Senin, 17 Agustus 2009

Wanita itu setengah gila.. namun ia nampak bahagia.


"Just let the wind blow, the stream flow, and the rose grow. Let the be be"
"Everybody has his/her own path on his/her life"


Kemaren, sudah agak lama sih, saya tertegun melihat seorang wanita. Sebenarnya saya juga bingung itu wanita atau bukan, hehe..
Wanita itu begitu kusam, dengan rambut keriting kumal serta mata yang besar dan agak juling. Tingginya tak lebih tinggi dari anak kelas tiga smp. Dari penampilan dan tingkahnya, saya menebak bahwa wanita itu agak sinting, gila, miring, waham, retardasi, scizoprhenia (nulisnya bener gak tuh gw, haha) atau entahlah apa, pokoknya kurang waras. Didukung dengan perawakanya yang juga tidak seperti orang normal kebanyakan, lengkaplah sudah ke-invalid-an wanita tersebut.

Wanita itu, sebut saja Nasya (bagus amat namanya, haha. Nasya = Nama Syamaran -red) selalu naik kereta ekonomi listrik Serpong - Jakarta. Entah wanita itu ingin kemana atau sedang apa saya tidak tahu dan juga kurang peduli. Yang saya tahu, ia selalu duduk di pintu dan berteriak-teriak dengan suaranya yang sangat cempreng mengajak anak-anak jalanan dan pedagang asongan bercanda dengan gurauanya yang juga saya tidak mengerti. Tapi entah mengapa para anak jalanan dan pedagang asongan tersebut tampak ikut bergurau dan tertawa denganya.

Selama ini saya sering merasa terganggu dengan kehadiranya. Entah apa salah dia kepada saya, tapi melihat hadirnya saja sudah bikin saya gondok, hehe.. Tapi, hari itu entah kenapa saya jadi melihat hal yang berbeda darinya. Hal yang selama ini gagal saya lihat darinya kecuali ke-invalid-anya, suara cemprengnya dan penampilanya yang kumal (kata pak Djoko: kayak penampilan loe oke parlente aja Gan, hahaha). Mungkin karena akhir-akhir itu saya sedang banyak masalah dan sedang rajin-rajinnya mengutuki nasib sendiri, sehingga saya jadi bisa melihat hal itu dari Nasya dan tertegun karenanya.

Hal yang saya maksud itu adalah ia tampak selalu bahagia. Ya Saudara-saudara, ia, dengan segala ke-invalid-anya, dengan segala nasib buruknya, segala hal yang mungkin bila itu terjadi pada saya, saya tidak akan bahagia.. Atau bahkan saya akan mengurung diri di kamar seumur hidup! Namun ia tampak selalu bahagia!

Entah apa yang membuatnya bahagia. Saya jadi sangat penasaran. Dibuat bingung saya olehnya.. Dibuat kagum saya olehnya.. Dibuat jatuh cinta saya pada Nasy(ila)a (Mirdad, hehe). Oh Nasya, mengapa kau lakukan ini padaku, hahaha ngaco..

Setelah saya pikir-pikir. Pikir-pikir saya setelah.. Ternyata ia bisa begitu bahagia karena (mungkin) ia menerima apa yang sudah Tuhan berikan padanya. Atau juga (mungkin) ia terlalu lelah mengutuki nasib, sehingga ia memilih untuk tersenyum menghadapi kehidupan. Atau karena ia gila dari lahir, makanya ia tak merasa hidup ini adalah beban. Sungguh kalau begitu, syahdan, bahwa sesungguhnya orang-orang gila seperti Nasya adalah orang-orang paling jenius di dunia. Ya, jenius dalam menikmati hidup..

Ingat bapak-bapak buta bermain harmonika yang pernah saya ceritakan pada notes saya sebelumnya? kalo belum baca notesnya baca ya.. Bagus, hehe..Bapak-bapak itu pun sejenis dengan Nasya. Beliau pun juga memiliki kekurangan, yaitu beliau buta. Namun bapak itu tetap tegar menjalani hidup. Dengan harmonika tuanya ia memainkan lagu-lagu minor di sepanjang KRL Depok - Jakarta demi bertahan hidup. Ia pun memiliki cita-cita, suatu saat akan naik haji. Suatu impian yang benar-benar utopis bagi saya yang skeptis. "Mana mungkin bapak buta itu bisa ke Mekkah? Sedangkan hidupnya saja susah." begitu kata hati saya. Kata hati saya begitu..

Tetapi mungkin itu yang membuatnya bisa bertahan menjalani hidup. Menyangganya dari keterpurukan akibat frustasi oleh kebutaanya. Mungkin mimpi dan harapan adalah cahaya penerang yang selalu menerangi setiap langkah-langkah lelahnya mengamen di dalam kereta. Lalu saya pun membuat kata-kata bijak (boleh dong sekali-kali pandir seperti saya mencoba berkata bijak, hehe). Ingat baik-baik, karena mungkin suatu saat kutipan bijak ini akan di kutip di buku-buku best sellernya Mario teguh, hehe ngarep. Begini bunyinya "Hal yang terjadi hari ini adalah realita, kita harus tetap berusaha namun jangan lupa untuk menikmatinya. Dan hal yang kita nikmati di masa yang akan datang adalah cita-cita. Kita harus mengejarnya karena itu adalah cahaya yang selama ini menerangi kita dari gelapnya realita."

Kembali ke Nasya. Setelah saya pertimbangkan matang-matang. Ternyata selama ini saya terlalu banyak mengeluh. Padahal hidup saya tidak seburuk nasib Nasya. Mengapa saya harus lebih kalut daripada dia? Mungkin saya harus jadi setengah gila baru tahu jawabanya, hehe..

Karena bingung, saya pun pulang dan cuci kaki. Abis itu sebelum tidur saya pun membuat puisi buat Nasya. (Puisi ini mengandung konten eksplisit, mohon minta bimbingan orang dewasa bagi yang belum cukup umur).

Oh Nasya, apa yang membuatmu begitu bahagia..
Apa yang kau lihat dari dunia melalui mata juling mu itu..
Apa kau melihatnya sama dengan ku, kadang terang namun lebih banyak pilu..
Ataukah indah berwarna-warni..
Seperti halusinasi Diori yang sedang nge-trip akibat Jamur Ajaib dari Bali..
Oh Nasya, Andai saja kau tak gila.. Apakah kau akan tetap bahagia..
Ataukah muram..
Seperti pilu nya Diori yang gagal ejakulasi setelah menonton film panas besutan Raam Punjabi..
Oh Nasya, minggir dari pintu, saya mau turun di Pondok Ranji..

Tertanda, Akbar Gani.


Pesan moral : Kalau lagi galau jangan mikirin orang gila, entar ikutan gila, hehe..bukan deng. Bermimpilah, nikmati hidup anda, jangan banyak mengeluh, karena itu yang akan membuat hari-hari anda semakin suram. Bila mimpi indah tak kunjung datang...makanya berdoa sebelum tidur, hehe..

1 komentar:

  1. kerennn.... :))
    gue suka sama kata kata bijaknya.. :))

    BalasHapus