Sebenarnya konser ini sudah lama digelar.Tetapi tidak ada salahnya toh saya membuat review yang kelewat telat ini.Saya hanya ingin sharing sedikit mengenai pengalaman saya menonton konser yang saya anggap luar biasa ini.Maaf kalau ada detail-detail yang terlewat.Maklum udah agak lupa.
Minggu malam,hujan tidak henti-hentinya mengguyur kota Bandung sejak menjelang magrib.Ini tidak menyurutkan niat saya untuk menonton konser tunggal salah satu band paling influensial di kancah Indie scene Indonesia,Pure Saturday.Eksistensi selama hampir 15 tahun menciptakan momentum yang cukup untuk menggelar konser tunggal ini.Dengan tajuk sama dengan album kompilasi Greatest Hits mereka yang dirilis tahun lalu,“Time For A Change,Time To Move On”.Informasi mengenai konser sejak jauh-jauh hari pun memudahkan banyak fans mengantisipasi konser ini.Saya lihat di Facebook,Bahkan ada fans dari Jawa Timur yang bela-belain untuk menonton konser yang cukup bersejarah ini.Sementara saya? saya cukup bersyukur konser ini digelar ketika saya kuliah di Bandung.haha
Konser ini digelar di GSG Itenas.Cukup jauh dari Kost saya yang terletak di bilangan Ciumbuleuit.Dengan naik motor kira-kira makan waktu 15 menit.Jadi,bisa dimaklumi keadaan saya yang agak basah kuyup ketika sampai di Venue.Ketika saya sampai,Venue belum dibuka.Duduk menunggu tanya loket dan penjaga,konser katanya akan dimulai jam 8 malam.Saya pun merokok sebentar,membeli tiket,dan membeli satu kaos Pure Saturday yang cukup jarang saya temui.Tak lama,kira-kira pada jam 19:50 venue dibuka.Para penonton yang sudah bergerombol sejak pukul 19:00,masuk ke dalam venue secara tertib.Begitu menjejakkan kaki ke dalam,segera terlihat set panggung yang cukup minimalis.Cukup sederhana untuk ukuran sebuah konser tunggal.Tinggi panggung kira-kira hanya sekitar setengah meter,dan tak ada barikade sama sekali antara panggung dengan 'kubu' penonton.Mungkin Pure Saturday ingin menciptakan suasana intim dengan para fans dan penonton pada konser malam ini.Kita lihat saja.
Para penonton pun,melihat panggung yang rendah,segera memutuskan untuk lesehan saja di lantai.Dengan lesehan pun saya merasa bisa mengamati sekeliling dengan leluasa.Tampak GSG tidak terisi penuh sehingga udara terasa lega.Nampaknya ini akan menjadi salah satu kunjungan konser saya yang paling nyaman,pikir saya.Diatas panggung terlihat para kru sedang mengeset alat-alat dan sound-system.Para penonton tampak amat antusias.Menurut info,konser kali ini tidak memakai band pembuka.karenanya,tak sampai 20 menit menunggu,Terdengar suara perwakilan E.O dari pengeras suara,menyambut Pure Saturday naik keatas panggung.And the crowd went wild at the same time!.Seiring dengan naiknya para personil,penonton meneriaki nama mereka satu persatu.Sementara para personil lain sibuk menyetel alat-alat mereka,Iyo sang vokalis menyapa sejenak para penonton,berterimakasih atas kedatangannya serta rela berhujan-hujan demi konser yang cukup sederhana ini.
Selepas sambutan singkat,seketika lampu venue dan panggung dimatikan.Penonton yang belum sempat mengucap sepatah kata pun,dibuat tertegun dengan suara Hi-Hat,Udhie sang drummer memainkan notasi drum yang sangat familiar.Banyak penonton yang menebak-nebak.,"oh gue tau nih...pasti.." tebakan yang tepat,sound fuzzy delaying gitar Adhie yang dreamy dengan sigap bersinergi dengan melodi-melodi Arief yang sederhana tetapi cepat menyangkut di telinga.Keduanya segera menimbuhi permainan drum tadi.Crowd langsung menyanyikan verse pertama dari lagu yang mereka sudah hafal benar ini.”I don’t know why we do it like this,oh,so strange….” Koor massal serentak membahana di dalam venue.”Pathetic Waltz” adalah pembuka konser yang sangat cantik.
Terlihat sejak lagu pertama para personil PS sibuk dengan instrument mereka masng-masing dan tidak banyak bergerak.Mungkin mereka memang mengutamakan kualitas permainan pada konser kali ini.ini ditunjang oleh kualitas sound yang sangat prima dan akustik venue yang pas.Terbukti dengan mulusnya permainan mereka pada lagu-lagu berikutnya,seperti “Sajak Melawan Waktu”, “Mereka”,dan “Kaca”.satu hal lagi yang patut diberikan kredit lagi disini adalah permainan lighting apik dan Film-film pendek yang diproyeksikan pada layar putih besar dibelakang para personil.Masing-masing film mewakili tiap lagu yang dimainkan.
Pikiran langsung berusaha mencari jejak 15 tahun kebelakang.Pure Saturday menyeruak bersama Puppen dan Pas Band memulai suatu movement yang bertahan hingga kini.Yaitu Indonesian Indie Culture.Dengan music yang sudah established di luar negeri tetapi masih langka di Indonesia mereka segera menarik perhatian banyak khalayak.Terutama ketika album pertama mereka rilis sebagai bonus majalah Hai pada medio 1994.Album yang memang nampak sangat terinfluens The Cure,Ride,Stone Roses ini segera menempatkan lagu-lagu mereka pada airplay radio di banyak kota.Banyak band-band serupa segera bermunculan.Dan gerakan ini belum berhenti hingga sekarang.Memang suatu konser tunggal sangat pantas sebagai tribute untuk mereka.
Konser ini pun menelurkan banyak momen menarik.salah satunya adalah tampilnya Rekti The S.I.G.I.T sebagai vokalis tamu pada lagu “Nyala”.Kolaborasi yang menarik karena Rekti tampak menyanyikan “nyala” dengan vocal seperti pada lagu-lagu The S.I.G.I.T.Haha.Nyala dengan vocal ala Robert Plant memang Menjadikan lagu ini jadi ‘ugal-ugalan’.Selain itu,selepas kolaborasi,tampak para personil PS bercanda dengan memainkan intro “Whole Lotta Love”nya Led Zeppelin.ajakan jamming dadakan ini segera disambut Rekti.Jadilah satu nomor dari Led Zeppelin tiba-tiba masuk dalam repertoire konser.Penonton pun jadi terbawa gila-gilaan.Sing-along liar,sesuatu yang langka pada konser PS,terjadi di lagu ini.Bahkan salah satu pemuda dibelakan saya,meminta saya mengangkat badan dia,mau body-surf.haha.Sehabis lagu ini,Rekti yang turun panggung disambut tepuk tangan membahana crowd yang kelelahan tetapi terus tertawa mengingat kejadian tadi.
Bukan itu saja kolaborasi yang ada.Agung Burgerkill juga diajak pada satu jeda antar lagu.Dengan menenteng gitar akustik dan sekaleng bir,Ia naik ke panggung dan memainkan secara instrumental medley dari lagu-lagu Pure Saturday.Sungguh mengasyikan melihat Agung yang biasa memainkan nada-nada 'horor' Burgerkill sekarang memainkan nomor-nomor akustik instrumental dengan tingkat presisi yang tinggi.Permainannya ditutup dengan intro dari “Silence”.Intro ini Agung biarkan menggantung seraya ia meninggalkan panggung,tetapi tak lama intro 'terbengkalai'ini segera disambung dengan intro 'Silence' yang sesungguhnya oleh Adhie.Penonton yang sejak awal konser sudah lesehan pun mulai serentak berdiri menyambut lagu ini.Lagu dari album pertama ini adalah salah satu favorit saya.Sound gitar yang noisy dan wah-wah pedal penuh feedback dipadukan,sehingga menimbulkan “keberisikan” yang liar tetapi indah secara bersamaan.Teknik ini mengingatkan pada Ride era “Nowhere”.Dan apabila anda menyempatkan melihat foto-foto konser itu.mungkin anda bisa melihat saya merangsek ke depan panggung kala lagu “Silence” dan bernyanyi asal-asalan sambil mengepalkan tangan ke udara.Hope you’ll never find it,though.aha.
Pertengahan konser,Iyo menyempatkan berterimakasih kepada seluruh keluarga Pure Saturday.Ia pun tak lupa menyapa para ‘penonton’ di pinggir panggung seperti Ucok Homicide dengan khas “Hey Motherfucker! Motherfucker! Respect yo…”dengan logat seperti rapper gangsta bersiap menuju peperangan East Coast-West Coast.Sebuah bentuk candaan terhadap Ucok yang memang telah mencapai status militan di ranah hip-hop bawah tanah.Belum habis tawa penonton,Ia segera menyambung candaan dengan berterimakasih kepada penonton karena telah menonton band Indie seperti mereka,“Bukan band-band yang ada di TV,yang memiliki nama aneh,dan diusahakan seaneh mungkin”..HAHA.Sehabis sambutan,Iyo dan PS pun pamit untuk jeda.
Satu hal yang agak mengganjal pada konser ini adalah jeda.Jadi konser ini dibagi pada 3 ‘babak’.Jeda antar babak ini memang agak membuat bosan.alangkah baiknya agar jeda itu diisi dengan documenter PS misalnya,but after all.Jeda itu terbayar oleh setiap kejutan yang menanti setiap usai jeda.Antara lain diundangnya Muhammad Suar Nasution,vokalis lama mereka (tetapi sekarang mulai bergabung lagi?) keatas panggung sejak lagu “Sirkus” hingga akhir konser.
Suar sendiri menurut banyak kritikus sudah mencapai pendewasaan sejak album pertama bersama PS.Terlihat pada Album “Time For A Change,Time For Move On”,Suar telah menemukan ciri khas vokalnya.Dimana pada album pertama dan kedua,Ia lebih sering berpatron pada gaya vocal Robert Smith.Pada “Sirkus” ia bernyanyi dengan wajah sumringah dan senantiasa mengajak sing-along penonton.Kelasnya terlihat pada lagu-lagu album kedua yang cukup kompleks aransemennya macam “Labirin”,”Belati”,dan “Gala”.
Lagu-lagu tanpa terasa terus bergulir.Tanpa terasa,2 jam hampir habis.setelah ”Coklat” kelar dibawakan.Intro yang sudah dihafal seluruh crowd terdengar dimainkan Adhie.Sebuah intro lagu yang revolusioner.Lagu yang sempat menjadi 'raja' pada chart-chart radio anak muda medio 1994-1996an.Dan apabila kita pernah melihat Mtv pada masa itu (medio 1996).Maka kita akan terkejut melihat satu video klip yang beda.Disaat band-band lain berlomba-lomba mempercantik penampilan mereka di video dan berusaha disorot sesering mungkin oleh kamera,ada satu band pendatang baru memainkan music yang agak janggal,dengan vocal samar menyanyikan lirik yang abstrak.Video clipnya pun cuma menampilkan satu ruangan berpenerangan redup,dan sosok-sosok siluet yang bergerak tidak teratur mengikuti alur lagu.”Kosong” dibawakan PS.Iyo dan Suar hampir tak pernah bernyanyi.Penonton mengambil semua jatah nyanyian mereka tanpa sisa.
2 jam tak terasa sudah berlalu.”Enough” pun dibawakan PS sebagai lagu terakhir.Penonton yang tentu masih belum puas segera berteriak-teriak “lagi!lagi!lagi!....” taktik yang cukup berhasil,PS bersedia memainkan satu lagu lagi.Sebuah cover song.”Boys Don’t Cry” The Cure.Lagu yang sudah dapat dikategorikan sebagai lagu 'wajib nasional'.Para penonton dengan liar merangsek ke naik ke panggung berebutan mic Suar dan Iyo.PS pun tidak tampak risih melihat penonton yang semakin berjubel di panggung,Malah,mereka memprovokasi satu koor massal yang seru pada tiap bait "Boys Dont Cry".Sebuah penutup yang memorable.Dimana semua crowd memenuhi panggung sembari berjoget-joget,benyanyi seadanya,berpeluh bahagia,mengakhiri konser yang akan terus berada di benak saya untuk waktu yang lama.
Salut,
MIRZA FAHMI memberi konser ini 4 bintang.satu bintang lg ga dikasih karena PS ga bawain “Langit Terbuka Luas,Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu”
Minggu, 08 Maret 2009
Time For A Change,Time To Move On,Pure Saturday Concert Review
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar