Minggu, 08 Maret 2009

Time For A Change,Time To Move On,Pure Saturday Concert Review

Sebenarnya konser ini sudah lama digelar.Tetapi tidak ada salahnya toh saya membuat review yang kelewat telat ini.Saya hanya ingin sharing sedikit mengenai pengalaman saya menonton konser yang saya anggap luar biasa ini.Maaf kalau ada detail-detail yang terlewat.Maklum udah agak lupa.


Minggu malam,hujan tidak henti-hentinya mengguyur kota Bandung sejak menjelang magrib.Ini tidak menyurutkan niat saya untuk menonton konser tunggal salah satu band paling influensial di kancah Indie scene Indonesia,Pure Saturday.Eksistensi selama hampir 15 tahun menciptakan momentum yang cukup untuk menggelar konser tunggal ini.Dengan tajuk sama dengan album kompilasi Greatest Hits mereka yang dirilis tahun lalu,“Time For A Change,Time To Move On”.Informasi mengenai konser sejak jauh-jauh hari pun memudahkan banyak fans mengantisipasi konser ini.Saya lihat di Facebook,Bahkan ada fans dari Jawa Timur yang bela-belain untuk menonton konser yang cukup bersejarah ini.Sementara saya? saya cukup bersyukur konser ini digelar ketika saya kuliah di Bandung.haha

Konser ini digelar di GSG Itenas.Cukup jauh dari Kost saya yang terletak di bilangan Ciumbuleuit.Dengan naik motor kira-kira makan waktu 15 menit.Jadi,bisa dimaklumi keadaan saya yang agak basah kuyup ketika sampai di Venue.Ketika saya sampai,Venue belum dibuka.Duduk menunggu tanya loket dan penjaga,konser katanya akan dimulai jam 8 malam.Saya pun merokok sebentar,membeli tiket,dan membeli satu kaos Pure Saturday yang cukup jarang saya temui.Tak lama,kira-kira pada jam 19:50 venue dibuka.Para penonton yang sudah bergerombol sejak pukul 19:00,masuk ke dalam venue secara tertib.Begitu menjejakkan kaki ke dalam,segera terlihat set panggung yang cukup minimalis.Cukup sederhana untuk ukuran sebuah konser tunggal.Tinggi panggung kira-kira hanya sekitar setengah meter,dan tak ada barikade sama sekali antara panggung dengan 'kubu' penonton.Mungkin Pure Saturday ingin menciptakan suasana intim dengan para fans dan penonton pada konser malam ini.Kita lihat saja.

Para penonton pun,melihat panggung yang rendah,segera memutuskan untuk lesehan saja di lantai.Dengan lesehan pun saya merasa bisa mengamati sekeliling dengan leluasa.Tampak GSG tidak terisi penuh sehingga udara terasa lega.Nampaknya ini akan menjadi salah satu kunjungan konser saya yang paling nyaman,pikir saya.Diatas panggung terlihat para kru sedang mengeset alat-alat dan sound-system.Para penonton tampak amat antusias.Menurut info,konser kali ini tidak memakai band pembuka.karenanya,tak sampai 20 menit menunggu,Terdengar suara perwakilan E.O dari pengeras suara,menyambut Pure Saturday naik keatas panggung.And the crowd went wild at the same time!.Seiring dengan naiknya para personil,penonton meneriaki nama mereka satu persatu.Sementara para personil lain sibuk menyetel alat-alat mereka,Iyo sang vokalis menyapa sejenak para penonton,berterimakasih atas kedatangannya serta rela berhujan-hujan demi konser yang cukup sederhana ini.

Selepas sambutan singkat,seketika lampu venue dan panggung dimatikan.Penonton yang belum sempat mengucap sepatah kata pun,dibuat tertegun dengan suara Hi-Hat,Udhie sang drummer memainkan notasi drum yang sangat familiar.Banyak penonton yang menebak-nebak.,"oh gue tau nih...pasti.." tebakan yang tepat,sound fuzzy delaying gitar Adhie yang dreamy dengan sigap bersinergi dengan melodi-melodi Arief yang sederhana tetapi cepat menyangkut di telinga.Keduanya segera menimbuhi permainan drum tadi.Crowd langsung menyanyikan verse pertama dari lagu yang mereka sudah hafal benar ini.”I don’t know why we do it like this,oh,so strange….” Koor massal serentak membahana di dalam venue.”Pathetic Waltz” adalah pembuka konser yang sangat cantik.

Terlihat sejak lagu pertama para personil PS sibuk dengan instrument mereka masng-masing dan tidak banyak bergerak.Mungkin mereka memang mengutamakan kualitas permainan pada konser kali ini.ini ditunjang oleh kualitas sound yang sangat prima dan akustik venue yang pas.Terbukti dengan mulusnya permainan mereka pada lagu-lagu berikutnya,seperti “Sajak Melawan Waktu”, “Mereka”,dan “Kaca”.satu hal lagi yang patut diberikan kredit lagi disini adalah permainan lighting apik dan Film-film pendek yang diproyeksikan pada layar putih besar dibelakang para personil.Masing-masing film mewakili tiap lagu yang dimainkan.

Pikiran langsung berusaha mencari jejak 15 tahun kebelakang.Pure Saturday menyeruak bersama Puppen dan Pas Band memulai suatu movement yang bertahan hingga kini.Yaitu Indonesian Indie Culture.Dengan music yang sudah established di luar negeri tetapi masih langka di Indonesia mereka segera menarik perhatian banyak khalayak.Terutama ketika album pertama mereka rilis sebagai bonus majalah Hai pada medio 1994.Album yang memang nampak sangat terinfluens The Cure,Ride,Stone Roses ini segera menempatkan lagu-lagu mereka pada airplay radio di banyak kota.Banyak band-band serupa segera bermunculan.Dan gerakan ini belum berhenti hingga sekarang.Memang suatu konser tunggal sangat pantas sebagai tribute untuk mereka.

Konser ini pun menelurkan banyak momen menarik.salah satunya adalah tampilnya Rekti The S.I.G.I.T sebagai vokalis tamu pada lagu “Nyala”.Kolaborasi yang menarik karena Rekti tampak menyanyikan “nyala” dengan vocal seperti pada lagu-lagu The S.I.G.I.T.Haha.Nyala dengan vocal ala Robert Plant memang Menjadikan lagu ini jadi ‘ugal-ugalan’.Selain itu,selepas kolaborasi,tampak para personil PS bercanda dengan memainkan intro “Whole Lotta Love”nya Led Zeppelin.ajakan jamming dadakan ini segera disambut Rekti.Jadilah satu nomor dari Led Zeppelin tiba-tiba masuk dalam repertoire konser.Penonton pun jadi terbawa gila-gilaan.Sing-along liar,sesuatu yang langka pada konser PS,terjadi di lagu ini.Bahkan salah satu pemuda dibelakan saya,meminta saya mengangkat badan dia,mau body-surf.haha.Sehabis lagu ini,Rekti yang turun panggung disambut tepuk tangan membahana crowd yang kelelahan tetapi terus tertawa mengingat kejadian tadi.

Bukan itu saja kolaborasi yang ada.Agung Burgerkill juga diajak pada satu jeda antar lagu.Dengan menenteng gitar akustik dan sekaleng bir,Ia naik ke panggung dan memainkan secara instrumental medley dari lagu-lagu Pure Saturday.Sungguh mengasyikan melihat Agung yang biasa memainkan nada-nada 'horor' Burgerkill sekarang memainkan nomor-nomor akustik instrumental dengan tingkat presisi yang tinggi.Permainannya ditutup dengan intro dari “Silence”.Intro ini Agung biarkan menggantung seraya ia meninggalkan panggung,tetapi tak lama intro 'terbengkalai'ini segera disambung dengan intro 'Silence' yang sesungguhnya oleh Adhie.Penonton yang sejak awal konser sudah lesehan pun mulai serentak berdiri menyambut lagu ini.Lagu dari album pertama ini adalah salah satu favorit saya.Sound gitar yang noisy dan wah-wah pedal penuh feedback dipadukan,sehingga menimbulkan “keberisikan” yang liar tetapi indah secara bersamaan.Teknik ini mengingatkan pada Ride era “Nowhere”.Dan apabila anda menyempatkan melihat foto-foto konser itu.mungkin anda bisa melihat saya merangsek ke depan panggung kala lagu “Silence” dan bernyanyi asal-asalan sambil mengepalkan tangan ke udara.Hope you’ll never find it,though.aha.

Pertengahan konser,Iyo menyempatkan berterimakasih kepada seluruh keluarga Pure Saturday.Ia pun tak lupa menyapa para ‘penonton’ di pinggir panggung seperti Ucok Homicide dengan khas “Hey Motherfucker! Motherfucker! Respect yo…”dengan logat seperti rapper gangsta bersiap menuju peperangan East Coast-West Coast.Sebuah bentuk candaan terhadap Ucok yang memang telah mencapai status militan di ranah hip-hop bawah tanah.Belum habis tawa penonton,Ia segera menyambung candaan dengan berterimakasih kepada penonton karena telah menonton band Indie seperti mereka,“Bukan band-band yang ada di TV,yang memiliki nama aneh,dan diusahakan seaneh mungkin”..HAHA.Sehabis sambutan,Iyo dan PS pun pamit untuk jeda.

Satu hal yang agak mengganjal pada konser ini adalah jeda.Jadi konser ini dibagi pada 3 ‘babak’.Jeda antar babak ini memang agak membuat bosan.alangkah baiknya agar jeda itu diisi dengan documenter PS misalnya,but after all.Jeda itu terbayar oleh setiap kejutan yang menanti setiap usai jeda.Antara lain diundangnya Muhammad Suar Nasution,vokalis lama mereka (tetapi sekarang mulai bergabung lagi?) keatas panggung sejak lagu “Sirkus” hingga akhir konser.

Suar sendiri menurut banyak kritikus sudah mencapai pendewasaan sejak album pertama bersama PS.Terlihat pada Album “Time For A Change,Time For Move On”,Suar telah menemukan ciri khas vokalnya.Dimana pada album pertama dan kedua,Ia lebih sering berpatron pada gaya vocal Robert Smith.Pada “Sirkus” ia bernyanyi dengan wajah sumringah dan senantiasa mengajak sing-along penonton.Kelasnya terlihat pada lagu-lagu album kedua yang cukup kompleks aransemennya macam “Labirin”,”Belati”,dan “Gala”.

Lagu-lagu tanpa terasa terus bergulir.Tanpa terasa,2 jam hampir habis.setelah ”Coklat” kelar dibawakan.Intro yang sudah dihafal seluruh crowd terdengar dimainkan Adhie.Sebuah intro lagu yang revolusioner.Lagu yang sempat menjadi 'raja' pada chart-chart radio anak muda medio 1994-1996an.Dan apabila kita pernah melihat Mtv pada masa itu (medio 1996).Maka kita akan terkejut melihat satu video klip yang beda.Disaat band-band lain berlomba-lomba mempercantik penampilan mereka di video dan berusaha disorot sesering mungkin oleh kamera,ada satu band pendatang baru memainkan music yang agak janggal,dengan vocal samar menyanyikan lirik yang abstrak.Video clipnya pun cuma menampilkan satu ruangan berpenerangan redup,dan sosok-sosok siluet yang bergerak tidak teratur mengikuti alur lagu.”Kosong” dibawakan PS.Iyo dan Suar hampir tak pernah bernyanyi.Penonton mengambil semua jatah nyanyian mereka tanpa sisa.

2 jam tak terasa sudah berlalu.”Enough” pun dibawakan PS sebagai lagu terakhir.Penonton yang tentu masih belum puas segera berteriak-teriak “lagi!lagi!lagi!....” taktik yang cukup berhasil,PS bersedia memainkan satu lagu lagi.Sebuah cover song.”Boys Don’t Cry” The Cure.Lagu yang sudah dapat dikategorikan sebagai lagu 'wajib nasional'.Para penonton dengan liar merangsek ke naik ke panggung berebutan mic Suar dan Iyo.PS pun tidak tampak risih melihat penonton yang semakin berjubel di panggung,Malah,mereka memprovokasi satu koor massal yang seru pada tiap bait "Boys Dont Cry".Sebuah penutup yang memorable.Dimana semua crowd memenuhi panggung sembari berjoget-joget,benyanyi seadanya,berpeluh bahagia,mengakhiri konser yang akan terus berada di benak saya untuk waktu yang lama.



Salut,
MIRZA FAHMI memberi konser ini 4 bintang.satu bintang lg ga dikasih karena PS ga bawain “Langit Terbuka Luas,Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu”



[+/-] Baca selengkapnya...

