Rabu, 01 April 2009

Monolog Pesta Demokrasi-Sebuah Parodi Satir

I

Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana

Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya


II

Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya

"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan


III

Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"

Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati

Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri


IV

Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui


V (Epilog)

Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?

Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri

***






Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana


1 komentar: