Selasa, 14 April 2009

Counter-Culture

Beberapa hari ini karena kebetulan sedang berada dirumah,saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa group di facebook.Beberapa group yang pasti langsung memikat anda,dikarenakan topic group yang “seru”.Group Anti Band Anu,Anti Band Fulan,Band Ini Plagiat,dan lain-lain.Intinya serupa,yaitu mengajukan topik mengenai permusikan lokal kita yang semakin memburuk.Namun setelah menjelajah hingga lepas larut malam,Saya belum menemukan yang saya cari,sebuah solusi kongkrit dan masuk akal.



Yang ada malah pola seperti ini.Di group anti2an itu dibuka discussion board (dengan judul yang kelewat offensive,kekanakan,meaningless),biasanya topiknya berkutat di ranah hujatan saja.Lalu datang comment nimbrung menghujat seperti air bah.Biasanya Cuma berupa sepatah kata cacian tanpa alasan yang relevan yang diulang-ulang.lalu ada satu orang yang memiliki pendapat yang berbeda.Hal ini bukannya ditanggapi dengan Admin memberi alasan rinci,malah disambar seketika dengan “wah…ada yang nge-flame nih…serang gan!!!”.Yang terjadi selanjutnya mudah diprediksi,saling caci maki (kadang2 membawa makian yang jauh keluar konteks),debat kusir absurd keroyokan (faktor mayoritas anak ABG yang join?).Solusi yang diharapkan semakin menjauh dari pandangan.Dan -maaf- ini tidak Cuma terjadi di topik musik,melainkan di segala topik berdasarkan segala isu pro-kontra.Mengapa terjadi seperti ini? Apakah sedemikian buruknya budaya kita untuk sekedar mengakomodasi kegiatan diskusi yang nyaman dan sopan? Mengapa segala discussion group yang mengusung isu krusial ini selalu terjebak pada hal-hal sepele seperti ini ?.Seakan-akan apabila pendapat mereka (tuan rumah group dan antek “idealis”nya) dinegasikan,seluruh harga diri mereka turut jatuh ke Bumi.Budaya kekanakan seperti ini tidak COCOK untuk berdiskusi.Semua akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya (udah keluar konteks nih.hehe)

Sekali lagi,akhirnya selama saya surfing diantara group2 sejenis ini.Tiada satupun solusi tepat yang keluar.Yang ada Cuma saling serang dan saling mengklaim “lo alay…!!!”, “lo yang alay,,an&*&g lo!!! “,sibuk memisahkan band mana yang alay dan “patut dibasmi” dari band yang dianggap “okay,fine..”. dan discussion board Cuma membahas sejauh “mengapa Kangen Band bermuka nelangsa? “ atau “Band-band yang diplagiasi D’Masiv” Saling kick (dikeluarkan dari group) terjadi dimana-mana.Absolutely ABSURD.Sekali lagi,hanya mengeluh,merepet,memaki,tiada solusi.

Padahal,apabila mereka berusaha fokus saja terhadap masalah ini (tanpa segala debat melelahkan tak berujung itu) dan tidak Cuma menyentuh permukaan dari fenomena gunung es ini,saya yakin solusi bisa cepat didapatkan.Maka dari itu,disini saya mencoba memberikan solusi masalah ini.Ini hanyalah analisa amatiran saya,tentu tidak didukung dengan data otentik.Hanya saya merasa ini lebih baik daripada sekedar membuang gerak jari mengetik caci maki tanpa solusi. Saya akan mulai dengan terlebih dahulu mengajak pembaca mengingat salah satu petuah orang bijak dahulu kala.”Sejarah selalu berulang..”

Mari kita flashback kembali ke pertengahan 70-an,era dimana Rahmat Kartolo,Panbers,Tetty Kadi,Obbie Messakh,D’Mercy’s (mengingatkan gua akan D’Masiv) adalah jawara blantika musik Indonesia.Pola musiknya mirip seperti sekarang,ketukan drum lesu,notasi minim kreativitas,dan (tentu) lirik yang menyayat hati setiap pendengar.Sekilas music Indonesia 70-an sudah mentok disini.Tetapi,disuatu lokasi di Jakarta bernama Gang Pegangsaan tersebutlah sekumpulan anak muda yang memilih jalur berbeda.mereka,dengan bakat diatas rata-rata,berusaha untuk melakukan breakthrough dengan segala cara.Kesempatan itu datang tatkala sutradara legend,Teguh Karya meminta seorang pemuda dari Gang Pegangsaan itu untuk mengisi score film terbarunya.Dengan berbekalkan peralatan seadanya,pemuda tersebut mengajak beberapa orang temannya untuk membantunya.Film itu sukses besar.Tetapi kesuksesan score filmnya jauh lebih dahsyat.Bahkan semenjak dirilis menjadi full-album langsung menjadi best-seller dan serta merta langsung meroketkan nama para penciptanya.Ya,benar.Nama album itu (seperti nama filmnya) adalah Badai Pasti Berlalu.Para penciptanya,Eros Djarot,Yockie Suryoprayogo,dan (terutama) Alm. Chrisye langsung menjadi household name musik local,menggeser nama-nama yang lebih dulu disebutkan.