Kamis, 05 Maret 2009

Mandi

Heiyho...ini tulisan perdana gw di blog GAM ini...sebagai kontributor dan teman mereka..gw salut si Gani Aga dan Mirza
bisa meulis seperti ini...dulu sih cuma percakapanpercakapan biasa di ruang kelas..ternyata sudah dibekukan disini!
nah, gw sekarang mau ber kontribusi salah satu puisi gw aja...selamat membaca dan memaknai....heuheuheu...


kota tua ini belum mandi
gedung gedung tumbuh menjulang
paruparu kota lambat laun hilang
bangunan makin disusun
tambah malas saja untuk terbangun

kota tua ini belum mandi
juta kendaraan berbaris menggerayangi tubuhnya yang miris
banyak kubangan tertampung dalam lubang jalan
basah oleh keringat
dan airmata menjadi butek oleh sampahsampah manusia yang dibuang seenak jidat

kota tua ini belum mandi
entah karena sumber air dimonopoli
atau air pam belum terdistribusi

kota tua ini belum mandi
udara makin pengap dan panas
karena poripori belum terbuka luas
kendaraan melaju mengeluarkan asap hitam
kita tinggal tunggu kapan jadwal alam naik pitam

kota tua ini belum mandi
cuci muka saja belum
apalagi gosok gigi
sabunpun belum terbeli

kota tua ini malas mandi
daki menumpuk kulit bersisik
tubuh gatal belek membeku
anyir tercium buat jijik
yang menetap apa tidak mau tahu?
yang menetap apa tidak malu?

kota tua ini malas mandi
pada musim ini
tinggal tunggu hujan berkepanjangan
pun kita pasti akan kewalahan

jehan syauqi 2februari 2009

[+/-] Baca selengkapnya...

Selasa, 03 Maret 2009

Zapa..who?

Jumpa lagi,yah sebenarnya saya sudah agak capek menulis tentang topik berat terus-menerus.Sesekali,ingin juga menulis tentang kenangan masa lampau era SD,SMP,dan SMA.Tetapi saya seolah terganjal oleh satu topik ‘hutang’ yang belum dijabarkan.Mungkin setelah ini saya bisa menulis tentang kejadian yang ringan-ringan lagi.Kali ini,seperti janji saya tempo hari,saya akan membahas mengenai gerakan Zapatista di provinsi Chiapas,Meksiko.Wah..wah..apa itu?

Sebagai pembuka,saya akan meminta pembaca untuk membayangkan barang sejenak.
Bayangkanlah,

Jika dunia ini adalah suatu kampung global yang terdiri dari 100 orang,70 diantaranya buta huruf,dan hanya 1 yang menjalani pendidikan tinggi.Lebih dari 50 orang kekurangan gizi,lebih dari 80 hidup di gubuk-gubuk reot.Dan 6 diantaranya adalah orang Amerika.Keenam orang itu mengambil,menguasai,dan menikmati lebih dari separuh pendapatan dan kekayaan orang seluruh kampung.

Lho! Mengapa keenam orang kaya ini bisa tetap ‘damai’ dengan penduduk kampung lain?

Karena ternyata keenam orang itu menciptakan dan mengajarkan semacam tarian dan nyanyian ‘senam massal’,hingga sebagian dari 94 orang itu rela menjadi pengikut setianya setiap pagi dengan sukarela.Meskipun banyak diantara yang 94 itu tidak ikut senam,namun mreka dengan senang hati ikut menyanyikan lagu itu.

Keenam orang sisanya ini mempersenjatai diri untuk menaklukkan orang-orang yang sedang sibuk senam ini.Bahkan,ada yang menjual senjata kepada beberapa orang diantara 94 orang itu-untuk saling menyerang antar sesama-untuk menguij kekuatan senjata mereka.Tetapi,entah bagaimana,senjata-senjata itu pada gilirannya sampai kepada para Zapatista…………yang memakainya untuk menciptakan letusan yang mengagetkan keenam orang tersebut.Letusan itu,ternyata merupakan bagian dari nyanyian yang kemudian mulai dinyanyikan oleh orang-orang lain yang terpesona olehnya.

(Diadaptasi dari “Globalization from Above and from Below: a Dialectical Process” karya Gerrit Huizer)

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN/Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional) memulai aksinya beberapa menit sesudah tahun baru 1 Januari 1994.Mereka keluar dari hutan raya Lacandon lalu menduduki Kota San Cristobal de Las Casas,dan juga kota-kota Ocosingo,Menyerang kantor-kantor tentara yan semuanya berada di provinsi Chiapas,Meksiko tenggara.Mereka bukan tentara biasa,mereka tentara pemberontak ! ratusan petani bersenjata dan memakai topeng ski hitam (balaclava).Menduduki posisi strategis Chiapas secepat kilat.

“masalah perang bukanlah masalah siapa yang mempunyai senjata lebih banyak,peluru lebih banyak,dan orang lebih banyak,melainkan siapa yang benar!” demikian kalimat yang sering diutarakan juru bicara EZLN,Subcomandante Marcos.

Tetapi,kebenaran apakah yang mereka perjuangkan? Suara pertama Zapatista adalah :
“Kami adalah pewaris dari para pendiri bangsa.kami adalah jutaan orang yang kehiangan harta,dan kami menghimbau semua saudara laki dan perempuan bergabung bersama dalam panggilan mulia ni,satu-satunya cara mencegah kelaparan karena keserakahan tanpa akhir dari kediktatoran yang bercokol lebih dari 70 tahun,dibawah kepemimpinan sekelompok pengkhianat yang mengabdi pada kaum konservatif yang telah menjual bangsa.pada deklarasi dari rimba Lacondon ini,kami nyatakan YA BASTA!! (cukup sudah)!!....”

Satu hal yang bisa ditangkap dari pernyataan diatas,pertama-tama,kita tidak menemukan kalimat kalimat pendahuluan dengan rujukan ideologis manapun,seperti mengutip Marx,Lenin,Bakunin,maupun Che; Kedua,Zapatista memayungi pemberontakannya sebagai pemberontakan konstitusional.Mereka mengutip UUD Meksiko pasal 39 yang berbunyi “Rakyat mempunyai hak,hak yang tak dapat dihilangkan,kapan pun untk mengubah atau memperbaiki bentuk pemerintahannya” ketiga,Itu adalah deklarasi perang,bukan melawan pemerintahan,tetapi hanya melawan segelintir korporat dan pemimpin eksekutif.lalu memohon pada bahan legislatif dan yudikatif untuk menggunakan wewenang konstitusionalnya,melucuti presiden Meksiko saat itu,Carlos Salinas,dan menggantinya dengan pemerintahan yang demokratis,desentralistis,dan mengangkat harkat martabat para indigenous people (penduduk asli Meksiko,orang Indian).

