Beberapa hari ini karena kebetulan sedang berada dirumah,saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa group di facebook.Beberapa group yang pasti langsung memikat anda,dikarenakan topic group yang “seru”.Group Anti Band Anu,Anti Band Fulan,Band Ini Plagiat,dan lain-lain.Intinya serupa,yaitu mengajukan topik mengenai permusikan lokal kita yang semakin memburuk.Namun setelah menjelajah hingga lepas larut malam,Saya belum menemukan yang saya cari,sebuah solusi kongkrit dan masuk akal.
Yang ada malah pola seperti ini.Di group anti2an itu dibuka discussion board (dengan judul yang kelewat offensive,kekanakan,meaningless),biasanya topiknya berkutat di ranah hujatan saja.Lalu datang comment nimbrung menghujat seperti air bah.Biasanya Cuma berupa sepatah kata cacian tanpa alasan yang relevan yang diulang-ulang.lalu ada satu orang yang memiliki pendapat yang berbeda.Hal ini bukannya ditanggapi dengan Admin memberi alasan rinci,malah disambar seketika dengan “wah…ada yang nge-flame nih…serang gan!!!”.Yang terjadi selanjutnya mudah diprediksi,saling caci maki (kadang2 membawa makian yang jauh keluar konteks),debat kusir absurd keroyokan (faktor mayoritas anak ABG yang join?).Solusi yang diharapkan semakin menjauh dari pandangan.Dan -maaf- ini tidak Cuma terjadi di topik musik,melainkan di segala topik berdasarkan segala isu pro-kontra.Mengapa terjadi seperti ini? Apakah sedemikian buruknya budaya kita untuk sekedar mengakomodasi kegiatan diskusi yang nyaman dan sopan? Mengapa segala discussion group yang mengusung isu krusial ini selalu terjebak pada hal-hal sepele seperti ini ?.Seakan-akan apabila pendapat mereka (tuan rumah group dan antek “idealis”nya) dinegasikan,seluruh harga diri mereka turut jatuh ke Bumi.Budaya kekanakan seperti ini tidak COCOK untuk berdiskusi.Semua akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya (udah keluar konteks nih.hehe)
Sekali lagi,akhirnya selama saya surfing diantara group2 sejenis ini.Tiada satupun solusi tepat yang keluar.Yang ada Cuma saling serang dan saling mengklaim “lo alay…!!!”, “lo yang alay,,an&*&g lo!!! “,sibuk memisahkan band mana yang alay dan “patut dibasmi” dari band yang dianggap “okay,fine..”. dan discussion board Cuma membahas sejauh “mengapa Kangen Band bermuka nelangsa? “ atau “Band-band yang diplagiasi D’Masiv” Saling kick (dikeluarkan dari group) terjadi dimana-mana.Absolutely ABSURD.Sekali lagi,hanya mengeluh,merepet,memaki,tiada solusi.
Padahal,apabila mereka berusaha fokus saja terhadap masalah ini (tanpa segala debat melelahkan tak berujung itu) dan tidak Cuma menyentuh permukaan dari fenomena gunung es ini,saya yakin solusi bisa cepat didapatkan.Maka dari itu,disini saya mencoba memberikan solusi masalah ini.Ini hanyalah analisa amatiran saya,tentu tidak didukung dengan data otentik.Hanya saya merasa ini lebih baik daripada sekedar membuang gerak jari mengetik caci maki tanpa solusi. Saya akan mulai dengan terlebih dahulu mengajak pembaca mengingat salah satu petuah orang bijak dahulu kala.”Sejarah selalu berulang..”
Mari kita flashback kembali ke pertengahan 70-an,era dimana Rahmat Kartolo,Panbers,Tetty Kadi,Obbie Messakh,D’Mercy’s (mengingatkan gua akan D’Masiv) adalah jawara blantika musik Indonesia.Pola musiknya mirip seperti sekarang,ketukan drum lesu,notasi minim kreativitas,dan (tentu) lirik yang menyayat hati setiap pendengar.Sekilas music Indonesia 70-an sudah mentok disini.Tetapi,disuatu lokasi di Jakarta bernama Gang Pegangsaan tersebutlah sekumpulan anak muda yang memilih jalur berbeda.mereka,dengan bakat diatas rata-rata,berusaha untuk melakukan breakthrough dengan segala cara.Kesempatan itu datang tatkala sutradara legend,Teguh Karya meminta seorang pemuda dari Gang Pegangsaan itu untuk mengisi score film terbarunya.Dengan berbekalkan peralatan seadanya,pemuda tersebut mengajak beberapa orang temannya untuk membantunya.Film itu sukses besar.Tetapi kesuksesan score filmnya jauh lebih dahsyat.Bahkan semenjak dirilis menjadi full-album langsung menjadi best-seller dan serta merta langsung meroketkan nama para penciptanya.Ya,benar.Nama album itu (seperti nama filmnya) adalah Badai Pasti Berlalu.Para penciptanya,Eros Djarot,Yockie Suryoprayogo,dan (terutama) Alm. Chrisye langsung menjadi household name musik local,menggeser nama-nama yang lebih dulu disebutkan.