Memasuki dekade 80-an sudah kita pahami semua.Godbless merajai music rock,Fariz RM dengan elektronika uniknya,jazz level dunia dari Krakatau,serta musik-musik kritik apik macam Harry Roesli,Iwan Fals,dan Ebiet G.Ade.Namun diakhir decade 80-an terlihat seperti terjadi pengulangan dari era 70-an.Musik-musik ‘lesu’ seperti Panbers dan Rahmat Kartolo muncul dalam bentuk Dian Piesesha,Nia Daniaty,dan kawan-kawan.Meroketnya musik ini kembali bahkan hingga membuat menteri penerangan saat itu,Harmoko,Membuat statement yang melarang TVRI menayangkan musik-musik ‘cengeng’.

Akan tetapi,trend ini tidak bertahan lama,bukan dikarenakan statement Harmoko tadi,melainkan segera munculnya nama lain yang berasal mula sama seperti anak-anak Gang Pegangsaan.Mereka memilki nama Gang yang berbeda,Gang Potlot.Slank dengan album debutnya yang eksplosif berhasil merebut perhatian khalayak dan kembali menempatkan musik rock ke tahtanya.Melihat bahwa anak-anak muda bisa melakukan terobosan hanya bermodalkan semangat dan kerja keras,Segeralah menyusul band-band yang terinspirasi .Muncullah band-band seperti Dewa 19,Kla Project,dan lain-lain.

Apakah anda sudah mengerti point saya dari serangkaian flashback yang dijabarkan diatas?.Intinya adalah,saya berpendapat bahwa untuk membunuh satu trend diperlukan trend lainnya yang berani menempatkan diri sejajar dengan trend tersebut.Untuk menghabisi satu culture diperlukan counter-culture.Seperti culture Rahmat Kartolo,Panbers dan lain-lain disapu bersih oleh musisi-musisi Gang Pegangsaan seperti Yockie S,Keenan Nasution,Chrisye.Seperti culture neo-sendu awal 90-an dihabisi D.I.Y anak-anak Gang Potlot.

Mari kita lihat apa saja amunisi kita untuk menggencarkan counter-culture dengan segera.Di ranah pop kita memiliki Efek Rumah Kaca,Sore,WSATCC,dan lain-lain.Di jalur rock ada Seringai,Polyester Embassy,The S.I.G.I.T.Hampir tak terhitung! Lalu mengapa perubahan belum terjadi ? seperti saya sebut diatas,counter-culture itu HARUS MENEMPATKAN DIRI SEJAJAR DENGAN CULTURE YANG AKAN DIHABISI.Apakah ini sudah terjadi? Jawabannya belum.Dan mustahil terjadi apabila para scenester kita kerap MENGHUJAT SETIAP BAND YANG INGIN MELEBARKAN SAYAP.

Masih ingat S.I.D ? di tahun 2002 mereka merilis album berjudul Kuta Rock City (masuk daftar majalah Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik Indonesia sepanjang masa) dan langsung dihujani hujatan from the so-called Punk Rock Scene.Koil pun pada 2003 merilis Megaloblast dan langsung dicap “murtad”.Tidak usah jauh-jauh,Rocket Rockers baru-baru ini tampil di Dahsyat dan beberapa kawan saya serta merta mencemooh.Bagaimana caranya kita merubah trend apabila setiap band “indie” tetap tinggal di “bawah tanah” dan menolak pergi ke medan laga? Dan setiap band yang memutuskan pergi ke sana langsung kehilangan support dari rootsnya?.

Penyebab utama adalah memang major label sudah dicap negative sejak dahulu kala.Tetapi apakah dengan Indie Label yang notabene Cuma mencakup regional terbatas kita bisa memulai movement perubahan ? bukankah satu-satunya cara adalah MENGEKSPOS MUSIK KITA SEBESAR-BESARNYA? mari kita pikirkan seperti ini,coba kita bayangkan apabila The Beatles memilih main regular di kafe-kafe kecil Liverpool dan menolak tawaran rekaman.Atau Chuck Berry yang lebih suka menjadi street musician daripada go public.Pastilah musik yang kita dengarkan hari ini Cuma sejenis Motown dari The Supremes,Aretha Franklin,dan paling pol adalah boogie-woogie monoton.Bisa mengerti maksud saya?