Mereka mengambil timing 1 januari 1994 sesuai dengan tanggal berlakunya NAFTA (North American Free Trade Agreement) yang pada 1992 ditandatangani oleh Presiden Amerika,George Bush Sr,Perdana Menteri Kanada Brian M.,dan presiden Meksiko Carlos Salinas De Gortari. NAFTA kurang lebih menekankan pada eksploitasi segala sumber daya alam meksiko dengan dibebaskannya segala peraturan perbatasan untuk perdagangan.Korporasi yang mendapat keuntungan hanya memberikan upah kecil kepada penduduk di tempat sumber daya.NAFTA dipandang Zapatista sebagai sabda kematian pemerintah meksiko tanpa harus menggunakan senjata.Mereka menganggap kebijakan berat sebelah itu akan membunuhi rakyat. Meksiko secara perlahan-lahan.

Zapatista semata-mata memperjuangkan hak-hak rakyat Meksiko terhadap segala sumber daya alamnya.Basis di Chiapas adalah pilihan yang cocok.karena,Chiapas,walaupun memiliki kekayaan alam berlimpah,menjadi provinsi yang paling miskin di Meksiko.setelah diduduki,Mereka pun menerapkan hukum Zapatista di Chiapas.dimana hukum itu menekankan pada keadilan jual beli,penjaminan hak-hak perempuan,dan pendidikan wajib untuk anak-anak..

Pemerintah Meksiko tentu tidak tinggal diam.Dalam satu serangan balik,pasukan Zapatista berhasil dipukul mundur.Lalu bertahan kepayahan di rimba raya Lacandon.Disinilah pasukan Zapatista mulai menunjukkan ciri mereka yang paling khas.Mereka,diwakili sang juru bicara Subcomandante Marcos (belakangan diangkat jadi komandan penuh) yang memakai nama samaran Delegate Zero,mulai mengeluarkan komunike-komunike (semacam prosa harian menjelaskan tentang perkembangan perjuangan,tujuan mereka,dll) yang rata-rata diterbitkan di surat kabar setempat.Tak lama kemudian,komunike yang Subcomandante Marcos tulis secara regular,mencapai luar negeri.disinilah basis dukungan untuk mereka mulai mewabah ke seluruh dunia.

Langkah ini dipandang brilian.mengukir militansi tanpa senjata konvensional (yang sudah pasti kalah jumlah dengan pemerintah) melainkan dengan prosa-prosa tentang gerakan mereka yang humoris,energik,inspiratif,dan imajinatif.Hal ini dijelaskan oleh Subcomandante Marcos; “Seorang prajurit adalah seorang absurd yang harus menggunakan senjata untuk meyakinkan orang lain;dan dalam arti itu gerakan ini tak punya masa depan jika masa depannya adalah militer”.Ini membuat Zapatista begitu menarik perhatian para ahi,bukan hanya karena metode uniknya,melainkan juga karena keahlian sastrawi pemimpin-pemimpinnya yang amat diatas rata-rata.

Tulisan-tulisan itu bisa bermacam-macam,terkadang kritik pedas yang penuh humor sinis,cacian,provokasi yang membara.namun,bisa juga renungan spiritual,puisi romantik,dongeng tua meksiko,bahkan bisa berwujud sebagai cerita khayalan liar sang komandan belaka.Khayalan yang paling sering diperbincangkan adalah epos mengenai Don Durito,kumbang galak yang gemar merokok pipa sembari mengkritik neoliberalisme (menganggapnya sebagai ideologi bom waktu.Analisa yang tepat melihat kondisi krisis global saat ini).Support yang dihasilkan berkat komunike-komunike ini luar biasa.Banyak kalangan kemudian memberikan dukungan moral.Band-band politikal seperti Rage Against The Machine,Rise Against,Brujeria,dan Anti-Flag sering membuat konser amal untuk kemudian disumbangkan kepada pergerakan,atau sekedar memberikan dukungan moral melalui lirik-lirik lagunya.

Zaman internet pun datang,Zapatista semakin memperkuat aikonisasinya dengan merilis situs-situs Zapatista dan segala hal tentang kampanye melawan neoliberalisme.Pada tahun 1999 mereka membuat petisi di 32 negara,termasuk Indonesia,menanyakan perihal kampanye anti-neoliberalisme mereka dan apakah pergerakan ke depan perlu dilanjutkan.Jutaan orang di Meksiko dan ratusan ribu aktivis di seluruh dunia memberikan dukungan mereka kepada Zapatista.Aktivis-aktivis di Indonesia yang menandatangani petisi ini antara lain Alm. Munir dan Teten Masduki.

Kini,15 tahun setelah deklarasi Lacandon.Zapatista masih menempati pos terpencilnya di rimba raya pegunungan.Masih bergulat nyawa sepanjang hari ditengah bidikan para penembak jitu tentara federal,dibawah bidikan laras-laras meriam aneka bentuk yang diimpor pemerintah Meksiko dari negara kerabatnya.Tetapi,semangat itu terlihat masih ada.Komunike-komunike terus dikirim ke dunia luar dari sunyinya pegunungan hutan hujan.Mengabarkan semua hal yang berabad-abad mereka dambakan.Perjuangan terlihat tak ada ujungnya.

Mungkin suatu hari pun komunike akan berhenti sama sekali.Tak ada lagi Don Durito dan segala kritik-kritiknya dan segala Kalimat-kalimat provokatif menggelora.Saat segala mesin perang yang mengepung hutan Lacandon berhasil melumpuhkan satu demi satu pekik perlawanan.Berhasil menuntaskan dominasi.Sekedar mengulangi repetisi standar sejak berabad-abad yang lalu.Kita tidak tahu itu.

Mungkin juga Zapatista bukan Cuma nama yang hanya terkait dengan rimba raya Lacandon.Bukan Cuma sekedar goresan pena pada setiap komunikenya,bukan Cuma setiap peluru untuk melumpuhkan kepungan mesin perang.Bisa jadi itu adalah hasrat,hasrat yang kian menular dewasa ini.Bisa jadi hasrat itu juga kita miliki.Setiap hari kita tekuni,renungi,dan ahirnya kita yakini.Kita tidak tahu itu.Suatu hari mungkin kita bangun,duduk di sofa empuk sambil menghirup aroma kopi yang telah tersaji,dan melihat berita yang sama.Sama dengan berita di TV 15 tahun yang lalu.Apa yang terjadi di Lacandon,mungkin terjadi lagi di kampung halaman kita sendiri.Mungkin di desa-desa terpencil yang selama ini hanya menjadi tujuan pelesir tuan-tuan saudagar? Tujuan pelesir kita? Selama ini kita konsumsi hasil alamnya? tanpa tahu derita warganya,yang lama lama berubah jadi hasrat angkat senjata?.Sekali lagi Saya tidak tahu.Tapi,mungkin cuma soal waktu.

NB :Info lebih lanjut mengenai Gerakan Pembebasan Nasional Zapatista dapat dilihat pada http://www.ezln.net. Atau mengenai kumpulan komunike-komunike Zapatista bisa dibaca pada buku “Bayang Tak Berwajah –Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista 1994-2002” terbitan Insist Press Yogyakarta.
Lawan!


Salut,
MIRZA FAHMI sedang menyusun dokumen juga,tapi mengenai aksi bolos-bolos era SMP.






[+/-] Baca selengkapnya...

Selasa, 24 Februari 2009

Sedang Vapour Trail

Pernah merasa begitu jatuh cinta dengan suatu lagu? setidaknya itulah yang saya rasakan kini.Jatuh cinta dengan Vapour Trail-nya Ride.Entah kenapa,Liriknya juga ga ngerti padahal.


Mungkin ini sejenis siklus.Ibu saya bilang sewaktu saya bayi saya tergila-gila dengan 'Tomorrow Never Knows'nya Beatles.Dan sering nyanyi-nyanyi sendiri di box bayi dengan lidah seadanya.beranjak ke Tk,Saya tergila-gila dengan Phil Collins "Another Day In Paradise".Mungkin karena sering disetel di tape mobil.Tentu tidak lupa Ebiet G. Ade dengan 'Menjaring Matahari"nya yang megah.

Masuk SD,Saya tergila-gila dengan album kompilasi "The Best Of 1997" terutama Blur "Song 2" dan Spice Girls yang "When 2 Become 1".haha.kalo dulu sih ga malu sama sekali.Masih ada yang inget lagu judulnya Macarena? wah kawan,itu lagu ada di album yang sama,dan saya bisa ngambek besar kalo pas setel album itu Lagu Macarena ga mulai duluan.hahaha

Haha.Dan beranjak dewasa saya pun mulai mendengarkan musik musik yang semakin beraneka ragam.dari musik metal ke musik portal,Rock And roll hingga keroncong protol.Dan sebagainya.

Tetapi,selama beberapa bulan mendengarkan album 'Nowhere"nya Ride.saya jatuh cinta dengan lagu ini ,literally.Ada perasaan yang sama ketika saya menyanyikan lagu ini dan sewaktu saya menyanyikan lagu-lagu Phil Collins,Blur,Spice Girls,Dan Macarena dengan suara lantang (tanpa malu) bersanding dengan tape mobil yang uzur.Dan perasaan itu sulit dijelaskan.Dan saya pun tak perlu membuang-buang waktu mencari maknanya.karena toh saya lebih suka menyanyikan lagu itu sekali lagi..hehe

Vapour trail

First you look so strong
Then you fade away
The sun will blind my eyes
I love you anyway
Thirsty for your smile
I watch you for a while
You are a vapour trail
In a deep blue sky

Tremble with a sigh
Glitter in your eye
You seem to come and go
I never seem to know
And all my time Is yours as much as mine
We never have enough
Time to show our love

Salut,

MIRZA FAHMI sedang "First you look so strong,then you fade away.."



[+/-] Baca selengkapnya...

Minggu, 22 Februari 2009

Academy Award yang (masih) Klise

Sudah lama saya ingin mencoba jadi movie reviewer,Mungkin review mengenai ajang penghargaan Academy Award bisa menjadi start yang bagus,.Berikutnya,saya mungkin akan menuliskan beberapa review film disini.
Academy Award yang ke-81 tadi malam telah digelar di Kodak Theatre.Hampir tak ada kejutan.Slumdog Millionaire memenangi 8 Oscar dari 10 nominasi.


Sangat sesuai perkiraan saya,Mengingat klise-klise Academy Award yang selalu berulang dari tahun ke tahun.Mengenai itu,saya akan berusaha menjelaskannya pada tulisan saya kali ini.

Slumdog Millionaire mengalahkan film-film seperti The Reader,The Curious Case Of Benjamin Button,Changeling,dan lain-lain.Mengapa kemenangan itu saya bilang klise? Bukankah Slumdog memang film yang brilian? Saya tidak menyangkal kejeniusan Slumdog garapan Danny Boyle ini.Tetapi kalau dibilang sebagai film yang terbaik,saya tidak sependapat.

Slumdog mengisahkan mengenai anak gelandangan di India yang berhasil mengikuti acara semacam Who Wants To Be A Millonaire? Di sana.Secara mengejutkan,Ia berhasil menjawab segala pertanyaan sampai ke pertanyaan terakhir,Tetapi sebelum menjawab pertanyaan terakhir,Ia dibekuk oleh polisi yang dating atas permintaan penyelenggara (karena disangka main curang,masa gelandangan jadi jenius gitu?)).Ia lalu diinterogasi oleh kepolisian setempat,saat itulah ia menjelaskan bahwa segala jawaban dari pertanyaan kuis itu ia ketahui selama ia menggelandang bertahun-tahun.Dari segala pengalamannya,dan pertemuannya dengan berbagai orang.

Lantas,kenapa saya mempermasalahkan film dengan cerita unik ini? Klise apa yang saya maksud diatas? Yang saja mau tekankan pada tulisan ini adalah kecenderungan (sering sekali) Academy Award untuk memenangkan film-film yang memiliki feel-good tone (optimis dan penuh harapan).yang bombastis.ceritanya WOW!.Film-film dengan skala besar.Dan kecenderungannya untuk tidak memilih film-film dengan isu controversial,Gelap,real,artsy,dan sederhana.

“(Academy Award) its just a sympathy vote…..” (taken from Trainspotting,film Danny Boyle tahun 1996,sekarang malah Danny Boyle yang menang Oscar tadi malam,ironis)

Seperti yang dikatakan quote diatas.Kecenderungan Academy Award hanya menjadi Sympathy Vote semakin menjadi-jadi dari tahun ke tahun.contoh :

1. Forrest Gump (tentang orang idiot yang jadi sukses,kaya raya) mengalahkan Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino yang stylish,Revolusioner,yang bahkan telah
memenangkan Palme D’or dari Cannes film festival.

2. Shakespeare In Love (ketauan dari judulnya ini tentang apa) mengalahkan Saving Private Ryan yang real,brutal,dan memiliki sad-ending yang ambigu.

3. Film-film Stanley Kubrick yang rumit,Art-oriented,penuh simbolisasi (contoh: 2001:a Space Odyssey,The Shining) terbukti mayoritas masuk daftar 100 film terbaik dari American Film Institute,tetapi tak pernah memenangkan Oscar sekalipun.