Memasuki dekade 80-an sudah kita pahami semua.Godbless merajai music rock,Fariz RM dengan elektronika uniknya,jazz level dunia dari Krakatau,serta musik-musik kritik apik macam Harry Roesli,Iwan Fals,dan Ebiet G.Ade.Namun diakhir decade 80-an terlihat seperti terjadi pengulangan dari era 70-an.Musik-musik ‘lesu’ seperti Panbers dan Rahmat Kartolo muncul dalam bentuk Dian Piesesha,Nia Daniaty,dan kawan-kawan.Meroketnya musik ini kembali bahkan hingga membuat menteri penerangan saat itu,Harmoko,Membuat statement yang melarang TVRI menayangkan musik-musik ‘cengeng’.
Akan tetapi,trend ini tidak bertahan lama,bukan dikarenakan statement Harmoko tadi,melainkan segera munculnya nama lain yang berasal mula sama seperti anak-anak Gang Pegangsaan.Mereka memilki nama Gang yang berbeda,Gang Potlot.Slank dengan album debutnya yang eksplosif berhasil merebut perhatian khalayak dan kembali menempatkan musik rock ke tahtanya.Melihat bahwa anak-anak muda bisa melakukan terobosan hanya bermodalkan semangat dan kerja keras,Segeralah menyusul band-band yang terinspirasi .Muncullah band-band seperti Dewa 19,Kla Project,dan lain-lain.
Apakah anda sudah mengerti point saya dari serangkaian flashback yang dijabarkan diatas?.Intinya adalah,saya berpendapat bahwa untuk membunuh satu trend diperlukan trend lainnya yang berani menempatkan diri sejajar dengan trend tersebut.Untuk menghabisi satu culture diperlukan counter-culture.Seperti culture Rahmat Kartolo,Panbers dan lain-lain disapu bersih oleh musisi-musisi Gang Pegangsaan seperti Yockie S,Keenan Nasution,Chrisye.Seperti culture neo-sendu awal 90-an dihabisi D.I.Y anak-anak Gang Potlot.
Mari kita lihat apa saja amunisi kita untuk menggencarkan counter-culture dengan segera.Di ranah pop kita memiliki Efek Rumah Kaca,Sore,WSATCC,dan lain-lain.Di jalur rock ada Seringai,Polyester Embassy,The S.I.G.I.T.Hampir tak terhitung! Lalu mengapa perubahan belum terjadi ? seperti saya sebut diatas,counter-culture itu HARUS MENEMPATKAN DIRI SEJAJAR DENGAN CULTURE YANG AKAN DIHABISI.Apakah ini sudah terjadi? Jawabannya belum.Dan mustahil terjadi apabila para scenester kita kerap MENGHUJAT SETIAP BAND YANG INGIN MELEBARKAN SAYAP.
Masih ingat S.I.D ? di tahun 2002 mereka merilis album berjudul Kuta Rock City (masuk daftar majalah Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik Indonesia sepanjang masa) dan langsung dihujani hujatan from the so-called Punk Rock Scene.Koil pun pada 2003 merilis Megaloblast dan langsung dicap “murtad”.Tidak usah jauh-jauh,Rocket Rockers baru-baru ini tampil di Dahsyat dan beberapa kawan saya serta merta mencemooh.Bagaimana caranya kita merubah trend apabila setiap band “indie” tetap tinggal di “bawah tanah” dan menolak pergi ke medan laga? Dan setiap band yang memutuskan pergi ke sana langsung kehilangan support dari rootsnya?.
Penyebab utama adalah memang major label sudah dicap negative sejak dahulu kala.Tetapi apakah dengan Indie Label yang notabene Cuma mencakup regional terbatas kita bisa memulai movement perubahan ? bukankah satu-satunya cara adalah MENGEKSPOS MUSIK KITA SEBESAR-BESARNYA? mari kita pikirkan seperti ini,coba kita bayangkan apabila The Beatles memilih main regular di kafe-kafe kecil Liverpool dan menolak tawaran rekaman.Atau Chuck Berry yang lebih suka menjadi street musician daripada go public.Pastilah musik yang kita dengarkan hari ini Cuma sejenis Motown dari The Supremes,Aretha Franklin,dan paling pol adalah boogie-woogie monoton.Bisa mengerti maksud saya?