PERUBAHAN BISA TERJADI APABILA KITA RUBAH JUGA DIRI KITA.Rubah paradigma! INDIE ITU HAKIKATNYA CUMA BATU LONCATAN,BUKAN JALAN HIDUP.Paradigma seperti itulah yang kita (terutama para musisi) butuhkan.Silakan menghujat saya sebagai sell-out bitch,dll.Tetapi apabila kita terus berdiam di “bawah tanah kita yang nyaman” kapan khalayak bisa mendapat option (dalam konteks ini,option karya musik yang dirilis ke pasar) dan tanpa option,kapankah perubahan yang kita semua idam-idamkan bisa terjadi? Bila kita tidak menunjukkan keberadaan kita,bukankah khalayak akan terus mengkonsumsi segala yang ditawarkan industry music kita? Ingat,masyarakat mainstream menyukai musik yang kita anggap sampah itu bukan karena lirik mendayu-dayu,ketukan lesu,kunci standar.Melainkan karena mereka tidak pernah memiliki alternatif musik lain untuk didengar. DAN INDUSTRI TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MEMASOKNYA.Dilengkapi dengan kemalasan Indie untuk go-public..Lingkaran setan bukan?

Kita butuh untuk merebut ruang-publik itu dari mereka (para pengeruk kuntungan,minim kualitas rilisan),dengan cara mengirimkan segenap amunisi terbaik kita.Rocket Rockers yang sejak kemarin selalu dicemooh karena dianggap “sell-out” akibat tampilnya mereka di TV prime-time.Tapi bagi saya mereka telah melakukan hal yang berani.Mengapa? karena dengan begitu mereka telah berani mengekspos karya mereka ke depan publik mainstream.Mereka telah menunjukkan keberadaan mereka dan scene mereka ke khalayak luas.Inilah yang sesungguhnya kita butuhkan.Kita harus menyerang mereka tepat dimana mereka “bernafas”.Para musisi Indie haruslah beranjak dari “bawah tanah yang nyaman” menuju laga sesungguhnya berada.EKSPOS KARYAMU DIMANA-MANA.TAKE EVERY CHANCES OUT THERE.Tunjukkan bahwa musik seharusnya seperti apa.Hancurkan eksklusifisme dalam bermusik!

Maka dari itu,saya akan terus mensupport band-band Indie yang sudah “beranjak dewasa”.Yang berani menunjukan karya mereka kepada publik yang lebih luas.Inilah buah bakal perubahan.Bukan para musisi yang sok eksklusif,terlalu pengecut menunjukan karya untuk diadu dengan karya-karya yang selama ini mereka nistakan.Dan bukan pula para tukang nyampah di forum2 diskusi maya yang semata-mata Cuma menuju nihilisme akut minim substansi.

“sejarah selalu berulang..” dan kita tinggal memilih.



Rebut,Ubah,Nikmati

MIRZA FAHMI



[+/-] Baca selengkapnya...

Rabu, 01 April 2009

Monolog Pesta Demokrasi-Sebuah Parodi Satir

I

Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana

Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya


II

Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya

"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan


III

Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"

Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati

Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri


IV

Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui


V (Epilog)

Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?

Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri

***






Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana


[+/-] Baca selengkapnya...

I

Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana

Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya


II

Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya

"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan


III

Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"

Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati

Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri


IV

Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui


V (Epilog)

Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?

Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri

***






Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana


[+/-] Baca selengkapnya...

Senin, 09 Maret 2009

culinary trip

dalam posting kali ini saya akan membahas
'dunia itu nikmat ya??'
mengapa?
karena ice cream mc flurry varian baru itu enak,
coffee crunchy dan caramel crunchy..
bukan saya SPG nya McD atau bagaimana, tapi saya bicara sejujurjujurnya.
saya cinta kebenaran. anda belajar filsafat ilmu, kan??

walaupun McD itu korporasi barat sana dan mendunia..
mereka aditif..
sorry, junk food itu aditif lezatnya..



apalagi eskrim yang saya sebutkan diatas ditambah oreo atau biskuat susu, juga tambah corong eskrim yang kita sebut 'cone' atau sederajatnya, kue semprong...... dan makannya dengan spagetti gocengannya McD
ditambah pilus garuda, atau kerupuk kulit...setidaknya saya nge-mix sedikit dengan asupan lokal punya...gaya anak kosan.

take away atau dine in terserah anda.dengan teman atau kekasih bahkan rival terserah anda. keosan atau sendirisendiri terserah. dipinggir jalan atau restorannya yang ber AC ada TV 24jam hotspot juga bisa (internet gratisan, pamer leptop n BB yang laham, tapi beli makan gocengan) terserah anda juga. asal ga ngerepotin.

