Minggu, 08 Maret 2009

Budak-budak Fashion

"Di dalam fashion tidak ada logika"

Hai, jumpa lagi bersama saya. Setelah lama tidak menulis artikel di forum mahasiswa ini, ternyata dalam bosan tangan saya mengantar ide saya menjadi kata, yang berbaris menjadi kalimat, dan akhirnya mengejewantah menjadi suatu tulisan utuh (hehe sok puitis). Maka daripada tulisan ini menganggur dan menjadi sampah di hardisk saya, saya post-kan saja disini.

Oke, dalam tulisan kali ini saya akan membahas mengenai gejala trend yang menjangkiti masyarakat di daerah perkotaan. Suatu "arus" yang memiliki enerji guna mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup masyarakat urban. Dan trend yang sangat kuat itu bernama fashion. Dan sekali lagi, dalam bahasan ini saya tidak akan menggunakan referensi yang kuat, seperti yang mungkin dikaji dalam telaah psikologi massa..Dan saya pun tidak akan membawakan argumen yang kuat. Tulisan ini saya utarakan diatas pemikiran saya sendiri, yang notabenenya hanya seorang mahasiswa pemerhati sosial amatiran. Jadi, tentu argumen saya akan penuh kekurangan di segala segi. Untuk itu, saya bersedia menerima kritik, saran atau pendapat dari anda sekalian yang membaca argumen yang akan saya utarakan dibawah ini.

Oke, sebelum saya mulai pembahasan kali ini, mungkin anda akan bertanya mengapa saya membatasi lingkup bahasan ini hanya pada masyarakat urban. Mengapa masyarakat desa tidak ikut dibahas? Apakah karena saya orang desa sehingga pendapat saya berat sebelah?

Haha, bukan itu alasanya saya membatasi permasalahan yang akan saya bahas hanya pada masyarakat metropolitan. Tetapi karena beberapa asumsi yang saya gunakan hanya akan pas bila dipakai untuk membahas perilaku masyarakat yang hidup di kota besar. Asumsi-asumsi tersebut saya rinci sebagai berikut:
1. Saya menganggap masyarakat kota sebagai masyarakat yang lebih cerdas. Namun dibalik kecerdasanya, masyarakat urban ternyata masih memiliki ketidakrasionalan yang dapat dieksploitasi.
2. Masyarakat metropolitan lebih majemuk. Dimana terdapat akulturasi budaya dalam bermasyarakat. Sehingga lebih mudah menyerap pengaruh suatu trend.
3. Dan yang terakhir, namun yang paling penting. Corak kehidupan masyarakat urban lebih hedonis. Dimana sebenarnya, dengan kecerdasan mereka, mereka masih memiliki ketidakrasionalan yang tinggi dalam pemenuhan jiwa konsumtif mereka.

Oke, berangkat dari asumsi-asumsi diatas, saya menuangkan suatu pandangan mengenai gejala trend fashion yang mewabah masyarakat di kota besar, terutama masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai manusia kita memiliki kebutuhan sandang, yaitu kebutuhan akan pakaian. Selain itu, kita juga memiliki kebutuhan lain yang bersifat abstrak. Yaitu kebutuhan akan keindahan, atau dalam istilah seninya "estetika".
Dari dua kebutuhan itu, lahirlah industri fashion. Industri yang pada awalnya tercipta guna memenuhi kebutuhan pakaian, yang selain untuk menutup aurat juga untuk memperindah penampilan, yang pada akhirnya berubah menjadi suatu trend. Dimana seolah-olah ada kekuatan "diktatoris" yang mengatur gaya apa yang sedang "in" untuk tahun ini, dan apa yang sudah ketinggalan jaman.

Saya sering geli sendiri. Bagaimana mungkin sekumpulan orang, yang menamakan dirinya "trendsetter", mampu mempengaruhi ribuan orang dalam berpakaian. Dengan titah mereka yang bernama "mode", para pengikutnya, yang jumlahnya jutaan, mampu mengkonsumsikan pendapatan mereka secara besar-besaran guna mengikuti titah dari "trendsetter" tersebut. Tas-tas, gaun malam, high heels, dan sebagainya.

