Selasa, 03 Maret 2009

Zapa..who?

Jumpa lagi,yah sebenarnya saya sudah agak capek menulis tentang topik berat terus-menerus.Sesekali,ingin juga menulis tentang kenangan masa lampau era SD,SMP,dan SMA.Tetapi saya seolah terganjal oleh satu topik ‘hutang’ yang belum dijabarkan.Mungkin setelah ini saya bisa menulis tentang kejadian yang ringan-ringan lagi.Kali ini,seperti janji saya tempo hari,saya akan membahas mengenai gerakan Zapatista di provinsi Chiapas,Meksiko.Wah..wah..apa itu?

Sebagai pembuka,saya akan meminta pembaca untuk membayangkan barang sejenak.
Bayangkanlah,

Jika dunia ini adalah suatu kampung global yang terdiri dari 100 orang,70 diantaranya buta huruf,dan hanya 1 yang menjalani pendidikan tinggi.Lebih dari 50 orang kekurangan gizi,lebih dari 80 hidup di gubuk-gubuk reot.Dan 6 diantaranya adalah orang Amerika.Keenam orang itu mengambil,menguasai,dan menikmati lebih dari separuh pendapatan dan kekayaan orang seluruh kampung.

Lho! Mengapa keenam orang kaya ini bisa tetap ‘damai’ dengan penduduk kampung lain?

Karena ternyata keenam orang itu menciptakan dan mengajarkan semacam tarian dan nyanyian ‘senam massal’,hingga sebagian dari 94 orang itu rela menjadi pengikut setianya setiap pagi dengan sukarela.Meskipun banyak diantara yang 94 itu tidak ikut senam,namun mreka dengan senang hati ikut menyanyikan lagu itu.

Keenam orang sisanya ini mempersenjatai diri untuk menaklukkan orang-orang yang sedang sibuk senam ini.Bahkan,ada yang menjual senjata kepada beberapa orang diantara 94 orang itu-untuk saling menyerang antar sesama-untuk menguij kekuatan senjata mereka.Tetapi,entah bagaimana,senjata-senjata itu pada gilirannya sampai kepada para Zapatista…………yang memakainya untuk menciptakan letusan yang mengagetkan keenam orang tersebut.Letusan itu,ternyata merupakan bagian dari nyanyian yang kemudian mulai dinyanyikan oleh orang-orang lain yang terpesona olehnya.

(Diadaptasi dari “Globalization from Above and from Below: a Dialectical Process” karya Gerrit Huizer)

Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN/Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional) memulai aksinya beberapa menit sesudah tahun baru 1 Januari 1994.Mereka keluar dari hutan raya Lacandon lalu menduduki Kota San Cristobal de Las Casas,dan juga kota-kota Ocosingo,Menyerang kantor-kantor tentara yan semuanya berada di provinsi Chiapas,Meksiko tenggara.Mereka bukan tentara biasa,mereka tentara pemberontak ! ratusan petani bersenjata dan memakai topeng ski hitam (balaclava).Menduduki posisi strategis Chiapas secepat kilat.

“masalah perang bukanlah masalah siapa yang mempunyai senjata lebih banyak,peluru lebih banyak,dan orang lebih banyak,melainkan siapa yang benar!” demikian kalimat yang sering diutarakan juru bicara EZLN,Subcomandante Marcos.

Tetapi,kebenaran apakah yang mereka perjuangkan? Suara pertama Zapatista adalah :
“Kami adalah pewaris dari para pendiri bangsa.kami adalah jutaan orang yang kehiangan harta,dan kami menghimbau semua saudara laki dan perempuan bergabung bersama dalam panggilan mulia ni,satu-satunya cara mencegah kelaparan karena keserakahan tanpa akhir dari kediktatoran yang bercokol lebih dari 70 tahun,dibawah kepemimpinan sekelompok pengkhianat yang mengabdi pada kaum konservatif yang telah menjual bangsa.pada deklarasi dari rimba Lacondon ini,kami nyatakan YA BASTA!! (cukup sudah)!!....”

Satu hal yang bisa ditangkap dari pernyataan diatas,pertama-tama,kita tidak menemukan kalimat kalimat pendahuluan dengan rujukan ideologis manapun,seperti mengutip Marx,Lenin,Bakunin,maupun Che; Kedua,Zapatista memayungi pemberontakannya sebagai pemberontakan konstitusional.Mereka mengutip UUD Meksiko pasal 39 yang berbunyi “Rakyat mempunyai hak,hak yang tak dapat dihilangkan,kapan pun untk mengubah atau memperbaiki bentuk pemerintahannya” ketiga,Itu adalah deklarasi perang,bukan melawan pemerintahan,tetapi hanya melawan segelintir korporat dan pemimpin eksekutif.lalu memohon pada bahan legislatif dan yudikatif untuk menggunakan wewenang konstitusionalnya,melucuti presiden Meksiko saat itu,Carlos Salinas,dan menggantinya dengan pemerintahan yang demokratis,desentralistis,dan mengangkat harkat martabat para indigenous people (penduduk asli Meksiko,orang Indian).

Mereka mengambil timing 1 januari 1994 sesuai dengan tanggal berlakunya NAFTA (North American Free Trade Agreement) yang pada 1992 ditandatangani oleh Presiden Amerika,George Bush Sr,Perdana Menteri Kanada Brian M.,dan presiden Meksiko Carlos Salinas De Gortari. NAFTA kurang lebih menekankan pada eksploitasi segala sumber daya alam meksiko dengan dibebaskannya segala peraturan perbatasan untuk perdagangan.Korporasi yang mendapat keuntungan hanya memberikan upah kecil kepada penduduk di tempat sumber daya.NAFTA dipandang Zapatista sebagai sabda kematian pemerintah meksiko tanpa harus menggunakan senjata.Mereka menganggap kebijakan berat sebelah itu akan membunuhi rakyat. Meksiko secara perlahan-lahan.

Zapatista semata-mata memperjuangkan hak-hak rakyat Meksiko terhadap segala sumber daya alamnya.Basis di Chiapas adalah pilihan yang cocok.karena,Chiapas,walaupun memiliki kekayaan alam berlimpah,menjadi provinsi yang paling miskin di Meksiko.setelah diduduki,Mereka pun menerapkan hukum Zapatista di Chiapas.dimana hukum itu menekankan pada keadilan jual beli,penjaminan hak-hak perempuan,dan pendidikan wajib untuk anak-anak..

Pemerintah Meksiko tentu tidak tinggal diam.Dalam satu serangan balik,pasukan Zapatista berhasil dipukul mundur.Lalu bertahan kepayahan di rimba raya Lacandon.Disinilah pasukan Zapatista mulai menunjukkan ciri mereka yang paling khas.Mereka,diwakili sang juru bicara Subcomandante Marcos (belakangan diangkat jadi komandan penuh) yang memakai nama samaran Delegate Zero,mulai mengeluarkan komunike-komunike (semacam prosa harian menjelaskan tentang perkembangan perjuangan,tujuan mereka,dll) yang rata-rata diterbitkan di surat kabar setempat.Tak lama kemudian,komunike yang Subcomandante Marcos tulis secara regular,mencapai luar negeri.disinilah basis dukungan untuk mereka mulai mewabah ke seluruh dunia.

Langkah ini dipandang brilian.mengukir militansi tanpa senjata konvensional (yang sudah pasti kalah jumlah dengan pemerintah) melainkan dengan prosa-prosa tentang gerakan mereka yang humoris,energik,inspiratif,dan imajinatif.Hal ini dijelaskan oleh Subcomandante Marcos; “Seorang prajurit adalah seorang absurd yang harus menggunakan senjata untuk meyakinkan orang lain;dan dalam arti itu gerakan ini tak punya masa depan jika masa depannya adalah militer”.Ini membuat Zapatista begitu menarik perhatian para ahi,bukan hanya karena metode uniknya,melainkan juga karena keahlian sastrawi pemimpin-pemimpinnya yang amat diatas rata-rata.

Tulisan-tulisan itu bisa bermacam-macam,terkadang kritik pedas yang penuh humor sinis,cacian,provokasi yang membara.namun,bisa juga renungan spiritual,puisi romantik,dongeng tua meksiko,bahkan bisa berwujud sebagai cerita khayalan liar sang komandan belaka.Khayalan yang paling sering diperbincangkan adalah epos mengenai Don Durito,kumbang galak yang gemar merokok pipa sembari mengkritik neoliberalisme (menganggapnya sebagai ideologi bom waktu.Analisa yang tepat melihat kondisi krisis global saat ini).Support yang dihasilkan berkat komunike-komunike ini luar biasa.Banyak kalangan kemudian memberikan dukungan moral.Band-band politikal seperti Rage Against The Machine,Rise Against,Brujeria,dan Anti-Flag sering membuat konser amal untuk kemudian disumbangkan kepada pergerakan,atau sekedar memberikan dukungan moral melalui lirik-lirik lagunya.