saya melakukan riset akhirakhir ini...
walaupun hanya sedikit sample yang saya ambil...dapat disimpulkan..
Spagetti KFC banyak tapi kurang enak dibanding McD.harganya pun sangat kompetitif.
Spagetti WS (we es- waroeng steak) berada diantaranya.
enak, harganya lebih tinggi namun sauce (baca: sozs) nya bikin mulut belepotan
burger McD gocengan kalah lezat dibanding burger Wendy's dengan harga yang relatif sama.
saya prefer wendy's karena sudah mendarah daging.kalo udah kelaperan sih sikat aja semuanya..
yang paling nampol adalah warteg bude samping kosan:
nasi setengah+sayur bayem+kentang balado+tempe oreg+mie= tigaribu rupiah=kenyang perut kembung.
atau kata temen2..yang bikin klenger itu PadGil (baca: padang gila)
hanya dengan lima ribu rupiah anda sekalian yang berjiwa piranha dapat makan masakan padang pake ayam dll terus bisa nambah...kenyang perut kembung..

wisata kuliner itu asik ya....
dunia itu nikmat asal galupa akhirat...

pesan moral kali ini...
makan boleh murah asal bersih dan kenyang...dan bagi temen disamping lo yang kagak makan, jangan medit.
inget buat nyumbangin sebagian duit lo buat sodarasodara kita yang belum bisa makan enak dengan cara berderma....
terakhir, jangan kebanyakan maakan biar bisa ruku ama sujud dengan nyaman.
thats it fo todays dialogue! adios amigos

label: wisata kuliner jelata jakarta pinggiran




[+/-] Baca selengkapnya...

Minggu, 08 Maret 2009

Budak-budak Fashion

"Di dalam fashion tidak ada logika"

Hai, jumpa lagi bersama saya. Setelah lama tidak menulis artikel di forum mahasiswa ini, ternyata dalam bosan tangan saya mengantar ide saya menjadi kata, yang berbaris menjadi kalimat, dan akhirnya mengejewantah menjadi suatu tulisan utuh (hehe sok puitis). Maka daripada tulisan ini menganggur dan menjadi sampah di hardisk saya, saya post-kan saja disini.

Oke, dalam tulisan kali ini saya akan membahas mengenai gejala trend yang menjangkiti masyarakat di daerah perkotaan. Suatu "arus" yang memiliki enerji guna mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup masyarakat urban. Dan trend yang sangat kuat itu bernama fashion. Dan sekali lagi, dalam bahasan ini saya tidak akan menggunakan referensi yang kuat, seperti yang mungkin dikaji dalam telaah psikologi massa..Dan saya pun tidak akan membawakan argumen yang kuat. Tulisan ini saya utarakan diatas pemikiran saya sendiri, yang notabenenya hanya seorang mahasiswa pemerhati sosial amatiran. Jadi, tentu argumen saya akan penuh kekurangan di segala segi. Untuk itu, saya bersedia menerima kritik, saran atau pendapat dari anda sekalian yang membaca argumen yang akan saya utarakan dibawah ini.

Oke, sebelum saya mulai pembahasan kali ini, mungkin anda akan bertanya mengapa saya membatasi lingkup bahasan ini hanya pada masyarakat urban. Mengapa masyarakat desa tidak ikut dibahas? Apakah karena saya orang desa sehingga pendapat saya berat sebelah?

Haha, bukan itu alasanya saya membatasi permasalahan yang akan saya bahas hanya pada masyarakat metropolitan. Tetapi karena beberapa asumsi yang saya gunakan hanya akan pas bila dipakai untuk membahas perilaku masyarakat yang hidup di kota besar. Asumsi-asumsi tersebut saya rinci sebagai berikut:
1. Saya menganggap masyarakat kota sebagai masyarakat yang lebih cerdas. Namun dibalik kecerdasanya, masyarakat urban ternyata masih memiliki ketidakrasionalan yang dapat dieksploitasi.
2. Masyarakat metropolitan lebih majemuk. Dimana terdapat akulturasi budaya dalam bermasyarakat. Sehingga lebih mudah menyerap pengaruh suatu trend.
3. Dan yang terakhir, namun yang paling penting. Corak kehidupan masyarakat urban lebih hedonis. Dimana sebenarnya, dengan kecerdasan mereka, mereka masih memiliki ketidakrasionalan yang tinggi dalam pemenuhan jiwa konsumtif mereka.

Oke, berangkat dari asumsi-asumsi diatas, saya menuangkan suatu pandangan mengenai gejala trend fashion yang mewabah masyarakat di kota besar, terutama masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai manusia kita memiliki kebutuhan sandang, yaitu kebutuhan akan pakaian. Selain itu, kita juga memiliki kebutuhan lain yang bersifat abstrak. Yaitu kebutuhan akan keindahan, atau dalam istilah seninya "estetika".
Dari dua kebutuhan itu, lahirlah industri fashion. Industri yang pada awalnya tercipta guna memenuhi kebutuhan pakaian, yang selain untuk menutup aurat juga untuk memperindah penampilan, yang pada akhirnya berubah menjadi suatu trend. Dimana seolah-olah ada kekuatan "diktatoris" yang mengatur gaya apa yang sedang "in" untuk tahun ini, dan apa yang sudah ketinggalan jaman.