Lebih geli lagi, gaya pakaian yang tahun lalu dianggap Fashionable, tahun ini bisa saja dibilang kampungan, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Sedangkan pakaian yang tahun ini dianggap aneh, norak, atau 'gak matching', mungkin tahun depan malah dianggap sebagai mode...haha


Apakah mereka, para pengikut fashion, tidak menyadari mengapa trend tiap tahunya berubah?
Tentu mereka tidak sadar. Karena mereka, dengan segala kecerdasan mereka, termakan oleh ketidakrasionalan jiwa hedonis mereka. Padahal mereka jelas-jelas tertipu oleh industri fashion, yang sengaja menciptakan siklus perubahan trend mode tiap tahun, guna memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Karena siklus tahunan ini adalah kunci utama dunia fashion dalam meraih keuntungan.

Coba anda pikirkan, bila fashion tahun ini sama dengan tahun lalu, tentu industri fashion akan lesu, atau setidaknya tidak semeriah apabila fashion memiliki siklus tahunan. Karena, orang-orang tentu tidak akan terlalu banyak membeli pakaian baru. Mereka hanya akan membeli sebagai koleksi tambahan saja.
Namun apabila siklus tahunan digalakan, tentu para pengikut fashion akan membeli pakaian baru dengan model baru secara besar-besaran. Karena pakaian yang telah dibelinya pada tahun-tahun sebelumnya telah dianggap ketinggalan jaman dan hanya akan menjadi sampah di lemari baju mereka.

Lalu industri fashion, yang sudah kehabisan ide tentang mode apa yang akan dijadikan trend tahun depan, akan kembali mengangkat mode lama. Ketika pakaian-pakaian model itu sudah jarang yang memiliki atau sudah usang di lemari. Sehingga tentu, para pengikut fashion akan tetap membeli pakaian mode tersebut guna mengikuti fashion. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa mode tahun 60an kembali 'booming' di era 80an, dan kembali 'booming' lagi ditahun 2000an?

Oke, dalam bahasan ini saya tidak melarang anda untuk tampil trendi. Tetapi saya hanya ingin memaparkan suatu pandangan, bahwa trend fashion sekarang sudah sangat berlebihan. Dimana logika dikesampingkan demi hedonisme belaka. Saya berpikir, kalo hanya ingin tampil 'trendi', tidak perlu selalu mengikuti trend fashion.. Selalu membeli pakaian mengikuti trend, dan dengan mudah mencampakanya apabila mode berkata sudah ketinggalan jaman.

Apa yang anda kenakan adalah representasi kepribadian anda, jadi apabila anda sering bergonta-ganti gaya pakaian hanya demi mengikuti trend, berarti anda adalah orang yang berkepribadian mudah goyah, mengikuti apa saja yang dikatan pasar, atau bisa dibilang tidak memiliki KEPRIBADIAN..(hehe, sori saya agak kasar, emang sengaja menyentil)

Oke, terakhir saya ingin menyimpulkan. Seberapa seringnya anda berganti gaya mengikuti mode, diri anda tetaplah diri anda. Anda tidak akan menjadi lebih hebat dengan menjadi fashionable, dan malah akan menjadikan diri anda sendiri sebagai korban mode. Kenali diri anda, cari gaya berpakaian yang paling pas merepresentasikan anda. Anda akan terlihat lebih "pure" dengan menjadi diri sendiri.


Wassalam
Gani, yang awalnya mau menulis tentang alokasi dana pendidikan 20% yang belum terealisasi. Tapi urung karena kurang bahan..hehe

1 komentar:

  1. menarik dan bermanfaat nih infonya
    senang sekali bisa mampir ke blog anda
    terimakasih banyak gan

    BalasHapus