4. Dances With Wolves-nya Kevin Costner (mengenai kisah Kapten era perang sipil yang kolosal) mengalahkan Goodfellas-nya Mertin Scorsese yang ironis,sadis,memiliki dark humor yang unik

5. Crash (tentang rasialisme) mengalahkan Brokeback Mountain yang mengangkat isu ‘sensitive’(pasti tau kan? Hehe)

Masih banyak contoh lainnya,seperti kegagalan Taxi Driver-nya Scorsese pada Academy Award tahun 1977 (menandai era bermulanya klise2 itu),Apocalypse Now-nya Francis Ford Coppola yang sama sekali ga dilirik,Dan lain-lain.Tetapi saya hanya memberikan sedikit contoh diatas hanya sebagai gambaran.Betapa suatu ajang yang mayoritas orang pikir sebagai ajang nomor wahid,ternyata dikuasai klise-klise seperti ini.

Mari kita lihat lagi Academy Award tadi malam,Slumdog yang memiliki feel-good tone (semua penonton tahu bahwa pada akhirnya,si protagonist akan baik-baik saja) mengalahkan Changeling yang memiliki kontroversi cerita (cari tau sendiri apa ceritanya,males jelasin lagi),Benjamn Button yang ceritanya agak absurd (kalo gue bilang sih brilian).Doubt tentang pencabulan jemaat gereja oleh pastor bejat,Milk tentang politikus gay yang menuntut persamaan hak kaum gay (lalu akhirnya mati dibunuh),The Reader tentang perselingkuhan anak 15 tahun-an dengan penjaga gerbang kamp konsentrasi era Nazi.Dan terakhir Changeling mengenai ibu yang mendapati anaknya yang kembali sejak diculik,ternyata bukan anaknya.dan lalu membawanya kepada serangkaian konspirasi pemerintah.

Sudah lihat perbedaan cerita dan tone dari nominasi-nominasi itu? Secara teknis,memang slumdog layak keluar sebagai pemenang.Tetapi bukankah ini akan mendiskreditkan film-film yang budgetnya tidak sebesar slumdog dan bergantung pada kekuatan cerita dan tema ? Bagaimana dengan film indie keren Darren Arronofsky,The Wrestler (masuk nominasi best film aja engga)? yang budgetnya sangat kecil tetapi dengan personal dan menyentuh menceritakan tentang pegulat tua kesepian yang berkeinginan untuk meninggal di ring,lalu menjalin hubungan dengan stripper sepuh? Atau The Reader yang mengenai cinta terlarang?.Tema yang jarang sekali diangkat. tema sederhana tentang kemanusiaan seperti itu memang telah lama luput dari pandangan Academy Award ,yang mulai sering beralih ke tema-tema berbau ‘dongeng’ yang jauh dari konteks realita tetapi sempurna secara teknis.

Kecenderungan Academy Award yang lebih memihak terhadap film-film ‘tear-jerking’ memang telah disorot banyak pihak sejak lama,banyak yang bertanya Apakah ini karena para juri Academy Award yang (maaf) sudah sepuh? Sehingga terkadang nilai-nilai/norma baku mereka yang kolot membuat mereka menolak mendalami intisari film-film bertema controversial (the reader,dll),hingga akhirnya mempengaruhi objektifitas penilaian?

Saya sendiri sempat menangkap preseden baik ketika film-film ‘gelap’ seperti The Departed dan No Country For Old Men menang pada Academy Award yang sudah-sudah,Tetapi melihat result tahun ini.Kekhawatiran saya muncul lagi.Kekhawatiran bahwa lama kelamaan Academy Award kehilangan kewibawaan dan keobjektifannya (puncak keemasannya era 1950an-1970an).Berubah menjadi sekedar penghargaan komersialitas hollywood belaka.sebagai sarana penarik selera pasar belaka.Dengan senantiasa memenangkan film-film yang ‘mudah dicerna’.Oscar pun turun pangkat jadi alat iklan.karisma penghargaan hilang total.Tak lagi dianggap sebagai panutan.Padahal panutan (kiblat) apa lagi bagi film lokal kita kalau bukan dari Academy Award?

Tapi,sudahlah.Toh banyak juga poin-poin menarik dari Oscar kali ini.Lagipula ngapain sih memperhatikan pengamatan amatir seperti saya yang tinggal terima jadi film? hehe,Mickey Rourke gagal dapat best actor (gue ga terima banget).Kate Winslet menang best actress (setuju).Kekocakan Hugh Jackman yang jadi MC.Heath Ledger menang best supporting actor (totally predictable)disambut penonton dengan standing ovation yang mengharukan.Dan Slumdog mendapatkan 8 Oscar atas nama pasar.Lalu sembari mengetik tulisan ini,saya berharap sudut pandang juri Academy Award ditahun-tahun kedepan bisa berganti.

Salut,


MIRZA FAHMI yang pernah beranggapan kalau kemenangan besar Lord Of The Ring: Return Of The King adalah Aib (dengan ‘a’ kapital) memalukan buat setiap juri film.Sekalian aja menangin Lion King!






[+/-] Baca selengkapnya...

Sabtu, 21 Februari 2009

TVone?

Saya menemukan topik menarik ini dari email Ayah saya,Sengaja saya post disini sebagai penyeimbang berbagai opini tentang Gaza.

Dalam Apa Kabar Indonesia Pagi Senin 5 Januari 2009, dengan halus Indriarto Priyadi dan terutama Grace Natalie mencoba menggiring opini pemirsa bahwa Israel "terpaksa" menyerang. Mereka berbincang bahwa Israel tak akan berhenti menyerang jika serangan roket Hamas tak dihentikan. Dalam sesi pertama dengan pengamat Bantarto Bandoro, pembicaraan berkutat pada Hamas yang memang mengganggu dan "memancing" serangan Israel dengan serangan roket ke negeri zionis itu.

Pengamat internasional CSIS itu juga menyebut bahwa perang akan berlangsung lama karena -tidak seperti agresi Israel ke Lebanon yang dipukul Hizbullah dan "ditengahi" pasukan PBB- Hamas menolak kehadiran pasukan perdamaian. Opini pemirsa pun tergiring kepada kesimpulan: Israel menyerang karena kesalahan Hamas dan serangan akan terus berlanjut karena Hamas dengan degil menolak campur tangan internasional PBB. Kerja tim yang baik antara Indriarto, Grace dan sang pengamat CSIS.

Menjelang sesi berikutnya, wawancara dengan KH. Ahmad Satori dari Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Indriarto membuka dengan menyebutkan seruan boikot produk "yang katanya" dari Amerika oleh beberapa kelompok (Muslim tentu saja). Ungkapan agak sinis ini kemudian ditimpali Grace, "padahal mereka suka menggunakan produk itu." Sebuah judgement bahwa kelompok Muslim yang menyerukan boikot produk Amerika sebenarnya justru pecinta produk itu.

Sekitar dua hari sebelumnya, dalam sebuah ilustrasi tentang sejarah konflik di Palestina, narator TV One menyebutkan bahwa tanah Palestina dikuasai Israel setelah gerilyawan Israel berhasil memaksa Inggris-yang diberi mandat oleh PBB- hengkang dari sana. Ini adalah kedustaan yang bodoh dan buta sejarah. Kenyataannya Inggris sejak 1917 memang berencana memberikan tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel oleh kelompok zionis Yahudi. Deklarasi Balfour dengan jelas membuktikan kedustaan ini.

Ada juga penayangan rekaman video dari pihak Israel yang mengebom sebuah masjid. Serangan keji yang menghancurkan rumah ibadah dan menewaskan jamaahnya ini dilakukan dengan alasan masjid menjadi gudang penyimpanan roket-roket Al-Qassam. Ada cuplikan menarik dalam video itu, setelah ledakan bom pertama ada ledakan kedua ( secondary explosion ) yang diberi tanda dan catatan oleh editor video Israel. Hal itulah yang diklaim sebagai "bukti" adanya roket di dalam masjid. Yang menggelitik, cuplikan itu selalu diulang-ulang oleh TV One dalam tayangan berita tentang serangan Israel.

Beberapa poin di atas menunjukkan adanya upaya penggiringan opini oleh TV One. Yaitu agar publik di Indonesia, termasuk umat Muslim, yang mengutuk serangan brutal dan keji Israel menjadi "memaklumi." Pertanyaannya, kenapa hal itu dilakukan TV One?

Jauh sebelumnya, Grace Natalie juga melakukan penggiringan opini dalam berita kasus terorisme Palembang. Grace, yang "meninjau" lokasi pesantren yang dituduh menjadi sarang dan tempat latihan tersangka teroris Palembang, melengkapi laporannya dengan ilustrasi bahwa pesantren itu "aneh" karena hanya memiliki sepuluh santri.

Kalau saja Grace seorang Muslim, atau rajin mengamati pesantren-pesantren kecil di pedesaan, niscaya ia akan menemukan pesantren (rintisan tentu saja) yang hanya memiliki lima, empat, tiga atau bahkan satu santri saja. Keheranan seorang Grace yang bukan Muslim dan tidak memahami dunia pesantren memang wajar. Namun komentar bodohnya bahwa hal itu "aneh" memberi bobot bagi penggiringan opini bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Tapi terlepas dari hal tadi, Grace Natalie dan TV One memang hebat. Liputan mereka tentang kasus terorisme selalu berhasil mencapai level eksklusif. Saat para wartawan di Yogyakarta tak bisa mendekati rumah tempat Mbah alias Zarkasih ditangkap, Grace malah terlihat ada di mobil Densus 88 yang melakukan penangkapan. Tak heran jika dalam pemberitaan penangkapan tersangka teroris di Palembang pun Grace bisa masuk rumah salah satu tersangka dan memamerkan "temuannya," sebilah pedang samurai yang biasa dijajakan di kakilima. Tak begitu dahsyat, tapi lumayan, bisa menambah bobot penggiringan opini bahwa itu memang rumah teroris.

Bos Grace, Karni Ilyas, malah lebih hebat lagi. Pada saat penangkapan Amrozi, ia melaporkan langsung dari TKP, padahal posisinya waktu itu Pemred SCTV. Demikian juga saat penyerbuan di Batu yang berakhir dengan kematian Dr. Azahari, Karni yang waktu itu Pemred Anteve melaporkan langsung dari TKP. Di mana ada kasus terorisme besar yang terungkap, di situ pasti ada Karni Ilyas atau anak buahnya -salah satunya Grace Natalie. Hubungan Karni yang dekat dengan Komjen. Gories Mere membuatnya selalu mendapatkan liputan eksklusif tentang operasi Densus 88.

Jangan lupa juga bagaimana reporter TV One (waktu itu masih bernama Lativi) Alfito Deannova berhasil mengajak Ali Imron -terpidana seumur hidup kasus Bom Bali yang seharusnya meringkuk dalam penjara- jalan-jalan menapaktilasi lokasi persiapan dan pelaksanaan Bom Bali. Ali memang fenomenal, saat kawan-kawannya meringkuk dalam sel, ia malah bisa ngopi bareng Gories Mere di Kafe Starbucks yang di yakini salah sebuah usaha milik jaringan zionis internasional.

Ketika hal itu memicu kegemparan, Gories beralasan bahwa Ali dibon untuk mengungkap jaringan teroris. Ini masih masuk akal, Gories memang berwenang melakukan berbagai upaya dalam penyidikan. Namun bagaimana bisa TV One "mengebon" Ali yang napi untuk acara eksklusifnya? Lagi-lagi stasiun televisi yang sahamnya dimiliki oleh taipan media keturunan Yahudi Rupert Murdoch -melalui Star TV Group- ini memang hebat.

Okelah, bisa jadi Karni Ilyas berniat baik, memfasilitasi Polri dengan stasiun televisi tempatnya bekerja dalam kampanye pembentukan opini memerangi terorisme di Indonesia. Biarlah kelompok Muslim dan pesantren yang sempat menjadi sasaran kampanye itu marah dan sedih, toh mereka masih bisa membantah, ini negeri demokrasi tempat pendapat bebas diumbar kan?

Tapi sangat jahat kalau Hamas, Muslim Palestina dan bangsa terjajah itu kemudian dihalangi dari dukungan Muslim dan bangsa Indonesia. Yaitu dengan membentuk opini bahwa Israel tidak salah kalau menyerang mereka. Salah mereka sendiri melakukan perlawanan terus-menerus pada penjajah zionis yang jauh lebih kuat. Ini adalah kampanye terselubung mendukung kekejian zionisme.(dikutip dari muslimdaily.net)

Lawan!

salut

MIRZA FAHMI




[+/-] Baca selengkapnya...

Jumat, 20 Februari 2009

Gemar Berbahasa

"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia"




Yak jumpa lagi dengan saya, setelah seminggu ini saya disibukan oleh kegiatan perkuliahan dan tugas yang menumpuk sehingga tidak sempat untuk menulis sebuah 'artikel' pada blog ini. Akhirnya saya memiliki waktu senggang di akhir pekan ini untuk membuat sebuah "catatan" akhir pekan (hehe..) yang sebenarnya dari dulu ingin saya buat, namun urung karena terlalu banyak topik yang ingin saya angkat dalam tulisan-tulisan saya..