Saya sering geli sendiri. Bagaimana mungkin sekumpulan orang, yang menamakan dirinya "trendsetter", mampu mempengaruhi ribuan orang dalam berpakaian. Dengan titah mereka yang bernama "mode", para pengikutnya, yang jumlahnya jutaan, mampu mengkonsumsikan pendapatan mereka secara besar-besaran guna mengikuti titah dari "trendsetter" tersebut. Tas-tas, gaun malam, high heels, dan sebagainya.

Lebih geli lagi, gaya pakaian yang tahun lalu dianggap Fashionable, tahun ini bisa saja dibilang kampungan, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Sedangkan pakaian yang tahun ini dianggap aneh, norak, atau 'gak matching', mungkin tahun depan malah dianggap sebagai mode...haha


Apakah mereka, para pengikut fashion, tidak menyadari mengapa trend tiap tahunya berubah?
Tentu mereka tidak sadar. Karena mereka, dengan segala kecerdasan mereka, termakan oleh ketidakrasionalan jiwa hedonis mereka. Padahal mereka jelas-jelas tertipu oleh industri fashion, yang sengaja menciptakan siklus perubahan trend mode tiap tahun, guna memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Karena siklus tahunan ini adalah kunci utama dunia fashion dalam meraih keuntungan.

Coba anda pikirkan, bila fashion tahun ini sama dengan tahun lalu, tentu industri fashion akan lesu, atau setidaknya tidak semeriah apabila fashion memiliki siklus tahunan. Karena, orang-orang tentu tidak akan terlalu banyak membeli pakaian baru. Mereka hanya akan membeli sebagai koleksi tambahan saja.
Namun apabila siklus tahunan digalakan, tentu para pengikut fashion akan membeli pakaian baru dengan model baru secara besar-besaran. Karena pakaian yang telah dibelinya pada tahun-tahun sebelumnya telah dianggap ketinggalan jaman dan hanya akan menjadi sampah di lemari baju mereka.

Lalu industri fashion, yang sudah kehabisan ide tentang mode apa yang akan dijadikan trend tahun depan, akan kembali mengangkat mode lama. Ketika pakaian-pakaian model itu sudah jarang yang memiliki atau sudah usang di lemari. Sehingga tentu, para pengikut fashion akan tetap membeli pakaian mode tersebut guna mengikuti fashion. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa mode tahun 60an kembali 'booming' di era 80an, dan kembali 'booming' lagi ditahun 2000an?

Oke, dalam bahasan ini saya tidak melarang anda untuk tampil trendi. Tetapi saya hanya ingin memaparkan suatu pandangan, bahwa trend fashion sekarang sudah sangat berlebihan. Dimana logika dikesampingkan demi hedonisme belaka. Saya berpikir, kalo hanya ingin tampil 'trendi', tidak perlu selalu mengikuti trend fashion.. Selalu membeli pakaian mengikuti trend, dan dengan mudah mencampakanya apabila mode berkata sudah ketinggalan jaman.

Apa yang anda kenakan adalah representasi kepribadian anda, jadi apabila anda sering bergonta-ganti gaya pakaian hanya demi mengikuti trend, berarti anda adalah orang yang berkepribadian mudah goyah, mengikuti apa saja yang dikatan pasar, atau bisa dibilang tidak memiliki KEPRIBADIAN..(hehe, sori saya agak kasar, emang sengaja menyentil)

Oke, terakhir saya ingin menyimpulkan. Seberapa seringnya anda berganti gaya mengikuti mode, diri anda tetaplah diri anda. Anda tidak akan menjadi lebih hebat dengan menjadi fashionable, dan malah akan menjadikan diri anda sendiri sebagai korban mode. Kenali diri anda, cari gaya berpakaian yang paling pas merepresentasikan anda. Anda akan terlihat lebih "pure" dengan menjadi diri sendiri.


Wassalam
Gani, yang awalnya mau menulis tentang alokasi dana pendidikan 20% yang belum terealisasi. Tapi urung karena kurang bahan..hehe

[+/-] Baca selengkapnya...

Time For A Change,Time To Move On,Pure Saturday Concert Review

Sebenarnya konser ini sudah lama digelar.Tetapi tidak ada salahnya toh saya membuat review yang kelewat telat ini.Saya hanya ingin sharing sedikit mengenai pengalaman saya menonton konser yang saya anggap luar biasa ini.Maaf kalau ada detail-detail yang terlewat.Maklum udah agak lupa.


