selama ini mereka nistakan.Dan bukan pula para tukang nyampah di forum2 diskusi maya yang semata-mata Cuma menuju nihilisme akut minim substansi.

“sejarah selalu berulang..” dan kita tinggal memilih.



Rebut,Ubah,Nikmati

MIRZA FAHMI



4 komentar:

  1. ide yang baik! ini ide yang sangat baik untuk 'membunuh tuhan'. hahahaha suport terus industri musik lokal (kalau bosen sama yang sama, dukung yang beda :P).

    tapi gue punya pertanyaan deh. kita tahu bawha kapitalisme identik dengan marxisme tapi jangan lupakan skindhead/KKK. nah, mana yang budaya tanding, skinhead atau marxisme?

    BalasHapus
  2. Waduh, Skinhead sama Marxist ?
    Pertanyaannya agak ribet jadi gua mesti diskusikan dulu tadi ama temen gua. hehe.

    Marxisme itu kan perangkat analisis marx yang digunakan untuk menjelaskan soal apa sih yang membuat manusia hidup menderita ? dia menjabarkan soal class struggle.

    Skinhead itu manifestasi ( Anakan ) dari budaya Punk.

    Jadi marxis sama skinhead mana yg counterculture ? Pertama kali sebelumnya gua akan meminta maaf, karena ketika gua menulis notes ini, gua membuat asal saja. Gua belum menjelaskan apa maksud countercuklture itu secara clear, kultur itu kan selamanya harus berdasarkan pada praktek keseharian. Daily life. Jadi apakah diats itu counter culture ? salah besar . Itu baru mencakup.pergantian mindset, bukan budaya yang didasari keseharian. Jadi hiraukan saja judul diatas.

    Marxisme pada asalnya juga hanya pergantian mindset, penjabaran adanya class struggle sebagai bahan bakar pergolakan dari waktu ke waktu. Marxisme sendiri baru dijadikan ideologi counter culture oleh Antonio Gramsci dengan perang posisi VS hegemoni itu, meskipun begitu, jika kita merujuk lagi ke Kultur sebagai manifestasi keseharian, maka counter culture baru bisa kita temui di jaman New Left, seperti Hippie ( yg berontak thdp pola hidup) Punk rock ( sama ) . Itupun dengan pemikiran tahapan lanjut dari Marxisme (Herbert Marcuse, Frankfurt school ). dan counterculture modern seperti zapatista (terinspirasi Antonio Negri, Lacan,dll)

    Jadi Marxisme pada zamannya, baru mencakup pola pikir, skinhead yang merupakan anakan dari Punk rock, masuk counter culture tentu.

    Sekian sih May pendek saja. Jadi tulisan kekanakan itu untung lo komentarin, kalo engga gua ga bakal tau salahnya.

    BalasHapus
  3. tapi menurut gue, marxisme itu bukan kontra kultur. yang kontrakultur itu ya skinhead.

    marxisme itu bukan kontrakultur, karena pada dasarnya marxisme dan kapitalisme itu sama sama mencari keadilan. bedanya, kapitalisme itu mencari keadilan melalui pasar bebas. jadi ya sama saja, hanya beda aja caranya.tapi, kalau skinhead itu dikatakan kontrakultur karena dia justru menolak keadilan, dia tidak setuju adanya keadilan di dunia, karena itu dia rasis.

    jadi, indie label dan major label itu sama saja... intinya indie label bukan kontrakultur. karena pada dasarnya sama, untuk mencari keuntungan, tapi hanya caranya saja yang berbeda. kita bisa contohkan pada apple nya machintos yang mencoba mendobrak dominasi pasar microsoft yang pada waktu itu sangat menggeludak. tapi pada akhirnya, apple pun berhasil dengan misinya meskipun beberapa kali pailit dan hampir bubar. tapi karena dia memunculkan iklan yg inspiratif dengan artis macam einstein, john lennon, bob dylan, dll, alhasil sudah banyak yg memakai apple di dunia ini. mungkin laptop lo juga memakai apple. hehehehe

    gimana tanggapan lo?


    CMIIW

    BalasHapus
  4. Memang, kalo kita melihat Movement pasca perang Dunia ( yg selalu dijadikan patokan umum ) seperti Baader Meinhof Gang di Jerman, atau Brigatte rosse mereka selalu memakai marxisme sebagai ideologi ( dengan bermacam2 variannya- new left ) tapi seperti gua bilang diatas : Marxisme BUKAN counter culture, beda ranah dan jangan dicampur aduk, ia baru perangkat analisis ( lihat kalimat gua yg paling atas) dan yang counter culture itu Baader Meinhof Gang, Brigatte Rosse, Skinhead. Yg mengaplikasikan apa yang di Pikiran ( Marxisme, New Left ) ke tindakan kelompok (Culture).


    Kenapa? karena kalo gua misalnya adalah seorang anarkis, dan ternyata keseharian gua masih mengikuti sistem otoritas politik seperti biasa (pikiran sama tindakan beda), itu BELUM counter culture, saat pikiran yang BEDA dengan yang mapan, karena nilai-nilai seperti self determination, otonomitas manusia semakin direduksi yang mapan, lalu kita melakukan Action secara kontinyu di keseharian. Itu baru Counter Culture

    Intinya Culture kan selalu berdasarkan 2 hal : pikiran dan tindakan. Nah kalo kata Jakob Soemardjo, dualisme pikiran dan tindakan itu tidak boleh ada.

    Punk itu counter culture jelas, pikiran mereka leftish dan dimanifestasikan ke D.I.Y daily life, dan kalo misalnya mereka membuat label yg masih konsekuen dgn pikiran mereka, dan berusaha merebut nilai2 yg "Mapan" duduki, ya counter culture itu. Tapi konteks gua di tulisan atas adalah, major label dan indie label sesuai kontesk lu may, sama2 pengen untung. Jadi gua rasa ga relevan ada pengkotak2an musik disana.

    BalasHapus