Zaman internet pun datang,Zapatista semakin memperkuat aikonisasinya dengan merilis situs-situs Zapatista dan segala hal tentang kampanye melawan neoliberalisme.Pada tahun 1999 mereka membuat petisi di 32 negara,termasuk Indonesia,menanyakan perihal kampanye anti-neoliberalisme mereka dan apakah pergerakan ke depan perlu dilanjutkan.Jutaan orang di Meksiko dan ratusan ribu aktivis di seluruh dunia memberikan dukungan mereka kepada Zapatista.Aktivis-aktivis di Indonesia yang menandatangani petisi ini antara lain Alm. Munir dan Teten Masduki.

Kini,15 tahun setelah deklarasi Lacandon.Zapatista masih menempati pos terpencilnya di rimba raya pegunungan.Masih bergulat nyawa sepanjang hari ditengah bidikan para penembak jitu tentara federal,dibawah bidikan laras-laras meriam aneka bentuk yang diimpor pemerintah Meksiko dari negara kerabatnya.Tetapi,semangat itu terlihat masih ada.Komunike-komunike terus dikirim ke dunia luar dari sunyinya pegunungan hutan hujan.Mengabarkan semua hal yang berabad-abad mereka dambakan.Perjuangan terlihat tak ada ujungnya.

Mungkin suatu hari pun komunike akan berhenti sama sekali.Tak ada lagi Don Durito dan segala kritik-kritiknya dan segala Kalimat-kalimat provokatif menggelora.Saat segala mesin perang yang mengepung hutan Lacandon berhasil melumpuhkan satu demi satu pekik perlawanan.Berhasil menuntaskan dominasi.Sekedar mengulangi repetisi standar sejak berabad-abad yang lalu.Kita tidak tahu itu.

Mungkin juga Zapatista bukan Cuma nama yang hanya terkait dengan rimba raya Lacandon.Bukan Cuma sekedar goresan pena pada setiap komunikenya,bukan Cuma setiap peluru untuk melumpuhkan kepungan mesin perang.Bisa jadi itu adalah hasrat,hasrat yang kian menular dewasa ini.Bisa jadi hasrat itu juga kita miliki.Setiap hari kita tekuni,renungi,dan ahirnya kita yakini.Kita tidak tahu itu.Suatu hari mungkin kita bangun,duduk di sofa empuk sambil menghirup aroma kopi yang telah tersaji,dan melihat berita yang sama.Sama dengan berita di TV 15 tahun yang lalu.Apa yang terjadi di Lacandon,mungkin terjadi lagi di kampung halaman kita sendiri.Mungkin di desa-desa terpencil yang selama ini hanya menjadi tujuan pelesir tuan-tuan saudagar? Tujuan pelesir kita? Selama ini kita konsumsi hasil alamnya? tanpa tahu derita warganya,yang lama lama berubah jadi hasrat angkat senjata?.Sekali lagi Saya tidak tahu.Tapi,mungkin cuma soal waktu.

NB :Info lebih lanjut mengenai Gerakan Pembebasan Nasional Zapatista dapat dilihat pada http://www.ezln.net. Atau mengenai kumpulan komunike-komunike Zapatista bisa dibaca pada buku “Bayang Tak Berwajah –Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista 1994-2002” terbitan Insist Press Yogyakarta.
Lawan!


Salut,
MIRZA FAHMI sedang menyusun dokumen juga,tapi mengenai aksi bolos-bolos era SMP.






3 komentar:

  1. Ja, gue baca Zapatista sambil dengerin WOJ yg "The Hunter". hahahah berasa nonton film.

    BalasHapus
  2. hahaha..sambil dengerin Hatebreed ger,biar hate!

    BalasHapus
  3. VIVA ZAPATISTA...SEMOGA KONSISTEN MENEMUH JALAN KEBENARAN, i luv marcos like i luv heaven

    BalasHapus