Minggu malam,hujan tidak henti-hentinya mengguyur kota Bandung sejak menjelang magrib.Ini tidak menyurutkan niat saya untuk menonton konser tunggal salah satu band paling influensial di kancah Indie scene Indonesia,Pure Saturday.Eksistensi selama hampir 15 tahun menciptakan momentum yang cukup untuk menggelar konser tunggal ini.Dengan tajuk sama dengan album kompilasi Greatest Hits mereka yang dirilis tahun lalu,“Time For A Change,Time To Move On”.Informasi mengenai konser sejak jauh-jauh hari pun memudahkan banyak fans mengantisipasi konser ini.Saya lihat di Facebook,Bahkan ada fans dari Jawa Timur yang bela-belain untuk menonton konser yang cukup bersejarah ini.Sementara saya? saya cukup bersyukur konser ini digelar ketika saya kuliah di Bandung.haha

Konser ini digelar di GSG Itenas.Cukup jauh dari Kost saya yang terletak di bilangan Ciumbuleuit.Dengan naik motor kira-kira makan waktu 15 menit.Jadi,bisa dimaklumi keadaan saya yang agak basah kuyup ketika sampai di Venue.Ketika saya sampai,Venue belum dibuka.Duduk menunggu tanya loket dan penjaga,konser katanya akan dimulai jam 8 malam.Saya pun merokok sebentar,membeli tiket,dan membeli satu kaos Pure Saturday yang cukup jarang saya temui.Tak lama,kira-kira pada jam 19:50 venue dibuka.Para penonton yang sudah bergerombol sejak pukul 19:00,masuk ke dalam venue secara tertib.Begitu menjejakkan kaki ke dalam,segera terlihat set panggung yang cukup minimalis.Cukup sederhana untuk ukuran sebuah konser tunggal.Tinggi panggung kira-kira hanya sekitar setengah meter,dan tak ada barikade sama sekali antara panggung dengan 'kubu' penonton.Mungkin Pure Saturday ingin menciptakan suasana intim dengan para fans dan penonton pada konser malam ini.Kita lihat saja.

Para penonton pun,melihat panggung yang rendah,segera memutuskan untuk lesehan saja di lantai.Dengan lesehan pun saya merasa bisa mengamati sekeliling dengan leluasa.Tampak GSG tidak terisi penuh sehingga udara terasa lega.Nampaknya ini akan menjadi salah satu kunjungan konser saya yang paling nyaman,pikir saya.Diatas panggung terlihat para kru sedang mengeset alat-alat dan sound-system.Para penonton tampak amat antusias.Menurut info,konser kali ini tidak memakai band pembuka.karenanya,tak sampai 20 menit menunggu,Terdengar suara perwakilan E.O dari pengeras suara,menyambut Pure Saturday naik keatas panggung.And the crowd went wild at the same time!.Seiring dengan naiknya para personil,penonton meneriaki nama mereka satu persatu.Sementara para personil lain sibuk menyetel alat-alat mereka,Iyo sang vokalis menyapa sejenak para penonton,berterimakasih atas kedatangannya serta rela berhujan-hujan demi konser yang cukup sederhana ini.

Selepas sambutan singkat,seketika lampu venue dan panggung dimatikan.Penonton yang belum sempat mengucap sepatah kata pun,dibuat tertegun dengan suara Hi-Hat,Udhie sang drummer memainkan notasi drum yang sangat familiar.Banyak penonton yang menebak-nebak.,"oh gue tau nih...pasti.." tebakan yang tepat,sound fuzzy delaying gitar Adhie yang dreamy dengan sigap bersinergi dengan melodi-melodi Arief yang sederhana tetapi cepat menyangkut di telinga.Keduanya segera menimbuhi permainan drum tadi.Crowd langsung menyanyikan verse pertama dari lagu yang mereka sudah hafal benar ini.”I don’t know why we do it like this,oh,so strange….” Koor massal serentak membahana di dalam venue.”Pathetic Waltz” adalah pembuka konser yang sangat cantik.

Terlihat sejak lagu pertama para personil PS sibuk dengan instrument mereka masng-masing dan tidak banyak bergerak.Mungkin mereka memang mengutamakan kualitas permainan pada konser kali ini.ini ditunjang oleh kualitas sound yang sangat prima dan akustik venue yang pas.Terbukti dengan mulusnya permainan mereka pada lagu-lagu berikutnya,seperti “Sajak Melawan Waktu”, “Mereka”,dan “Kaca”.satu hal lagi yang patut diberikan kredit lagi disini adalah permainan lighting apik dan Film-film pendek yang diproyeksikan pada layar putih besar dibelakang para personil.Masing-masing film mewakili tiap lagu yang dimainkan.