Oke, pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang masalah yang sangat mendasar dalam kehidupan kita dalam berbangsa dan bertanah air, yaitu tentang gemar berbahasa Indonesia. Ya! Anda benar! Topik yang mungkin sering sekali diangkat oleh guru-guru kita semasa kita masih duduk di bangku sekolah dulu, tetapi sering pula kita abaikan (mungkin karena terlalu sering dibahas secara teoritis kali ya?). Namun dalam bahasan ini, seperti biasa, saya tidak akan membahas permasalahan secara mendalam, penuh referensi, atau didasari oleh teori yang kuat. Namun hanya dilandasi sebuah pemikiran simpel, dipandang menurut fakta sehari-hari, disertai dengan gagasan sederhana untuk mencintai dan bangga dengan salah satu identitas pemersatu bangsa kita, yaitu bahasa Indonesia

Dewasa ini, saya melihat semakin maraknya orang meninggalkan bahasa Indonesia sebagai lingua franca atau bahasa penghubung dalam kehidupan sehari-hari. Entah karena malu atau tidak terbiasa, kita malah lebih sering memilih menggunakan bahasa asing dalam penggunaan sehari-hari. Seolah bangga akan hilangnya identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

Memang, tampaknya dari dulu bangsa kita sangat gemar sekali menggunakan bangsa asing sebagai alat komunikasi. Tentunya bukan bahasa asing secara utuh yang saya maksud disini, tetapi hanya sebatas menggunakan istilah-istilah dan kosakata asing yang sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Di awal hingga pertengahan abad 20, dimana araoma kolonial sangat kental tercium pada budaya kita. Para ningrat atau yang merasa ningrat, orang-orang dari strata atas dan para isteri pegawai pemerintahan gemar sekali menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Belanda yang dicampuradukan dengan bahasa Indonesia untuk menunjukan bahwa mereka berasal dari golongan atas. Mereka yang pada saat itu menguasai bahasa Belanda dianggap orang yang modern, terpelajar, atau ningrat.

Sekarang, ketika pengaruh kolonialisme telah memudar, anggapan bahwa bahasa Belanda menunjukan identitas "ningrat" sesorang sudah tidak berlaku lagi. Bahkan anggapan itu cenderung bergeser. Sekarang orang malah menganggap penggunaan istilah-istilah bahasa Belanda yang dicampuradukan dengan bahasa Indonesia itu kuno, ketinggalan jaman, dan hanya dipakai oleh oma-oma (hehe..)

Yang sedang marak sekarang adalah menggunakan istilah dan memberi nama menggunakan istilah dan kosa kata dalam bahasa inggris.

Sebagai contoh, saya ingin bertanya "pernahkah anda pergi berbelanja ke Alun-alun Cilandak?" atau "pernahkah sebuah pameran digelar di Balai Sidang Jakarta?". Tentu tidak pernah, karena kita sekarang pergi "shopping" ke "alun-alun Cilandak" yang diberi nama mentereng "Cilandak Town Square", dan "Balai Sidang Jakarta" punya nama beken "Jakarta Convention Center", dimana sering diadakan "expo" dan "eksebisi".

Tentu orang-orang akan berdalih "itukan bahasa marketing, biar menarik". Dan menganggap penggunaan nama-nama dengan bahasa Indonesia untuk ikonisasi akan terkesan kampungan, lucu, ndeso, dan lain sebagainya. Jadilah kita menggunakan istilah-istilah dalam bahasa asing tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Citos, Setos, Detos, dan "tos-tos" lainya. WTC, ITC, BTC, dan "TC-TC" lainya.

Sekarang saya ingin bertanya, dimana letak "ndeso"nya kosa kata bahasa Indonesia? Apakah karena kita sebenarnya malu mengakui bahwa kita orang Indonesia, sehingga kita ingin sekali mencoba untuk menghilangkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia dengan meninggalkan bahasa indonesia?

Tentu bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, dan saya di tulisan ini tidak menyalahkan penggunaanya bila dipakai dalam pergaulan internasional. Tapi ini? Yang punya acara orang Indonesia, yang dateng juga orang Indonesia, gedungnya di Indonesia, tokonya punya orang indonesia, yang belanja orang indonesia, ngomong sama orang indonesia, tapi kenapa pakai istilah dan kosakata asing?

Sebagai kontras, masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang modern. Negaranya memnguasai kemajuan teknologi. Perekonomianya stabil. Tetapi bangsa Jepang merupakan bangsa yang sangat bangga dengan bahasanya. Hampir tidak ditemukan produk dan perusahaan dari jepang, baik itu restoran, pusat perbelanjaan, merek mobil, dan lainlain, yang menggunakan bahasa Inggris. Malah hampir sulit menemukan tulisan latin di negara tersebut. Modul-modul, buku-buku dan istilah-istilah ilmu pengetahuan hampir semuanya menggunakan bahasa Jepang. Dan lihat, apakah bangsa jepang merupakan bangsa yang tertinggal dan kampungan?

Perlu dicatat, bahasa kita, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang modern. Dimana ini dapat dilihat dari dapat digunakanya bahasa Indonesia dalam lingkup pendidikan. Lalu mengapa kita malu menggunakan bahasa sendiri? Menulis "Sokarno-Hatta Airport" gede-gede diatas tulisan "Bandara Soekarno-Hatta". Ini bandara internasional milik Indonesia bung! Seharusnya yang ditulis besar-besar adalah bahasa Indonesia, lalu baru artinya dalam bahasa Inggris ditulis dibawahnya agar wisatawan asing mengerti. Dimana identitas kita? Masa bahasa orang didahulukan di negeri sendiri daripada bahasa sendiri. Jangan-jangan nanti Monas lebih dikenal sebagai Namon lagi (National Monument, hehe)

Sudah saatnya kita bangga menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Karena bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat sakral sebagai kebanggaan dan identitas bangsa, selain sebagai bahasa pemersatu bangsa tentunya. Mungkin akan terasa rancu pada awalnya, bahkan terdengar menggelikan (seperti ketika memadankan kata "mouse" komputer dengan kata "tetikus"). Tetapi seiring waktu, toh kita akan terbiasa (seperti menggunakan kata rudal sebagai pengganti kata "missile" dan mengindonesiakan singkatan ATM.. sumpah! Teman-teman saya masih banyak yang kaget ketika tahu bahwa rudal itu singkatan dari peluRU kenDALi, bukan bahasa Inggris..dan ATM dapat dipanjangkan menjadi Anjungan Tunai Mandiri, bukan Automatic Teller Machine..hehe)

Salam hangat
Gani, seseorang yang berharap suatu saat bisa berbelanja di "Toserba Blok M" atau di "Kota Senayan"

[+/-] Baca selengkapnya...