PERUBAHAN BISA TERJADI APABILA KITA RUBAH JUGA DIRI KITA.Rubah paradigma! INDIE ITU HAKIKATNYA CUMA BATU LONCATAN,BUKAN JALAN HIDUP.Paradigma seperti itulah yang kita (terutama para musisi) butuhkan.Silakan menghujat saya sebagai sell-out bitch,dll.Tetapi apabila kita terus berdiam di “bawah tanah kita yang nyaman” kapan khalayak bisa mendapat option (dalam konteks ini,option karya musik yang dirilis ke pasar) dan tanpa option,kapankah perubahan yang kita semua idam-idamkan bisa terjadi? Bila kita tidak menunjukkan keberadaan kita,bukankah khalayak akan terus mengkonsumsi segala yang ditawarkan industry music kita? Ingat,masyarakat mainstream menyukai musik yang kita anggap sampah itu bukan karena lirik mendayu-dayu,ketukan lesu,kunci standar.Melainkan karena mereka tidak pernah memiliki alternatif musik lain untuk didengar. DAN INDUSTRI TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MEMASOKNYA.Dilengkapi dengan kemalasan Indie untuk go-public..Lingkaran setan bukan?
Kita butuh untuk merebut ruang-publik itu dari mereka (para pengeruk kuntungan,minim kualitas rilisan),dengan cara mengirimkan segenap amunisi terbaik kita.Rocket Rockers yang sejak kemarin selalu dicemooh karena dianggap “sell-out” akibat tampilnya mereka di TV prime-time.Tapi bagi saya mereka telah melakukan hal yang berani.Mengapa? karena dengan begitu mereka telah berani mengekspos karya mereka ke depan publik mainstream.Mereka telah menunjukkan keberadaan mereka dan scene mereka ke khalayak luas.Inilah yang sesungguhnya kita butuhkan.Kita harus menyerang mereka tepat dimana mereka “bernafas”.Para musisi Indie haruslah beranjak dari “bawah tanah yang nyaman” menuju laga sesungguhnya berada.EKSPOS KARYAMU DIMANA-MANA.TAKE EVERY CHANCES OUT THERE.Tunjukkan bahwa musik seharusnya seperti apa.Hancurkan eksklusifisme dalam bermusik!
Maka dari itu,saya akan terus mensupport band-band Indie yang sudah “beranjak dewasa”.Yang berani menunjukan karya mereka kepada publik yang lebih luas.Inilah buah bakal perubahan.Bukan para musisi yang sok eksklusif,terlalu pengecut menunjukan karya untuk diadu dengan karya-karya yang selama ini mereka nistakan.Dan bukan pula para tukang nyampah di forum2 diskusi maya yang semata-mata Cuma menuju nihilisme akut minim substansi.
“sejarah selalu berulang..” dan kita tinggal memilih.
Rebut,Ubah,Nikmati
MIRZA FAHMI
Selasa, 14 April 2009
Counter-Culture
Rabu, 01 April 2009
Monolog Pesta Demokrasi-Sebuah Parodi Satir
I
Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana
Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya
II
Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya
"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan
III
Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"
Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati
Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri
IV
Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui
V (Epilog)
Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?
Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri
***
Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana
I
Merah kuning dan hijau kalau kata wijhi tukul
Namun sekarang bertambah biru, yamg merah kuning hijau pun berkembang biak
Banteng beranak pinak, pohon beringin apalagi
Matahari jadi dua, satu merah satu biru
Untung Ka'bah masih satu, kalau tidak entah nanti saya sholat akan menghadap kemana
Indonesia memang panas, entah iklimnya, entah suhu politiknya
Bahkan sang banteng yang biasanya berkubang sendiri di lumpur
Kini asyik berteduh dibawah pohon beringin
Apa karena sekarang mataharinya ada dua?
Entahlah, nampaknya memang sang banteng lebih suka berada di ketiak beringin
Nyaman, tanpa harus bersusah payah berkubang di teriknya matahari
Sambil tidur-tiduran, sembari menjilati akar-akarnya
II
Katanya Indonesia kembali swasembada pangan
Pantas saja padi tampak tumbuh liar dimana-mana
Di bawah pohon beringin ada, mungkin mengikuti jejak sang banteng
Songsong atas, condong samping dan tanam bawah, begitu rupanya sang padi berbenih
"Apapun lauknya, nasinya tetaplah dari padi" begitu mereka berdalih
Petani pun jadi bingung, mau memilih padi atau burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa
Tanpa padi, petani bukanlah petani, tapi burung Garuda yang terbang tinggi di angkasa adalah teman para petani
Tidak seperti sang padi, yang jelas-jelas berasal dari petani, tapi sibuk jilat sana-sini, lupa manyanjung petani
Dan malah sibuk bergagah diri, "Indonesia kembali menjadi lumbung padi berkat kami", begitu ujarnya congak
Apa mending pilih partai buruh? yang jelas-jelas berhaluan kiri?
Lagi-lagi padi berujar "Mau lauknya Banteng, Garuda, atau apapun, nasinya kan tetap dari padi"
"Lanjutkan!" kalau kata yang berkuasa, tak mau kalah
"Tidak Poligami!" janji seorang calon dari matahari, entah apa maksud dan tujuanya
"Ah, mending contreng saja yang acara dangdutanya paling megah", kata Basroni si anak petani
"Jangan! pilih yang mensejahterakan rakyat kecil saja, yang memberi uang paling banyak, suka bagi-bagi beras, cepat tanggap sama bencana", kata Sumarni si janda petani
Namun Umar Bakrie si pegawai negeri yang lebih berpendidikan berujar "contreng saja yang sudah kita kenali, karena begitulah seharusnya"
Lalu sang fulan pun menyimpulkan "Berarti kita contreng saja semua, bagaimana? kan hampir semuanya melakukan hal-hal diatas, semuanya kita kenal walau hanya wajahnya saja melalui spanduk yang terpampang di tiap sudut ruang gerak kita"
Semua tertegun, dalam diam mengiyakan nasihat si fulan. Entah siapa sebenarnya sang fulan ini. Ia selalu hadir dalam setiap kisah yang diceritakan Pak Kyiai di Mushola desa, kehadiranya selalu memberi petuah dan pencerahan
III
Memang pesta demokrasi adalah pesta kepentingan
Yang punya hajat berkepentingan untuk menjual komoditi demi simpati
Rakyat kecil pun diuntungkan, "andai saja pemilu setahun sekali", ujar mereka
"Tentu kita tak usah beli baju dan susah payah mencari sesuap nasi,
Acara dangdutan hampir setiap hari, janji manis bertebaran wangi,
Bencana teratasi, petani dipuji-puji"
Bahkan yang mati pun ikut berpartisipasi
Saya dengar kemarin Amrozi yang sudah dieksekusi masih terdaftar untuk nyontreng di ngruki
Entah ini manipulasi atau tidak saya tak peduli
"Orang mati kira-kira milih siapa ya?"
Itu malah yang menggelitik hati
Pesta demokrasi memang mempesona
Yang ga enak ya setelahnya
Sehabis pesta tentu banyak pekerjaan rumah menanti
Yang pesta siapa, yang membersihkan sisanya siapa
Para jawara seolah lupa akan ucapanya
Baru ingat kalau nanti ingin ikut pesta lagi
"Tapi ingat! kalau saya terpilih lagi nanti..." ujar Bu Mega di tiap kampanyenya
Lupa apa sama kelakuanya waktu menjadi ibu negara?
menjual aset sana-sini
Wong cilik dianak-tiri
Koruptor bebas wara-wiri
Kepercayaan rakyat dikebiri
IV
Mungkin saya ingin tidak percaya terhadap demokrasi
Tapi saya kan bukan fasis, pun bukan totalis
Sedikit kiri mungkin, namun masih nasionalis
Kalau saja mereka bukan sekedar politisi, apalagi hanya artis dan musisi
Yang hanya pandai bersandiwara dan bernyanyi lagu yang usang dan basi
Tentang janji yang tak kunjung ditepati
Andai mereka seorang negarawan, yang tidak peduli kampanyenya berhasil "menjual" atau tidak
Tapi lebih peduli akan nasib bangsa, walau tidak ada yang melihat mereka, atau memuji mereka
Mungkin tidak akan begini jadinya
Lihat, rakyat yang dulu bodoh saja sudah muak dengan panggung ini
"Emang kita masih bisa dibego-begoin" ujar seorang pedagang kaki lima yang saya temui
V (Epilog)
Ah besok saya mencontreng atau tidak ya?
Merah Kuning Hijau dan Biru, semua sama saja, hanya bisa janji
atau contreng saja semua seperti kata sang fulan?
Huff..pemilu sebentar lagi, semoga saja tidak sepi dan lantas jadi ajang obral diri
***
Akbar Gani, yang masih bingung siapa sebenarnya si fulan dan kenapa ia begitu bijaksana