Pikiran langsung berusaha mencari jejak 15 tahun kebelakang.Pure Saturday menyeruak bersama Puppen dan Pas Band memulai suatu movement yang bertahan hingga kini.Yaitu Indonesian Indie Culture.Dengan music yang sudah established di luar negeri tetapi masih langka di Indonesia mereka segera menarik perhatian banyak khalayak.Terutama ketika album pertama mereka rilis sebagai bonus majalah Hai pada medio 1994.Album yang memang nampak sangat terinfluens The Cure,Ride,Stone Roses ini segera menempatkan lagu-lagu mereka pada airplay radio di banyak kota.Banyak band-band serupa segera bermunculan.Dan gerakan ini belum berhenti hingga sekarang.Memang suatu konser tunggal sangat pantas sebagai tribute untuk mereka.

Konser ini pun menelurkan banyak momen menarik.salah satunya adalah tampilnya Rekti The S.I.G.I.T sebagai vokalis tamu pada lagu “Nyala”.Kolaborasi yang menarik karena Rekti tampak menyanyikan “nyala” dengan vocal seperti pada lagu-lagu The S.I.G.I.T.Haha.Nyala dengan vocal ala Robert Plant memang Menjadikan lagu ini jadi ‘ugal-ugalan’.Selain itu,selepas kolaborasi,tampak para personil PS bercanda dengan memainkan intro “Whole Lotta Love”nya Led Zeppelin.ajakan jamming dadakan ini segera disambut Rekti.Jadilah satu nomor dari Led Zeppelin tiba-tiba masuk dalam repertoire konser.Penonton pun jadi terbawa gila-gilaan.Sing-along liar,sesuatu yang langka pada konser PS,terjadi di lagu ini.Bahkan salah satu pemuda dibelakan saya,meminta saya mengangkat badan dia,mau body-surf.haha.Sehabis lagu ini,Rekti yang turun panggung disambut tepuk tangan membahana crowd yang kelelahan tetapi terus tertawa mengingat kejadian tadi.

Bukan itu saja kolaborasi yang ada.Agung Burgerkill juga diajak pada satu jeda antar lagu.Dengan menenteng gitar akustik dan sekaleng bir,Ia naik ke panggung dan memainkan secara instrumental medley dari lagu-lagu Pure Saturday.Sungguh mengasyikan melihat Agung yang biasa memainkan nada-nada 'horor' Burgerkill sekarang memainkan nomor-nomor akustik instrumental dengan tingkat presisi yang tinggi.Permainannya ditutup dengan intro dari “Silence”.Intro ini Agung biarkan menggantung seraya ia meninggalkan panggung,tetapi tak lama intro 'terbengkalai'ini segera disambung dengan intro 'Silence' yang sesungguhnya oleh Adhie.Penonton yang sejak awal konser sudah lesehan pun mulai serentak berdiri menyambut lagu ini.Lagu dari album pertama ini adalah salah satu favorit saya.Sound gitar yang noisy dan wah-wah pedal penuh feedback dipadukan,sehingga menimbulkan “keberisikan” yang liar tetapi indah secara bersamaan.Teknik ini mengingatkan pada Ride era “Nowhere”.Dan apabila anda menyempatkan melihat foto-foto konser itu.mungkin anda bisa melihat saya merangsek ke depan panggung kala lagu “Silence” dan bernyanyi asal-asalan sambil mengepalkan tangan ke udara.Hope you’ll never find it,though.aha.

Pertengahan konser,Iyo menyempatkan berterimakasih kepada seluruh keluarga Pure Saturday.Ia pun tak lupa menyapa para ‘penonton’ di pinggir panggung seperti Ucok Homicide dengan khas “Hey Motherfucker! Motherfucker! Respect yo…”dengan logat seperti rapper gangsta bersiap menuju peperangan East Coast-West Coast.Sebuah bentuk candaan terhadap Ucok yang memang telah mencapai status militan di ranah hip-hop bawah tanah.Belum habis tawa penonton,Ia segera menyambung candaan dengan berterimakasih kepada penonton karena telah menonton band Indie seperti mereka,“Bukan band-band yang ada di TV,yang memiliki nama aneh,dan diusahakan seaneh mungkin”..HAHA.Sehabis sambutan,Iyo dan PS pun pamit untuk jeda.

Satu hal yang agak mengganjal pada konser ini adalah jeda.Jadi konser ini dibagi pada 3 ‘babak’.Jeda antar babak ini memang agak membuat bosan.alangkah baiknya agar jeda itu diisi dengan documenter PS misalnya,but after all.Jeda itu terbayar oleh setiap kejutan yang menanti setiap usai jeda.Antara lain diundangnya Muhammad Suar Nasution,vokalis lama mereka (tetapi sekarang mulai bergabung lagi?) keatas panggung sejak lagu “Sirkus” hingga akhir konser.

Suar sendiri menurut banyak kritikus sudah mencapai pendewasaan sejak album pertama bersama PS.Terlihat pada Album “Time For A Change,Time For Move On”,Suar telah menemukan ciri khas vokalnya.Dimana pada album pertama dan kedua,Ia lebih sering berpatron pada gaya vocal Robert Smith.Pada “Sirkus” ia bernyanyi dengan wajah sumringah dan senantiasa mengajak sing-along penonton.Kelasnya terlihat pada lagu-lagu album kedua yang cukup kompleks aransemennya macam “Labirin”,”Belati”,dan “Gala”.

Lagu-lagu tanpa terasa terus bergulir.Tanpa terasa,2 jam hampir habis.setelah ”Coklat” kelar dibawakan.Intro yang sudah dihafal seluruh crowd terdengar dimainkan Adhie.Sebuah intro lagu yang revolusioner.Lagu yang sempat menjadi 'raja' pada chart-chart radio anak muda medio 1994-1996an.Dan apabila kita pernah melihat Mtv pada masa itu (medio 1996).Maka kita akan terkejut melihat satu video klip yang beda.Disaat band-band lain berlomba-lomba mempercantik penampilan mereka di video dan berusaha disorot sesering mungkin oleh kamera,ada satu band pendatang baru memainkan music yang agak janggal,dengan vocal samar menyanyikan lirik yang abstrak.Video clipnya pun cuma menampilkan satu ruangan berpenerangan redup,dan sosok-sosok siluet yang bergerak tidak teratur mengikuti alur lagu.”Kosong” dibawakan PS.Iyo dan Suar hampir tak pernah bernyanyi.Penonton mengambil semua jatah nyanyian mereka tanpa sisa.

2 jam tak terasa sudah berlalu.”Enough” pun dibawakan PS sebagai lagu terakhir.Penonton yang tentu masih belum puas segera berteriak-teriak “lagi!lagi!lagi!....” taktik yang cukup berhasil,PS bersedia memainkan satu lagu lagi.Sebuah cover song.”Boys Don’t Cry” The Cure.Lagu yang sudah dapat dikategorikan sebagai lagu 'wajib nasional'.Para penonton dengan liar merangsek ke naik ke panggung berebutan mic Suar dan Iyo.PS pun tidak tampak risih melihat penonton yang semakin berjubel di panggung,Malah,mereka memprovokasi satu koor massal yang seru pada tiap bait "Boys Dont Cry".Sebuah penutup yang memorable.Dimana semua crowd memenuhi panggung sembari berjoget-joget,benyanyi seadanya,berpeluh bahagia,mengakhiri konser yang akan terus berada di benak saya untuk waktu yang lama.



Salut,
MIRZA FAHMI memberi konser ini 4 bintang.satu bintang lg ga dikasih karena PS ga bawain “Langit Terbuka Luas,Mengapa Tidak Pikiranku Pikiranmu”



[+/-] Baca selengkapnya...

Kamis, 05 Maret 2009

Mandi

Heiyho...ini tulisan perdana gw di blog GAM ini...sebagai kontributor dan teman mereka..gw salut si Gani Aga dan Mirza
bisa meulis seperti ini...dulu sih cuma percakapanpercakapan biasa di ruang kelas..ternyata sudah dibekukan disini!
nah, gw sekarang mau ber kontribusi salah satu puisi gw aja...selamat membaca dan memaknai....heuheuheu...


kota tua ini belum mandi
gedung gedung tumbuh menjulang
paruparu kota lambat laun hilang
bangunan makin disusun
tambah malas saja untuk terbangun

kota tua ini belum mandi
juta kendaraan berbaris menggerayangi tubuhnya yang miris
banyak kubangan tertampung dalam lubang jalan
basah oleh keringat
dan airmata menjadi butek oleh sampahsampah manusia yang dibuang seenak jidat

kota tua ini belum mandi
entah karena sumber air dimonopoli
atau air pam belum terdistribusi

kota tua ini belum mandi
udara makin pengap dan panas
karena poripori belum terbuka luas
kendaraan melaju mengeluarkan asap hitam
kita tinggal tunggu kapan jadwal alam naik pitam

kota tua ini belum mandi
cuci muka saja belum
apalagi gosok gigi
sabunpun belum terbeli

kota tua ini malas mandi
daki menumpuk kulit bersisik
tubuh gatal belek membeku
anyir tercium buat jijik
yang menetap apa tidak mau tahu?
yang menetap apa tidak malu?

kota tua ini malas mandi
pada musim ini
tinggal tunggu hujan berkepanjangan
pun kita pasti akan kewalahan

jehan syauqi 2februari 2009

[+/-] Baca selengkapnya...